5 SEP 2026
SCO 25 Tahun: Blok Tanpa Arah — Rivalitas India-China Bayangi Perdagangan Asia

Foto: Asia Times — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / SCO 25 Tahun: Blok Tanpa Arah — Rivalitas India-China Bayangi Perdagangan Asia
Makro

SCO 25 Tahun: Blok Tanpa Arah — Rivalitas India-China Bayangi Perdagangan Asia

Tim Redaksi Feedberry ·5 September 2026 pukul 05.41 · Sinyal menengah · Sumber: Asia Times ↗
6.3 Skor

Ketegangan diplomatik di SCO mencerminkan fragmentasi geopolitik Asia — berdampak pada sentimen pasar, arus modal, dan posisi Indonesia di antara kekuatan besar.

Urgensi
7
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

Shanghai Cooperation Organization (SCO) merayakan 25 tahun berdiri di Bishkek, Kirgizstan, pada 1 September 2026 — tetapi perayaan itu justru memperlihatkan keretakan internal yang mendalam. Sebanyak 21 kepala negara hadir, dan 28 kesepakatan ditandatangani, termasuk kerja sama keselamatan nuklir. Namun, pidato para pemimpin lebih banyak menyampaikan pesan untuk konsumsi domestik daripada membangun konsensus blok. Perdana Menteri India Narendra Modi terang-terangan menyerang Pakistan tanpa menyebut nama, menyinggung masalah terorisme dan kedaulatan wilayah. Ini sinyal bahwa SCO — yang mewakili sekitar seperempat populasi dunia dan 23–25% PDB global — tidak lebih dari forum bilateral paralel, jauh dari fungsi sebagai wasit sengketa antaranggota. Ketiadaan mekanisme penyelesaian konflik menjadikan SCO sebagai panggung pencitraan, bukan institusi yang mampu meredam ketegangan.

Posisi Modi dalam pidatonya juga menyasar China dan Rusia. Ajakan untuk menghormati kedaulatan dan integritas wilayah semua negara merupakan kritik terselubung terhadap perang di Ukraina dan klaim Beijing atas Kashmir yang dikelola Pakistan. Ini menciptakan dinamika tiga arah yang rumit: India berseberangan dengan Pakistan dan China, sementara Rusia membutuhkan China sebagai mitra strategis tetapi juga menjaga hubungan dengan India. Bagi Asia, ketegangan ini berarti blok regional seperti SCO tidak dapat diandalkan untuk stabilitas ekonomi. Potensi konflik di jalur perdagangan darat Belt and Road, yang melintasi Kashmir, menjadi risiko langsung bagi arus barang antara Asia Selatan dan Asia Tengah. Jika ketegangan meningkat, biaya logistik dan asuransi kargo naik, dan negara-negara yang bergantung pada jalur tersebut akan merasakan dampaknya.

Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan dalam dua hal. Pertama, sebagai negara yang selama ini menjalankan politik luar negeri bebas aktif, Indonesia tidak terikat pada blok mana pun — tetapi ia tetap terkena dampak fragmentasi ekonomi global. Ketika India dan China bersaing memperebutkan pengaruh, Indonesia justru bisa menjadi tujuan diversifikasi rantai pasok, terutama untuk sektor manufaktur dan komoditas. Kedua, nilai tukar rupiah dan IHSG rentan terhadap guncangan sentimen global. Data pasar terbaru menunjukkan IHSG di level 6.636, sementara rupiah berada di sekitar Rp17.633 per dolar AS — level yang mencerminkan tekanan eksternal yang masih signifikan. Jika ketegangan SCO meluas menjadi konflik terbuka, misalnya di perbatasan India-China, sentimen risk-off bisa menekan aset berisiko Asia, termasuk Indonesia.

Namun, pasar tampaknya belum menggolongkan risiko ini sebagai ancaman langsung. Indeks VIX di level 14,32 masih menunjukkan lingkungan risk-on yang relatif tenang. Imbal hasil obligasi AS 10 tahun di 4,77% dan spread yield 10Y-2Y yang positif tipis mengindikasikan pertumbuhan global masih diharapkan stabil. Untuk Indonesia, sinyal

Mengapa Ini Penting

SCO gagal menjadi institusi penyelesaian konflik — ini memperkuat tren fragmentasi geopolitik yang membuat perjanjian dagang dan rantai pasok Asia semakin tidak stabil. Bagi Indonesia, yang mengandalkan ekspor komoditas ke China dan India, ketegangan antar dua raksasa itu bisa mengubah permintaan sekaligus menciptakan tekanan pada nilai tukar. Lebih jauh, jika India menjauh dari China dan mendekati Barat, peta investasi asing di Asia berubah — Indonesia bisa kehilangan atau mendapatkan peluang tergantung pada posisinya dalam rantai pasok global.

Dampak ke Bisnis

  • Eksportir komoditas ke China dan India — jika ketegangan memicu perlambatan impor salah satu negara, harga batu bara, nikel, dan CPO bisa tertekan karena kedua negara adalah pembeli utama komoditas Indonesia.
  • Emiten dengan utang dalam dolar dan ketergantungan impor — karena potensi risk-off dapat memperlemah rupiah lebih jauh dari level Rp17.633 saat ini, menaikkan beban bunga dan biaya bahan baku.
  • Sektor infrastruktur dan logistik yang terhubung ke proyek Belt and Road — jika China mengalihkan fokus ke keamanan karena tekanan India, pendanaan proyek di Asia Tenggara bisa melambat dalam 6–12 bulan ke depan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons resmi China terhadap pidato Modi — apakah ada penundaan proyek Belt and Road atau eskalasi militer di perbatasan.
  • Risiko yang perlu dicermati: pelemahan yuan sebagai kanal transmisi — jika yuan terdepresiasi signifikan, rupiah dan mata uang Asia lain ikut tertekan.
  • Sinyal penting: arus modal asing ke pasar obligasi Indonesia — jika ketegangan SCO berlanjut, investor asing bisa mengurangi posisi di SBN dan memicu kenaikan yield.

Konteks Indonesia

Sebagai negara yang tidak terikat aliansi militer, Indonesia terdampak melalui jalur ekonomi: ketegangan India-China dapat mengganggu stabilitas permintaan komoditas global, memperkuat dolar AS, dan menekan rupiah. Namun, fragmentasi ini juga membuka peluang Indonesia sebagai tujuan relokasi rantai pasok bagi perusahaan yang ingin keluar dari China, terutama di sektor manufaktur dan hilirisasi nikel. Yang perlu dicermati adalah arah kebijakan luar negeri Indonesia dalam merespons rivalitas dua kekuatan besar — apakah mampu menjaga hubungan dagang dengan keduanya tanpa terpaksa memihak.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.