13 JUN 2026
Stok Perak Global Susut Drastis — Defisit Tahun Keenam, Harga Terbang 127%

Foto: MINING.com — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Stok Perak Global Susut Drastis — Defisit Tahun Keenam, Harga Terbang 127%
Pasar

Stok Perak Global Susut Drastis — Defisit Tahun Keenam, Harga Terbang 127%

Tim Redaksi Feedberry ·12 Juni 2026 pukul 22.03 · Sinyal tinggi · Sumber: MINING.com ↗
4.3 Skor

Penarikan stok perak signifikan di COMEX dan LBMA, namun dampak langsung ke Indonesia terbatas karena bukan konsumen/produsen utama; relevan sebagai sentimen sektor logam mulia dan indikasi tekanan pasokan global.

Urgensi
6
Luas Dampak
4
Dampak Indonesia
3
Analisis Komoditas
Komoditas
Perak
Harga Terkini
US$75 per ons
Perubahan Harga
naik 127% dari US$33 per ons setahun sebelumnya
Proyeksi Harga
Defisit diperkirakan berlanjut untuk tahun keenam, mendukung harga di level tinggi; namun stok di atas tanah yang masih besar dan potensi peningkatan produksi tambang bisa menahan kenaikan lebih lanjut. Perdebatan metodologi defisit menambah ketidakpastian.
Faktor Supply
  • ·Penurunan stok terdaftar di COMEX dan vault holdings LBMA
  • ·Transfer logam masif dari London ke New York yang memperketat kondisi fisik
  • ·Defisit struktural yang diproyeksikan enam tahun beruntun
Faktor Demand
  • ·Permintaan industri (elektronik, panel surya) yang stabil
  • ·Arus investasi yang menyebabkan pergeseran stok antar pusat perdagangan
  • ·Permintaan safe-haven saat ketidakpastian global tinggi

Ringkasan Eksekutif

Stok perak di dua pusat perdagangan logam mulia terbesar dunia menyusut tajam dari puncak era pandemi, menandakan tekanan pasokan yang semakin nyata. Di COMEX New York, perak terdaftar yang siap diserahkan untuk kontrak berjangka hanya tersisa sekitar 79,9 juta ons pada pertengahan Mei, ambles lebih dari 75% dari level tertinggi tahun 2020. Sementara itu, vault holdings yang dilaporkan LBMA di London mencapai 27.454 ton (sekitar 883 juta ons) pada akhir April, turun sekitar 20% dari rekor 34.346 ton pada Januari 2021. Penurunan ini memperkuat narasi pasokan yang mengetat, setelah harga perak sempat menyentuh US$121 per ons pada Januari sebelum koreksi tajam ke kisaran US$75 per ons pada akhir Mei — naik 127% dari US$33 per ons setahun sebelumnya.

Menurut World Silver Survey 2026 yang dirilis Silver Institute, pasar perak global berada dalam defisit 46,3 juta ons tahun ini, yang akan menjadi defisit tahun keenam berturut-turut. Sejak 2021, total 762 juta ons telah ditarik dari stok di atas tanah, menurut survei tersebut. Namun, tidak semua analis sepakat bahwa defisit ini bersifat struktural. Jeffrey Christian dari CPM Group berpendapat bahwa angka defisit sangat bergantung pada bagaimana arus investasi dan pergerakan inventaris diperlakukan dalam kerangka akuntansi. Begitu arus investasi dipisahkan dari konsumsi industri, gagasan tentang kekurangan tahunan menjadi kabur. J.P.

Morgan juga mencatat bahwa stok di atas tanah masih cukup besar untuk menyeimbangkan pasar, meskipun transfer logam dari London ke New York yang deras telah menciptakan kondisi fisik yang lebih ketat dan meningkatkan volatilitas. Perdebatan ini penting karena akan menentukan arah harga jangka menengah. Jika defisit benar-benar struktural, harga perak bisa terus berada di level tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Sebaliknya, jika hanya pergeseran inventaris sementara, harga berisiko koreksi setelah aliran investasi berbalik. Dampak terhadap Indonesia relatif terbatas karena Indonesia bukan produsen atau konsumen perak utama. Namun, tren kenaikan logam mulia secara umum memberikan tailwind bagi emiten tambang emas dalam negeri seperti Antam dan Merdeka Copper Gold, yang sering memiliki produk sampingan perak.

Di sisi lain, industri yang menggunakan perak sebagai bahan baku — produsen panel surya, elektronik, atau perhiasan — akan menghadapi kenaikan biaya input yang dapat menekan margin. Dalam konteks pasar domestik saat ini, dengan IHSG di 6.008, rupiah di 17.916 per dolar AS, dan sentimen risk-off global masih tinggi, kenaikan harga logam mulia seperti perak dan emas menjadi salah satu sektor yang relatif defensif. Ke depan,

Mengapa Ini Penting

Penurunan stok perak global ini bukan sekadar angka inventaris — ini adalah sinyal bahwa pasar komoditas logam mulia sedang mengalami ketidakseimbangan pasokan-permintaan yang bisa memicu volatilitas harga berkelanjutan. Bagi Indonesia, dampaknya tidak langsung namun tetap relevan: harga logam mulia yang tinggi mendukung kinerja emiten tambang emas dalam negeri, sementara kenaikan biaya input perak dapat membebani industri manufaktur tertentu. Lebih penting lagi, perdebatan tentang metodologi defisit perak mengingatkan investor bahwa tidak semua klaim 'kekurangan pasokan' harus diterima mentah-mentah — pemahaman tentang komposisi stok (investasi vs industri) krusial untuk menilai keberlanjutan kenaikan harga.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten tambang emas dalam negeri seperti ANTM dan MDKA berpotensi menikmati tailwing dari kenaikan harga logam mulia secara umum, karena perak sering menjadi produk sampingan. Margin laba mereka bisa terdorong jika tren harga tinggi bertahan.
  • Industri manufaktur yang menggunakan perak sebagai bahan baku — terutama produsen panel surya, komponen elektronik, dan perhiasan — akan menghadapi kenaikan biaya input. Jika harga perak terus berada di atas US$70/oz, margin keuntungan bisa tergerus 2-5% tergantung proporsi perak dalam produk.
  • Sektor jasa penyimpanan dan logistik logam mulia global mungkin akan meningkat aktivitasnya seiring dengan upaya diversifikasi gudang, seperti diisyaratkan oleh inisiatif SILVER Act AS. Namun, dampaknya ke Indonesia masih minimal karena tidak ada gudang logam mulia berskala besar di dalam negeri.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: data stok perak COMEX dan LBMA bulan depan — jika penurunan berlanjut di atas 5% per bulan, tekanan harga akan semakin kuat.
  • Risiko yang perlu dicermati: respons sisi suplai, terutama peningkatan produksi tambang perak global yang bisa membanjiri pasar dan membalikkan harga — pantau laporan produksi kuartalan dari produsen perak besar seperti Fresnillo dan Pan American Silver.
  • Sinyal penting: kebijakan India yang memperketat impor perak (artikel terkait 6) — jika benar-benar diterapkan, India sebagai importir perak terbesar dunia bisa mengurangi permintaan signifikan, menekan harga. Sebaliknya, jika permintaan India tetap kuat meski ada regulasi, sinyal bullish.

Konteks Indonesia

Dampak langsung terhadap Indonesia terbatas karena Indonesia bukan produsen atau konsumen perak utama. Namun, kenaikan harga perak dan emas secara simultan dapat mendorong minat investor ke sektor tambang emas dalam negeri (ANTM, MDKA) yang sering memiliki produk sampingan perak. Di sisi lain, industri yang menggunakan perak — seperti produsen panel surya, komponen elektronik, dan perhiasan — akan menghadapi kenaikan biaya input. Secara makro, harga logam mulia yang tinggi berkontribusi pada sentimen risiko global; jika investor menganggap logam mulia sebagai safe haven, arus modal bisa mengalir ke aset tersebut dan mengurangi tekanan keluar dari pasar saham negara berkembang termasuk Indonesia. Namun, efek ini tidak signifikan mengingat perak bukan komponen utama dalam portofolio investor Indonesia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.