9 JUL 2026
← Kembali
Beranda / Pasar / Schiff: Emas ke $10.000, Perak ke $200 – Fed Terjebak Utang
Pasar

Schiff: Emas ke $10.000, Perak ke $200 – Fed Terjebak Utang

Tim Redaksi Feedberry ·8 Juli 2026 pukul 16.50 · Sinyal tinggi · Sumber: MINING.com ↗
6.7 Skor

Proyeksi ekstrem Schiff mencerminkan kekhawatiran struktural fiskal AS yang jika terwujud akan mengerek harga emas global, berdampak langsung ke emiten tambang emas Indonesia dan nilai aset dalam rupiah.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
7
Analisis Komoditas
Komoditas
Emas
Harga Terkini
> $4.100 per ons
Proyeksi Harga
Schiff memproyeksikan emas mencapai $5.000 terlebih dahulu, lalu $10.000; perak mencapai $200. Ini merupakan skenario bullish ekstrem yang bergantung pada kegagalan kebijakan fiskal AS.
Faktor Supply
  • ·Utang nasional AS mendekati $40 triliun membatasi kemampuan Fed menaikkan suku bunga
  • ·Defisit tahunan ~$3 triliun dan bunga utang ~$2 triliun menekan fiskal AS
  • ·Fed lebih memilih inflasi tinggi daripada resesi, sehingga pasokan uang meningkat
Faktor Demand
  • ·Permintaan safe-haven akibat ketidakpastian fiskal dan moneter AS
  • ·Permintaan industri perak untuk elektrifikasi dan aplikasi teknologi
  • ·Pembelian emas oleh bank sentral global, termasuk China yang membeli 15 ton pada Juni

Ringkasan Eksekutif

Peter Schiff, pengamat pasar yang dikenal lama bersikap bearish terhadap dolar AS, memproyeksikan harga emas akan mencapai $10.000 per ons dan perak $200 per ons. Argumen utamanya: Federal Reserve 'terjebak' oleh utang nasional AS yang mendekati $40 triliun, defisit tahunan sekitar $3 triliun, dan pembayaran bunga yang menuju $2 triliun. Menurut Schiff, dalam situasi ini Fed tidak bisa menaikkan suku bunga cukup tinggi untuk mengendalikan inflasi tanpa memicu krisis keuangan. Alternatif yang akan dipilih adalah membiarkan inflasi terus berjalan demi menggerus nilai riil utang — sebuah kebijakan yang justru mendorong logam mulia ke level rekor.

Saat ini emas sudah berada di atas $4.100 per ons, didorong data payrolls AS Juni yang hanya 57.000, jauh di bawah ekspektasi 100.000, yang memperkuat ekspektasi Fed akan menahan suku bunga. Schiff melihat perak bahkan lebih menarik. Ia menyebut level $50 per ons — yang menjadi batas atas pada 1980 dan 2011 — kini berubah menjadi support baru. Dengan target $200, ia menilai perak memiliki potensi apresiasi lebih besar dari emas karena peran gandanya sebagai logam moneter dan industri. Permintaan dari elektrifikasi dan aplikasi industri diperkirakan akan memperketat pasokan fisik, sementara sentimen safe-haven dari pelemahan dolar semakin mendorong harga.

Schiff juga menyoroti bahwa saham-saham tambang masih undervalued karena analis belum sepenuhnya mengakui harga emas yang lebih tinggi sebagai sesuatu yang berkelanjutan. Bagi Indonesia, proyeksi ini membawa implikasi ganda. Di satu sisi, kenaikan harga emas global akan mendongkrak pendapatan emiten tambang emas domestik seperti ANTM dan MDKA, yang harga jualnya mengacu pada harga internasional.

Di sisi lain, dolar AS yang tetap kuat — indeks dolar broad masih di sekitar 120,7 — dapat terus menekan rupiah, sehingga investor Indonesia yang memegang emas dalam rupiah justru mendapat keuntungan ganda: kenaikan harga emas dan depresiasi rupiah. Namun, perlu dicatat bahwa proyeksi Schiff bersifat ekstrem dan berada di luar konsensus pasar. Realisasinya bergantung pada skenario AS benar-benar kehilangan kendali fiskal, yang belum tentu terjadi.

Mengapa Ini Penting

Proyeksi Schiff, meski ekstrem, menyoroti kerentanan struktural fiskal AS yang bisa menjadi katalis jangka panjang bagi emas. Jika inflasi AS tetap tinggi karena Fed enggan menaikkan suku bunga secara agresif, harga emas bisa terus naik — menguntungkan eksportir dan pemegang emas di Indonesia, namun menekan daya beli rupiah dan meningkatkan biaya impor. Intinya: skenario ini mengubah cara pandang terhadap alokasi aset defensif di tengah ketidakpastian fiskal global.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten tambang emas Indonesia (ANTM, MDKA) akan menikmati kenaikan pendapatan dan laba jika harga emas global terus naik. Namun, harus diperhatikan apakah kenaikan biaya produksi (terutama energi dan logistik) tidak menggerus margin. Selain itu, ekspor emas Indonesia yang relatif kecil tetap mendapat keuntungan dari harga jual lebih tinggi.
  • Bagi investor individu dan institusi di Indonesia, kenaikan harga emas dalam rupiah memberikan alternatif lindung nilai terhadap pelemahan rupiah. Emas batangan dan produk emas digital bisa menjadi instrumen preservasi nilai yang menarik, terutama jika suku bunga riil masih negatif.
  • Sektor perbankan dan properti mungkin tidak terdampak langsung, tetapi jika kenaikan emas disertai dengan penurunan minat terhadap aset berisiko (risk-off), aliran dana asing dari SBN dan saham bisa berkurang, menekan likuiditas pasar domestik dan menaikkan yield obligasi pemerintah.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: data inflasi AS (CPI) bulan Juli — jika di atas ekspektasi, bisa memicu koreksi emas karena kekhawatiran Fed akan tetap hawkish, namun jika di bawah ekspektasi, memperkuat skenario Schiff bahwa Fed akan longgar dan emas naik.
  • Risiko yang perlu dicermati: aksi ambil untung besar-besaran oleh investor China (rekor outflow ETF emas Juni senilai $2,91 miliar) dan pergeseran minat ke saham China yang sedang rally. Jika tekanan jual ini berlanjut, bisa menahan kenaikan emas dalam jangka pendek.
  • Sinyal penting: pergerakan imbal hasil riil AS (TIPS yield) — jika terus turun (menjadi lebih negatif), itu menandakan ekspektasi inflasi meningkat dan Fed tidak akan menaikkan suku bunga, mendukung kenaikan emas. Untuk Indonesia, perhatikan juga pergerakan USD/IDR dan yield SBN 10 tahun sebagai indikator tekanan eksternal.

Konteks Indonesia

Kenaikan harga emas global berdampak positif bagi emiten tambang emas Indonesia seperti ANTM dan MDKA karena harga jual emas mengacu pada harga internasional. Depresiasi rupiah terhadap dolar AS juga memberikan keuntungan tambahan bagi produsen yang menerima pendapatan dalam dolar. Di sisi lain, investor ritel Indonesia yang memiliki emas batangan atau produk emas digital mendapat lindung nilai terhadap pelemahan rupiah. Namun, proyeksi Schiff bersifat spekulatif dan belum menjadi konsensus pasar; realisasinya tergantung pada kebijakan fiskal AS ke depan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.