13 JUN 2026
Rupiah Tembus Rp17.664, DPR Minta Gubernur BI Mundur

Foto: CNN Indonesia Ekonomi — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Rupiah Tembus Rp17.664, DPR Minta Gubernur BI Mundur
Forex & Crypto

Rupiah Tembus Rp17.664, DPR Minta Gubernur BI Mundur

Tim Redaksi Feedberry ·18 Mei 2026 pukul 07.28 · Sinyal tinggi · Sumber: CNN Indonesia Ekonomi ↗
9.7 Skor

Rupiah menembus rekor terlemah sepanjang sejarah di Rp17.664, memicu krisis kepercayaan terhadap BI dan tekanan politik langsung — dampak sistemik ke seluruh sektor ekonomi, fiskal, dan moneter.

Urgensi
9
Luas Dampak
10
Dampak Indonesia
10
Analisis Indikator Makro
Indikator
USD/IDR (Nilai Tukar Rupiah)
Nilai Terkini
Rp17.664 per dolar AS
Nilai Sebelumnya
Rp17.597 per dolar AS (penutupan sebelumnya)
Perubahan
+67 poin atau +0,38%
Tren
naik
Sektor Terdampak
ImportirEksportirPerbankanPropertiInfrastrukturManufakturEnergi

Ringkasan Eksekutif

Rupiah mencapai level terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Senin (18/5), menyentuh Rp17.664 per dolar AS — melampaui rekor pelemahan saat krisis moneter 1998 yang berada di kisaran Rp16.800. Pelemahan ini terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 yang tercatat 5,61%, menciptakan anomali yang disorot tajam oleh anggota DPR. Primus Yustisio dari Komisi XI DPR secara terbuka menyerukan Gubernur BI Perry Warjiyo untuk mengundurkan diri, menilai BI telah kehilangan kepercayaan publik dan kredibilitas di mata pasar. Rupiah melemah 67 poin atau 0,38% dalam sehari, dan melemah hampir terhadap seluruh mata uang utama dunia termasuk Singapura, Australia, Malaysia, Arab Saudi, Hong Kong, dan Eropa.

Faktor pendorong utama adalah penguatan dolar AS secara global, ekspektasi suku bunga Fed yang tetap tinggi, serta tekanan dari konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak Brent ke US$110,33 per barel. Indonesia sebagai importir minyak netto sangat rentan terhadap kenaikan harga energi — setiap kenaikan harga minyak langsung membebani defisit transaksi berjalan dan APBN melalui subsidi energi yang membengkak. Dampak langsung dari pelemahan rupiah ini sangat luas. Biaya impor bahan baku dan barang modal akan naik, menekan margin perusahaan manufaktur dan konsumen. Perusahaan dengan utang valas — terutama di sektor properti, infrastruktur, dan maskapai penerbangan — akan menghadapi kerugian kurs yang signifikan.

Di sisi lain, eksportir komoditas seperti batu bara, CPO, dan nikel mendapatkan keuntungan dari rupiah lemah karena pendapatan mereka dalam dolar AS menjadi lebih besar dalam rupiah. Namun, efek positif ini bisa tertahan jika permintaan global melemah akibat perlambatan ekonomi China dan ketidakpastian geopolitik.

Mengapa Ini Penting

Pelemahan rupiah ke rekor terendah sepanjang sejarah bukan sekadar angka — ini adalah sinyal hilangnya kepercayaan pasar terhadap kebijakan moneter Indonesia di tengah pertumbuhan ekonomi yang solid. Tekanan politik terhadap BI bisa memicu kebijakan yang tidak terduga, sementara biaya impor yang naik akan langsung terasa di harga barang konsumen dan margin perusahaan. Ini adalah momen yang menguji kredibilitas institusi dan ketahanan ekonomi Indonesia terhadap guncangan eksternal.

Dampak ke Bisnis

  • Importir bahan baku dan barang modal akan menghadapi kenaikan biaya langsung — perusahaan manufaktur, ritel, dan FMCG yang bergantung pada komponen impor akan mengalami tekanan margin yang signifikan. Sektor properti dan infrastruktur dengan utang valas juga berisiko mengalami kerugian kurs yang besar.
  • Eksportir komoditas — batu bara, CPO, nikel, dan emas — mendapatkan keuntungan dari rupiah lemah karena pendapatan dolar AS mereka menjadi lebih besar dalam rupiah. Namun, efek ini bisa terbatas jika permintaan global melemah akibat perlambatan ekonomi China dan ketidakpastian geopolitik.
  • Bank dengan exposure valas asing akan menghadapi tekanan pada posisi devisa neto mereka. Di sisi lain, bank dengan basis dana rupiah yang kuat dan portofolio kredit domestik bisa diuntungkan dari suku bunga yang lebih tinggi jika BI merespon dengan menaikkan suku bunga acuan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: keputusan suku bunga BI berikutnya — apakah BI akan menaikkan suku bunga acuan untuk menahan tekanan rupiah atau mempertahankannya untuk mendukung pertumbuhan. Kenaikan suku bunga akan menjadi sinyal bahwa BI memprioritaskan stabilitas nilai tukar di atas pertumbuhan.
  • Risiko yang perlu dicermati: capital outflow dari pasar SBN dan saham — jika tekanan rupiah berlanjut, investor asing bisa menarik dana secara besar-besaran, menekan IHSG dan mendorong yield SUN naik, memperburuk kondisi fiskal pemerintah.
  • Sinyal penting: perkembangan harga minyak global dan konflik AS-Iran — jika harga minyak terus naik di atas US$110 per barel, tekanan pada rupiah dan APBN akan semakin berat. Sebaliknya, jika ada tanda-tanda gencatan senjata, harga energi bisa turun drastis dan memberikan ruang bagi rupiah untuk stabil.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.