10 JUN 2026
Survei Saudi: 75% Dukung AS, Tapi Masyarakat Terbelah Soal Serang Iran

Foto: Asia Times — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Survei Saudi: 75% Dukung AS, Tapi Masyarakat Terbelah Soal Serang Iran
Pasar

Survei Saudi: 75% Dukung AS, Tapi Masyarakat Terbelah Soal Serang Iran

Tim Redaksi Feedberry ·10 Juni 2026 pukul 03.31 · Sumber: Asia Times ↗
7.7 Skor

Sentimen publik Saudi adalah kunci arah eskalasi Timur Tengah, yang langsung memicu volatilitas harga minyak dan tekanan pada fiskal, rupiah, serta pasar modal Indonesia.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Asia Times melaporkan hasil survei independen terhadap lebih dari 300 warga Saudi yang dilakukan sejak Maret 2026. Temuan utamanya: sekitar 75% responden setuju atau sangat setuju Saudi perlu memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat – dukungan yang masif bahkan setelah serangan AS ke Iran pada 28 Februari. Namun, ketika ditanya apakah Saudi harus melancarkan serangan langsung ke lokasi peluncuran rudal Iran, opini publik justru terbelah. Tidak ada mayoritas jelas. Artinya, Meskipun aliansi dengan AS populer, perang terbuka dengan Iran tidak mendapat dukungan bulat di dalam negeri. Survei ini diambil di tengah spekulasi Mei lalu bahwa Saudi telah melakukan serangan rahasia ke Iran, berdasarkan pembekalan pejabat anonim AS dan Iran.

Publikasi hasil jajak pendapat ini memberi sinyal bahwa Pangeran Mohammed bin Salman menghadapi dilema: jika ia ikut serta penuh dalam konflik, risiko ketidakpuasan domestik; jika menarik diri, hubungan dengan AS renggang. Dari sudut pandang Indonesia, dinamika ini sangat relevan karena status Saudi sebagai eksportir minyak utama dan pemain kunci di OPEC. Keraguan Saudi untuk terlibat penuh dapat memperpanjang ketidakpastian di Teluk Persia, terutama menyangkut Selat Hormuz – jalur transit bagi sepertiga minyak dunia. Harga minyak Brent yang terkini di data pasar menyentuh $91,93, naik signifikan sejak eskalasi Februari. Setiap tambahan ketegangan risiko penutupan Selat Hormuz akan langsung mendorong harga lebih tinggi.

Indonesia sebagai importir minyak netto akan merasakan beban ganda: pertama, subsidi BBM dan LPG dalam APBN yang sudah defisit Rp240 triliun hingga Maret 2026 akan semakin tertekan. Kedua, tagihan impor migas yang membengkak memperburuk neraca perdagangan dan memperlemah rupiah, yang saat ini tercatat di level Rp17.990 per dolar AS – mendekati titik terlemah dalam setahun. Ketiga, sentimen risk-off global, ditambah VIX yang masih tinggi di 21,51, berpotensi memicu arus keluar asing dari SBN dan saham domestik, menekan IHSG yang saat ini hanya di 5.874. Sektor transportasi, logistik, dan manufaktur berbasis impor paling rentan.

Di sisi lain, emiten migas hulu bisa diuntungkan oleh harga jual tinggi, namun keuntungan itu dibayang-bayangi risiko makro.

Mengapa Ini Penting

Survei ini menunjukkan bahwa sekutu inti AS di Timur Tengah ragu untuk berkomitmen penuh pada perang melawan Iran. Keraguan Saudi memperpanjang ketidakpastian geopolitik, yang berarti harga energi akan tetap tinggi lebih lama. Bagi Indonesia, ini berarti beban subsidi yang sudah membengkak akan sulit dikendalikan, defisit transaksi berjalan melebar, dan tekanan terhadap rupiah terus berlanjut. Investor perlu memahami bahwa konflik ini bukan sekadar kilat, melainkan berpotensi berlarut-larut karena tidak adanya konsensus di pihak Saudi untuk eskalasi penuh.

Dampak ke Bisnis

  • Tekanan pada APBN dan subsidi energi: Kenaikan harga minyak akibat eskalasi wilayah memaksa pemerintah menambah alokasi subsidi BBM dan LPG. Dengan defisit awal tahun yang sudah tinggi, ruang fiskal menjadi sempit dan belanja produktif bisa terpangkas. Kontraktor proyek infrastruktur dan penerima bansos akan merasakan dampaknya.
  • Beban impor energi dan pelemahan rupiah: Indonesia mengimpor sekitar 40% kebutuhan minyaknya. Setiap kenaikan harga minyak $10 per barel diperkirakan menambah defisit neraca perdagangan migas hingga miliaran dolar. Rupiah yang sudah tertekan ke 17.990 bisa melemah lebih lanjut, meningkatkan biaya impor bahan baku bagi perusahaan manufaktur, farmasi, dan barang modal.
  • Tekanan pada aset keuangan domestik: Sentimen risk-off global mendorong investor asing melepas kepemilikan SBN dan saham blue-chip. IHSG yang stagnan di bawah 6.000 berisiko terkoreksi jika outflow berlanjut. Emiten dengan utang dolar tinggi (sektor properti, infrastruktur, dan telekomunikasi) akan paling terpukul karena beban bunga membengkak.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Saudi – sinyal apakah mereka akan bergabung dalam koalisi militer AS atau tetap di jalur diplomatik. Sikap ini akan menentukan arah premi risiko minyak.
  • Risiko yang perlu dicermati: data volume lalu lintas kapal di Selat Hormuz – jika turun signifikan, pasar akan mengantisipasi gangguan pasokan dan harga minyak bisa melonjak tajam, memicu tekanan langsung ke inflasi dan subsidi Indonesia.
  • Sinyal penting: rilis data CPO dan batu bara Indonesia bulan depan – jika permintaan China melemah di tengah geopolitik, harga komoditas ekspor utama Indonesia bisa turun, mengurangi penerimaan negara dan menambah tekanan pada rupiah.

Konteks Indonesia

Indonesia sangat bergantung pada impor minyak mentah dan BBM untuk kebutuhan domestik. Kenaikan harga minyak global akibat konflik AS-Iran langsung menaikkan beban subsidi energi dalam APBN yang sudah defisit. Selain itu, tekanan pada rupiah dari capital outflow dan kenaikan tagihan impor memperlemah daya beli dan margin bisnis. Hasil survei ini relevan karena menunjukkan bahwa Saudi, mitra AS, tidak sepenuhnya mendukung perang – yang berarti ketidakpastian di kawasan Teluk akan bertahan lama, mempertahankan harga minyak tinggi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.