11 JUN 2026
Survei Eropa: Hanya 11% Percaya AS Sekutu — Sinyal Pergeseran Aliansi Global

Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / Survei Eropa: Hanya 11% Percaya AS Sekutu — Sinyal Pergeseran Aliansi Global
Makro

Survei Eropa: Hanya 11% Percaya AS Sekutu — Sinyal Pergeseran Aliansi Global

Tim Redaksi Feedberry ·10 Juni 2026 pukul 14.50 · Sumber: CNBC Indonesia ↗
6 Skor

Perubahan persepsi keamanan di Eropa bersifat struktural dan berdampak luas pada aliansi, perdagangan, dan arus modal global; Indonesia yang sedang tertekan fiskal menjadi lebih rentan terhadap ketidakpastian eksternal.

Urgensi
6
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
4

Ringkasan Eksekutif

Survei European Council on Foreign Relations (ECFR) di 15 negara Eropa pada Mei 2026 mengungkapkan kepercayaan publik Eropa terhadap jaminan keamanan Amerika Serikat merosot ke titik terendah. Hanya 11% responden yang masih memandang AS sebagai sekutu, turun drastis dari 16% enam bulan lalu dan 22% pada November 2024. Mayoritas kini menganggap AS sekadar 'mitra yang diperlukan', bahkan 13% menyebutnya sebagai rival dan 12% sebagai musuh langsung. Hilangnya keyakinan bahwa Washington akan membantu jika negara Eropa diserang menjadi temuan paling mencolok—kecuali Bulgaria, mayoritas di semua negara lebih percaya negara tetangga Eropa akan memberikan bantuan.

Penurunan kepercayaan ini didorong oleh kebijakan kontroversial Presiden Donald Trump: sikap agresif di Timur Tengah, ancaman terhadap Greenland, wacana penarikan pasukan dari pangkalan militer Eropa, dan keraguan terhadap masa depan NATO. Meski demikian, banyak responden tetap optimistis hubungan transatlantik akan membaik setelah Trump tidak lagi menjabat. Temuan ini muncul menjelang pertemuan puncak G7 dan NATO dalam beberapa pekan mendatang, memperkuat tekanan diplomatik bagi pemerintahan AS. Implikasinya melampaui dimensi keamanan: perubahan persepsi ini dapat memicu realokasi belanja pertahanan Eropa, pergeseran aliansi ekonomi, dan peningkatan volatilitas di pasar keuangan global. Investor global cenderung mencari safe haven ketika ketidakpastian geopolitik naik, yang berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko termasuk emerging markets.

Bagi Indonesia, yang tengah menghadapi pelemahan rupiah, defisit fiskal lebar, dan capital outflow, lingkungan eksternal yang tidak stabil menambah beban sentimen. Namun, jika Eropa meningkatkan belanja pertahanan dan memperluas kemitraan ekonomi dengan kawasan Asia, Indonesia bisa memperoleh peluang dagang dan investasi baru—meski dalam jangka pendek risiko lebih dominan. Dalam 1-4 minggu ke depan,

Mengapa Ini Penting

Survei ini bukan sekadar indikator sentimen publik—ia merekam pergeseran struktural dalam hubungan transatlantik yang menjadi landasan stabilitas global pasca-Perang Dingin. Jika Eropa mulai mengurangi ketergantungan pada AS, realokasi anggaran pertahanan, diversifikasi mitra strategis, dan potensi friksi perdagangan akan menciptakan ketidakpastian baru bagi investor global. Indonesia, dengan fundamental fiskal yang sedang tertekan dan rupiah di level terlemah, menjadi lebih rentan terhadap perubahan persepsi risiko ini karena capital outflow dapat semakin deras dan biaya utang pemerintah naik apabila investor global memilih bersikap wait-and-see.

Dampak ke Bisnis

  • Sektor pertahanan Eropa akan diuntungkan secara langsung: peningkatan belanja militer membuka peluang bagi produsen senjata dan teknologi pertahanan di Eropa, serta secara tidak langsung bagi pemasok komponen dari kawasan Asia, termasuk Indonesia yang memiliki basis industri pertahanan terbatas namun potensial.
  • Pasar keuangan global berpotensi mengalami peningkatan volatilitas, terutama jika ketidakpastian transatlantik mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti emas, dolar AS, dan obligasi pemerintah AS. Hal ini akan menekan IHSG dan obligasi Indonesia yang sudah dalam tekanan akibat outflow asing dan defisit APBN yang lebar.
  • Peluang diversifikasi ekonomi bagi Indonesia: jika Eropa mempererat hubungan dagang dengan Asia sebagai kompensasi berkurangnya kepercayaan pada AS, sektor ekspor Indonesia (komoditas, tekstil, dan produk manufaktur) bisa mendapatkan akses pasar baru. Namun, efek ini baru terasa dalam jangka menengah dan bergantung pada kebijakan konkret Uni Eropa.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: hasil pertemuan puncak G7 dan NATO dalam beberapa pekan mendatang—apakah ada pernyataan bersama yang mengubah arsitektur keamanan Eropa, serta respons pasar saham dan obligasi global terhadap dinamika tersebut.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi peningkatan capital outflow dari emerging markets, termasuk Indonesia, jika investor global menilai ketidakpastian geopolitik transatlantik akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia dan mengurangi minat pada aset berisiko.
  • Sinyal penting: pergerakan indeks dolar AS dan VIX—jika DXY menguat di atas 100 dan VIX menembus 25, itu menandakan risk-off yang dapat memperburuk tekanan pada rupiah dan IHSG; sebaliknya, jika VIX tetap di bawah 20, pasar masih tenang dan dampak survei ini bersifat sementara.

Konteks Indonesia

Bagi Indonesia, survei ini menambah daftar ketidakpastian global di tengah kondisi domestik yang sudah rapuh. Rupiah yang telah melemah ke area Rp17.966 dan IHSG di 5.902 sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global. Jika ketidakpercayaan Eropa terhadap AS memicu gelombang risk-off, capital outflow dari Indonesia bisa berlanjut, memperlebar defisit fiskal dan menekan cadangan devisa. Di sisi lain, jika Eropa merespons dengan membuka kerja sama ekonomi lebih dalam dengan Asia, Indonesia memiliki peluang memperkuat ekspor non-migas dan menarik investasi di sektor infrastruktur dan energi terbarukan. Namun, dampak positif tersebut membutuhkan waktu dan stabilitas kebijakan domestik yang belum terjamin.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.