16 JUN 2026
Survei WGC: 45% Bank Sentral Siap Tambah Emas, Rekor Tertinggi — De-Dolarisasi Makin Nyata

Foto: FXStreet — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Survei WGC: 45% Bank Sentral Siap Tambah Emas, Rekor Tertinggi — De-Dolarisasi Makin Nyata
Pasar

Survei WGC: 45% Bank Sentral Siap Tambah Emas, Rekor Tertinggi — De-Dolarisasi Makin Nyata

Tim Redaksi Feedberry ·16 Juni 2026 pukul 11.13 · Sinyal tinggi · Sumber: FXStreet ↗
7.3 Skor

Sentimen de-dolarisasi dan pembelian emas bank sentral pada level rekor menciptakan tekanan struktural terhadap USD dan memperkuat harga emas — berdampak langsung pada cadangan devisa RI, emiten tambang emas, dan stabilitas rupiah.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
7
Analisis Komoditas
Komoditas
Emas
Perubahan Harga
naik lebih dari 120% dalam dua tahun terakhir
Proyeksi Harga
Prospek positif didorong oleh permintaan struktural bank sentral dan tren de-dolarisasi. Potensi katalis tambahan dari ketegangan geopolitik dan inflasi yang masih tinggi di beberapa negara.
Faktor Supply
  • ·tidak disebutkan dalam artikel
Faktor Demand
  • ·45% bank sentral berencana menambah cadangan emas dalam 12 bulan ke depan (rekor tertinggi)
  • ·89% responden memperkirakan total cadangan emas bank sentral global akan meningkat
  • ·Faktor pendorong: ketidakpastian geopolitik (90% responden), fungsi store of value (84%), diversifikasi portofolio (83%)
  • ·74% responden memperkirakan porsi dolar AS dalam cadangan global akan menurun

Ringkasan Eksekutif

Survei Central Bank Gold Reserves (CBGR) 2026 yang dirilis World Gold Council (WGC) mencatat rekor baru: 45% bank sentral di dunia berencana menambah cadangan emas dalam 12 bulan ke depan — proporsi tertinggi sepanjang survei. Hanya 1% responden yang memperkirakan pengurangan, sementara 54% memperkirakan tidak ada perubahan. Lebih mencengangkan lagi, 89% responden meyakini total cadangan emas bank sentral global akan meningkat dalam setahun ke depan. Temuan ini muncul di tengah reli harga emas yang sudah melonjak lebih dari 120% dalam dua tahun terakhir, menunjukkan bahwa permintaan dari otoritas moneter tetap sangat kuat meskipun harga sudah di level tinggi. Survei yang dilakukan antara 5 Februari hingga 1 Mei 2026 ini melibatkan para manajer cadangan devisa dari berbagai bank sentral.

Faktor utama yang mendorong minat membeli emas adalah ketidakpastian geopolitik — 90% responden menilai kinerja emas saat krisis sangat relevan bagi organisasi mereka. Selain itu, 84% menyebut peran emas sebagai penyimpan nilai (store of value) dan 83% sebagai diversifikasi portofolio sebagai faktor penting. Data historis menunjukkan akselerasi akumulasi: rata-rata bank sentral membeli 1.000 ton emas per tahun dalam empat tahun terakhir, naik signifikan dari rata-rata 500 ton per tahun dalam satu dekade sebelumnya.

Implikasi paling menarik dari survei ini adalah konfirmasi tren de-dolarisasi. Sebanyak 74% responden memperkirakan porsi dolar AS dalam cadangan devisa global akan menurun secara moderat atau signifikan dalam lima tahun ke depan. Sementara itu, porsi mata uang lain seperti euro (EUR) dan renminbi China (RMB) diperkirakan tetap stabil. Ini menunjukkan bahwa emas semakin dilihat sebagai alternatif strategis menggantikan dolar, terutama oleh negara-negara yang ingin mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan yang didominasi AS. Bagi Indonesia, berita ini memiliki dampak langsung dan tidak langsung. Di sisi positif, reli harga emas yang berkelanjutan menguntungkan emiten tambang emas nasional seperti ANTAM dan produsen emas lainnya. Kenaikan harga emas dalam rupiah bisa memberikan windfall laba bagi perusahaan yang biaya produksinya relatif tetap.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) sebagai pemegang cadangan emas juga diuntungkan secara nilai aset. Namun, yang lebih penting adalah implikasi makro: jika bank sentral global terus menjual dolar untuk membeli emas, tekanan jual terhadap USD akan meningkat.

Dalam jangka menengah, hal ini bisa meredakan tekanan depresiasi terhadap rupiah yang saat ini berada di area tertekan. Namun, efek ini tidak instan dan masih bergantung pada kebijakan Fed serta dinamika geopolitik global.

Mengapa Ini Penting

Survei ini bukan sekadar data sentimen, melainkan indikasi pergeseran struktural dalam sistem cadangan devisa global. Ketika bank sentral — yang merupakan pemegang obligasi pemerintah AS terbesar — mulai beralih dari dolar ke emas, implikasinya terhadap suku bunga global, nilai tukar, dan stabilitas pasar keuangan sangat besar. Bagi Indonesia, tren ini berarti: potensi pelemahan dolar jangka panjang yang bisa membantu rupiah, tetapi juga risiko kenaikan yield global yang menekan biaya utang pemerintah dan korporasi. Di sisi lain, emiten tambang emas nasional menjadi penerima manfaat langsung dari kenaikan harga emas yang didorong permintaan institusional ini.

Dampak ke Bisnis

  • Harga emas yang terus didorong permintaan bank sentral berdampak langsung pada emiten tambang emas di BEI seperti ANTM, MDKA, dan emiten berbasis emas lainnya. Kenaikan harga jual emas dengan biaya produksi yang relatif tetap berpotensi meningkatkan margin laba dan arus kas. Investor yang terpapar saham emas perlu mencermati seberapa besar sensitivitas laba terhadap kenaikan harga emas global.
  • Bank Indonesia sebagai pengelola cadangan devisa juga diuntungkan secara nilai aset karena sekitar 3-5% cadangan devisa Indonesia diperkirakan dalam bentuk emas. Namun, keuntungan ini hanya bersifat unrealized gain dan tidak langsung mempengaruhi likuiditas. Lebih penting lagi, tren de-dolarisasi global bisa mengurangi tekanan pelemahan rupiah dalam jangka menengah, meski masih banyak faktor lain yang mempengaruhi seperti suku bunga Fed dan neraca perdagangan.
  • Bagi sektor keuangan dan perbankan, kenaikan harga emas dapat meningkatkan permintaan terhadap produk pembiayaan emas (gadai emas, kredit emas) yang biasanya memiliki margin menarik. Namun, jika kenaikan harga emas disertai gejolak pasar keuangan global, risiko peningkatan NPL pada sektor komoditas lain perlu diwaspadai.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi pembelian emas oleh bank sentral besar (China, India, Turki, Polandia) dalam 2-3 bulan ke depan — jika volume pembelian sesuai ekspektasi survei, harga emas berpotensi menembus level tertinggi baru.
  • Risiko yang perlu dicermati: respons pasar obligasi AS terhadap penurunan permintaan dari bank sentral — jika yield US Treasury naik signifikan, akan menekan harga SBN dan memicu capital outflow dari Indonesia.
  • Sinyal penting: pergerakan DXY (indeks dolar) — jika terus melemah di bawah level support, konfirmasi tren de-dolarisasi akan memperkuat posisi emas dan meredakan tekanan pada rupiah. Namun, jika penguatan dolar kembali terjadi karena data ekonomi AS yang solid, reli emas bisa tertahan.

Konteks Indonesia

Indonesia termasuk negara dengan cadangan emas yang dimiliki Bank Indonesia, meskipun porsinya relatif kecil dibandingkan dolar AS. Tren akumulasi emas oleh bank sentral global secara tidak langsung menguntungkan Indonesia sebagai produsen emas. Kenaikan harga emas dalam rupiah — yang diperkuat pelemahan kurs — memberikan double benefit bagi emiten tambang emas domestik. Di sisi makro, jika tren de-dolarisasi terus berlanjut, hal ini dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah dalam jangka panjang karena permintaan terhadap dolar dari bank sentral global menurun. Namun, dampaknya tidak langsung dan masih dipengaruhi oleh kebijakan moneter The Fed serta dinamika geopolitik.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.