Survei LPEM UI: 52% Ekonom Nilai Ekonomi RI Memburuk
Survei persepsi bukan data realisasi, tetapi sinyal pasar kerja yang memburuk signifikan secara statistik mengubah bobot risiko dari inflasi ke permintaan tenaga kerja — dan itu menyentuh hampir semua sektor padat karya sekaligus ruang kebijakan BI.
- Indikator
- Indeks persepsi kondisi ekonomi (Survei Ahli Ekonomi LPEM FEB UI)
- Nilai Terkini
- -0,51 (Semester II 2026)
- Nilai Sebelumnya
- -0,39 (Semester I 2026)
- Perubahan
- -0,12 poin
- Tren
- turun
- Sektor Terdampak
- Industri padat karya (tekstil, alas kaki, pengolahan pangan)UMKM dan ritelPerbankan dan pembiayaan konsumsiKetenagakerjaan dan belanja bantalan sosialFiskal (penerimaan pajak penghasilan dan PPN)
Ringkasan Eksekutif
Survei LPEM FEB UI Semester II 2026 menempatkan 33 dari 63 ekonom (52%) menilai kondisi ekonomi Indonesia memburuk dibanding tiga bulan sebelumnya. Rinciannya, 29 ahli (46%) menilai lebih buruk dan empat ahli (6%) menilai jauh lebih buruk. Sebanyak 25 ahli (40%) menyatakan kondisi tidak berubah, lima ahli (8%) menilai membaik, dan tidak ada satu pun responden yang menilai jauh lebih baik. Rata-rata penilaian terhadap kondisi ekonomi saat ini turun ke minus 0,51 dari minus 0,39 pada survei Semester I 2026, meski LPEM menegaskan selisih itu tidak signifikan secara statistik. Tekanan harga tetap menjadi keluhan paling merata: 49 dari 63 ahli (78%) menilai tekanan inflasi terhadap perekonomian tinggi, terdiri dari 44 ahli (70%) menilai tinggi dan lima ahli (8%) sangat tinggi.
Sebanyak 13 ahli (21%) bersikap netral dan satu ahli (2%) menilai rendah. Rata-rata penilaian tekanan inflasi naik ke positif 0,84 dari positif 0,71 pada semester sebelumnya — juga tanpa signifikansi statistik. Dengan rupiah berada di 18.128 per dolar AS dan Brent di US$113,57 setelah naik 2,50%, tekanan biaya impor dan energi memang sedang bekerja nyata di sisi input, bukan sekadar persepsi. Yang justru luput dari sorotan adalah pasar kerja. Sebanyak 46 dari 63 ahli (73%) menilai penciptaan lapangan kerja lebih rendah dibanding enam bulan lalu, dengan 30 ahli (48%) menilai lebih rendah dan 16 ahli (25%) jauh lebih rendah. Hanya 15 ahli (24%) melihat kondisi tidak berubah dan dua ahli (3%) menilai lebih tinggi.
Rata-rata penilaian pasar tenaga kerja turun dari minus 0,55 ke minus 0,95, dan LPEM mencatatnya sebagai satu-satunya perubahan yang signifikan secara statistik di antara indikator persepsi yang dibandingkan. Inilah inti yang tidak terbaca dari headline: ekonom tidak sedang mempersoalkan inflasi yang naik — angka itu praktis stagnan secara statistik — melainkan melemahnya mesin penciptaan kerja. Kombinasi tersebut menggambarkan persepsi bergaya stagflasi: biaya hidup tertekan dari sisi harga, sementara kapasitas ekonomi menyerap tenaga kerja melemah. Implikasinya menjalar ke sektor yang tidak disebut survei. Industri padat karya — tekstil, alas kaki, pengolahan pangan, serta UMKM — adalah yang pertama merasakan bila permintaan domestik melambat dan biaya input naik bersamaan.
Kualitas kredit perbankan berpotensi tertekan lebih dulu di segmen konsumsi dan mikro sebelum muncul di rasio kredit bermasalah. Dari sisi fiskal, penciptaan kerja yang lemah menggerus basis pajak penghasilan dan penerimaan PPN, sehingga ruang belanja negara menyempit tepat ketika kebutuhan bantalan sosial meningkat. Untuk 1–4 minggu ke depan,
Mengapa Ini Penting
Ini bukan sekadar jajak pendapat: satu-satunya pergerakan yang lolos uji signifikansi statistik adalah pasar kerja, bukan inflasi. Artinya kaum profesional yang paling dekat dengan data melihat masalahnya di sisi permintaan tenaga kerja, bukan di sisi harga. Konsekuensi kebijakannya berbeda arah — respons terhadap inflasi adalah pengetatan moneter, sedangkan respons terhadap lemahnya penciptaan kerja menuntut pelonggaran dan stimulus fiskal. Ketika keduanya terjadi bersamaan, bank sentral kehilangan opsi yang nyaman, dan itu yang belum tercermin di narasi pasar.
Dampak ke Bisnis
- Sektor padat karya — tekstil, alas kaki, pengolahan pangan, dan UMKM — menghadapi kombinasi biaya input yang naik akibat rupiah di 18.128 dan Brent di US$113,57, sementara daya serap tenaga kerja melemah. Tekanan margin muncul dari dua sisi sekaligus, bukan satu.
- Perbankan dan multifinance berpotensi mencatat pelemahan kualitas kredit lebih dulu di segmen konsumsi dan mikro, karena penilaian 73% ekonom soal penciptaan kerja yang lebih rendah adalah sinyal awal pendapatan rumah tangga yang tidak tumbuh.
- Yang sering terlewat: melemahnya penciptaan kerja menggerus basis pajak penghasilan dan konsumsi, sehingga tekanan penerimaan negara meningkat justru saat kebutuhan belanja bantalan sosial naik — kombinasi yang membatasi ruang fiskal untuk merespons dalam 3–6 bulan ke depan.
- Bagi pemilik merek ritel dan barang konsumsi menengah, risiko terbesarnya bukan inflasi harga barang, melainkan pergeseran pola belanja rumah tangga yang menahan konsumsi sekunder ketika lapangan kerja tidak pasti.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: rilis inflasi bulanan BPS, khususnya komponen pangan bergejolak — bila masih naik sementara persepsi pasar kerja memburuk, narasi stagflasi menguat dan ruang penurunan suku bunga BI menutup.
- Risiko yang perlu dicermati: arah USD/IDR dari level 18.128 — pelemahan lanjutan menaikkan biaya bahan baku impor bagi industri padat karya yang marginnya sudah tipis akibat lemahnya serapan kerja.
- Sinyal penting: pernyataan Bank Indonesia berikutnya — apakah komunikasi menekankan jangkar ekspektasi inflasi atau mulai mengakui pelemahan sisi permintaan; pergeseran penekanan ini menandakan prioritas kebijakan yang berubah.
- Sinyal penting: data ketenagakerjaan resmi berikutnya — bila mengonfirmasi arah survei LPEM, tekanan pada konsumsi rumah tangga dan kualitas kredit konsumsi menjadi lebih terukur.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.