19 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Makro / Survei SMRC vs PPI: Kepuasan 65%, Elektabilitas 9,8%
Makro

Survei SMRC vs PPI: Kepuasan 65%, Elektabilitas 9,8%

Tim Redaksi Feedberry ·19 Oktober 2026 pukul 14.49 WIB · Sinyal menengah · Sumber: Katadata ↗
5.7 Skor

Selisih antara approval 65,2% dan elektabilitas 9,8% adalah ukuran modal politik yang menentukan kelangsungan program belanja negara, bukan sekadar fluktuasi survei — dampaknya menyentuh vendor program, arah fiskal, dan premi risiko politik di pasar yang sudah risk-off.

Urgensi
4
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Dua survei nasional yang dirilis berdekatan memberi potret bertolak belakang tentang Presiden Prabowo Subianto. Parameter Politik Indonesia mencatat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan di 65,4% dan kepuasan terhadap figur presiden 65,2%, dengan 67% responden meyakini pemerintah mampu menjalankan tugas dan kewajibannya. Sementara SMRC, pada periode 1–10 Oktober 2026, mencatat elektabilitas Prabowo 9,8% — turun tajam dari 34,9% pada November 2025. Dalam simulasi 24 nama, Dedi Mulyadi memimpin dengan 35,5%, disusul Anies Baswedan 10,3%, dan Prabowo 9,8%. Yang luput dari headline: kedua angka itu tidak mengukur objek yang sama, sehingga label "berkebalikan" lebih merupakan kekeliruan kategori ketimbang kontradiksi data. PPI memotret evaluasi kinerja dan efektivitas program sosial harian; SMRC mengukur proyeksi elektoral dalam simulasi pilihan presiden semi-terbuka.

Metodologi keduanya sekelas — PPI melibatkan 1.200 responden tatap muka dengan margin of error 2,83%, SMRC 1.213 responden gabungan telepon dan tatap muka dengan margin of error 2,9%, keduanya pada tingkat kepercayaan 95%. Justru selisih besar antara kepuasan dan elektabilitas itulah sinyal substantifnya: publik memisahkan penilaian atas kinerja pemerintahan dari pilihan politik elektoralnya. Dimensi yang perlu dibaca lebih dalam adalah sumber kepuasan itu sendiri. Program yang dinilai berkinerja terbaik versi PPI — Bantuan Sosial, Sekolah Rakyat, dan Makan Bergizi Gratis — seluruhnya kanal belanja negara. Sementara Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani mengaitkan penurunan elektabilitas dengan kepuasan atas kinerja presiden, kondisi makroekonomi-politik dan penegakan hukum yang dinilai publik buruk, kinerja mengatasi masalah mendesak, serta penilaian negatif atas program MBG dan KDMP.

Artinya basis dukungan bersifat transaksional terhadap eksekusi program: kuat selama penyaluran berjalan, rapuh ketika mutu pelaksanaan dipersoalkan. Konsekuensi praktisnya menyasar rantai pasok program — vendor katering, pemasok protein, penyedia logistik dan cold chain, serta mitra layanan digital Koperasi Desa. Perubahan desain, audit mutu yang lebih ketat, atau penundaan peluncuran menjadi risiko kontrak yang nyata, bukan sekadar risiko politik. Menarik pula bahwa Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menempati urutan teratas pejabat berkinerja terbaik, menandakan prioritas pangan tetap punya legitimasi publik. Konteks pasar tidak memberi kelonggaran. IHSG berada di 4.999, turun 3,60%, USD/IDR di 18.045, dan Brent di US$107,23 atau turun 2,39%, sementara proksi CPO AALI justru naik 0,96% ke 7.900.

Dari sisi eksternal, imbal hasil US Treasury 10 tahun berada di 5,1% dan indeks dolar broad tertimbang-dagang di 121,6 — kombinasi yang secara mekanis menekan aliran modal ke aset negara berkembang dan memperbesar premi risiko. Survei ini tidak menciptakan tekanan tersebut, tetapi menambah lapisan ketidakpastian politik di atas pasar yang sudah risk-off.

Mengapa Ini Penting

Selisih antara kepuasan 65,2% dan elektabilitas 9,8% bukan soal angka mana yang benar, melainkan ukuran modal politik yang menentukan apakah program belanja seperti MBG dan KDMP bertahan dalam bentuk sekarang. Bagi pelaku usaha yang terikat kontrak pengadaan, ini adalah risiko kontinuitas dan risiko perubahan desain — jauh lebih relevan daripada persaingan antarlembaga survei. Yang tidak terlihat: dukungan publik ternyata bertumpu pada penyaluran program, sehingga setiap masalah eksekusi langsung memakan legitimasi politik, dan sebaliknya setiap perbaikan eksekusi bisa memulihkannya lebih cepat dari yang pasar antisipasi.

Dampak ke Bisnis

  • Vendor dan mitra program MBG, Sekolah Rakyat, serta Koperasi Desa Merah Putih menghadapi risiko perubahan desain, audit mutu yang lebih ketat, atau perlambatan peluncuran — karena SMRC secara eksplisit mengaitkan penurunan elektabilitas dengan penilaian negatif atas MBG dan KDMP. Kontrak jangka pendek relatif aman; perpanjangan dan perluasan cakupan yang paling terpapar.
  • Sektor yang tidak disebut artikel tetapi terdampak secara logika rantai pasok: pemasok protein dan bahan pangan, penyedia katering, perusahaan logistik dan cold chain, serta mitra layanan digital koperasi. Pola umum dalam program belanja berskala besar, revisi tata kelola biasanya menaikkan biaya kepatuhan lebih dulu sebelum volume pengadaan menyesuaikan.
  • Di sisi pasar, kombinasi IHSG di 4.999 (-3,60%), USD/IDR di 18.045, imbal hasil US Treasury 10 tahun di 5,1%, dan indeks dolar broad di 121,6 menciptakan lingkungan yang memperbesar premi risiko aset Indonesia. Ketidakpastian politik bukan pemicu utama tekanan, tetapi membuat pemulihan arus modal asing lebih lambat — efeknya baru terasa pada biaya pendanaan korporasi dalam beberapa bulan ke depan, bukan seketika.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: rangkaian survei berikutnya dari SMRC maupun lembaga lain — apakah 9,8% menjadi titik dasar atau berlanjut turun, karena arah tiga survei berturut-turut lebih informatif daripada satu angka.
  • Risiko yang perlu dicermati: respons eksekutif terhadap hasil survei, khususnya evaluasi program MBG dan KDMP atau perombakan kabinet — perubahan struktur pelaksana berpotensi mengubah pagu, jadwal, dan pemegang kontrak pengadaan.
  • Sinyal penting: pergerakan USD/IDR di sekitar 18.045 dan IHSG di 4.999 — jika keduanya bergerak menjauh dari level ini bersamaan dengan berita politik domestik, itu penanda pelaku pasar mulai memberi premi politik pada aset Indonesia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.