23 JUN 2026
Solana Kuasai 95% Ekuitas Tokenisasi, SOL Terkoreksi 77% — Pasar Menanti Kepastian Bottom

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Solana Kuasai 95% Ekuitas Tokenisasi, SOL Terkoreksi 77% — Pasar Menanti Kepastian Bottom
Forex & Crypto

Solana Kuasai 95% Ekuitas Tokenisasi, SOL Terkoreksi 77% — Pasar Menanti Kepastian Bottom

Tim Redaksi Feedberry ·22 Juni 2026 pukul 19.17 · Sumber: Cointelegraph ↗
7 Skor

Volume tokenized equity Solana melonjak 5x dalam sebulan, tetapi TVL masih jauh di bawah puncak siklus dan analis terpecah soal bottom SOL — berdampak langsung ke sentimen investor kripto Indonesia yang aktif.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Solana mencatat rekor mingguan volume perdagangan ekuitas tokenized sebesar USD 1,29 miliar, menguasai 95% aktivitas di seluruh rantai. Lonjakan ini didorong oleh peluncuran token IPO SpaceX (SPCX) yang memicu euforia spekulatif. Padahal, berdasarkan laporan terkait, tokenized shares SpaceX justru gagal total karena Kraken selaku penyedia infrastruktur tidak mampu memenuhi alokasi saham riil yang oversubscribed 4 kali lipat. Artinya, volume besar itu kemungkinan besar berasal dari derivatif perpetual, bukan saham tokenized sesungguhnya — ini koreksi penting yang membedakan antara volume spekulatif vs kepemilikan aset riil. Total value locked (TVL) Solana saat ini sekitar USD 5,7 miliar, masih di bawah puncak siklus USD 13 miliar pada September 2025, menunjukkan bahwa partisipasi modal DeFi belum pulih meskipun aktivitas transaksi tinggi.

Harga SOL sendiri telah turun 77% dari level tertinggi siklus di USD 295 ke USD 60, memicu perdebatan sengit di antara analis soal apakah harga sudah mencapai dasar. Trader Ardi memproyeksikan bahwa berdasarkan pola historis Bitcoin dan Ether, koreksi 80-85% akan menempatkan SOL di kisaran USD 45-60 — zona akumulasi paling menarik. Bluntz melihat potensi bullish divergence RSI mingguan yang sering muncul di dekat titik terendah pasar. Sementara Dyme memperingatkan bahwa Solana butuh sekitar 500 hari sideways (Mei 2022-Oktober 2023) sebelum pulih, menunjukkan bahwa fase konsolidasi saat ini mungkin masih panjang. Analis HORSE mengingatkan bahwa SOL masih diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan 50 dan 200 mingguan, dan breakout di atas USD 90 diperlukan untuk sinyal teknis yang lebih kuat.

Bagi investor Indonesia, perdebatan ini krusial. Pasar kripto domestik yang didominasi investor ritel sangat sensitif terhadap pergerakan harga SOL dan Bitcoin. Jika SOL benar-benar membentuk bottom di kisaran USD 45-60, reli berikutnya bisa mendorong kembali minat beli di exchange lokal seperti Indodax, Tokocrypto, dan Pintu. Namun, jika justru terjadi breakdown ke bawah USD 45, tekanan jual bisa meluas dan memperburuk sentimen risk-off yang sudah membebani rupiah serta IHSG. Peristiwa gagalnya tokenized shares SpaceX juga memberikan pelajaran penting: teknologi blockchain saja tidak menjamin akses ke saham riil jika bottleneck distribusi IPO tradisional tidak terselesaikan. Regulator Indonesia (Bappebti/OJK) yang tengah menyusun kerangka aset digital patut mencermati insiden ini agar tidak menciptakan celah regulasi yang merugikan investor ritel. Ke depan,

Mengapa Ini Penting

Perdebatan bottom SOL bukan sekadar spekulasi kripto, melainkan indikator risk appetite global yang memengaruhi aliran modal ke aset berisiko termasuk emerging market. Jika SOL membentuk dasar yang durable, reli altcoin biasanya mendorong peningkatan volume di exchange Indonesia dan memperbaiki sentimen investor ritel. Sebaliknya, breakdown ke level lebih rendah bisa memperpanjang fase risk-off dan menekan rupiah serta IHSG lebih dalam, mengingat korelasi tinggi antara kripto dan saham teknologi global.

Dampak ke Bisnis

  • Ekosistem exchange kripto Indonesia: Lonjakan volume SOL dan tokenized equity menarik minat trader baru, meningkatkan pendapatan dari fee transaksi. Namun, jika harga SOL turun di bawah USD 45, volume perdagangan bisa menyusut drastis, menekan margin platform seperti Indodax, Tokocrypto, dan Pintu yang bergantung pada volume ritel.
  • Portofolio investor ritel Indonesia: Banyak investor kripto Indonesia memiliki eksposur ke Solana melalui pembelian langsung di exchange lokal. Koreksi 77% dari puncak telah menghapus nilai signifikan. Jika bottom terkonfirmasi, investor bisa mulai akumulasi, tetapi jika gagal, kerugian lebih besar dapat memicu aksi jual panik yang merembet ke aset lain.
  • Regulasi dan produk tokenized di Indonesia: Kegagalan tokenized shares SpaceX memberikan pelajaran bagi OJK dan Bappebti untuk tidak sekadar mengadopsi teknologi blockchain tanpa jaminan alokasi saham riil. Ini dapat memperlambat peluncuran produk serupa oleh exchange lokal, atau mendorong regulasi yang lebih ketat terkait kewajiban settlement underlying shares.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: level harga SOL di USD 60 — jika tertembus ke bawah, support berikutnya di USD 45 (zona akumulasi Ardi). Sebaliknya, jika SOL mampu bertahan dan menembus USD 90, konfirmasi bottom teknis akan menguatkan narasi bullish.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi likuidasi besar-besaran jika SOL turun di bawah USD 55, mengingat banyak posisi leveraged di exchange derivatif. Lonjakan likuidasi bisa memicu tekanan jual tambahan yang merembet ke Bitcoin dan altcoin lain.
  • Sinyal penting: arus dana masuk ETF Solana spot di AS — jika ETF mencatat inflow positif berturut-turut selama seminggu, itu menjadi konfirmasi minat institusional. Sebaliknya, outflow besar dapat mengindikasikan bahwa investor institusi masih wait and see.

Konteks Indonesia

Meskipun Solana adalah blockchain global, pergerakan harganya berdampak langsung ke Indonesia karena tingginya partisipasi investor ritel di pasar kripto domestik. Volume perdagangan kripto Indonesia, yang didominasi Bitcoin dan altcoin populer, sangat sensitif terhadap sentimen pasar global. Jika SOL berhasil membentuk bottom, reli berikutnya dapat mendorong peningkatan volume di exchange lokal dan memperbaiki mood investor yang saat ini tertekan oleh pelemahan rupiah dan IHSG. Selain itu, peristiwa tokenized equities (termasuk gagalnya token SpaceX) menjadi masukan berharga bagi regulator Indonesia yang tengah menyusun kerangka aset digital. OJK dan Bappebti perlu memastikan bahwa produk tokenized yang diizinkan di Indonesia memiliki mekanisme settlement yang jelas dan jaminan alokasi underlying assets, agar investor ritel tidak mengalami kerugian akibat bottleneck distribusi seperti yang terjadi pada IPO SpaceX.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.