Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Proyek DeFi Bertumbangan di 2026 — Aktivitas Bergeser, Bukan Ekosistem Mati
Meski kematian proyek DeFi di 2026 bukan kejutan, pergeseran aktivitas ke aplikasi niche menandakan perubahan struktural yang akan memengaruhi strategi investor dan exchange kripto Indonesia.
Ringkasan Eksekutif
Ekosistem DeFi global mengalami gelombang penutupan proyek pada 2026—101 proyek kripto telah mati menurut data RootData—namun analis menilai ini bukan tanda keruntuhan industri, melainkan pergeseran aktivitas. Alih-alih likuiditas meninggalkan kripto sepenuhnya, onchain activity justru berpindah ke aplikasi-aplikasi khusus seperti Hyperliquid, Polymarket, dan pump.fun. Konsekuensinya, pendapatan agregat tetap tinggi, tetapi basis persaingan semakin ketat. Jumlah aplikasi DeFi yang menghasilkan setidaknya US$1 juta per bulan menurun dari 33–34 pada semester kedua 2025 menjadi sekitar 25–26 pada paruh pertama 2026. Sementara itu, aplikasi dengan pendapatan bulanan di atas US$10 juta berkurang setengahnya. Ini menunjukkan fragmentasi pendapatan yang justru merugikan proyek-proyek DeFi klasik yang dulunya diandalkan sebagai pionir. Penyebab utama pergeseran ini bukanlah penurunan minat, melainkan perubahan perilaku modal.
Menurut Gauntlet, chief business officer Nicholas Cannon, permintaan terhadap DeFi justru berada pada level tertinggi sepanjang masa, ditopang oleh pertumbuhan pasokan stablecoin dan minat tradisional finance yang semakin mendekat. Namun, modal menjadi jauh lebih selektif. Jika sebelumnya likuiditas mengikuti insentif token di mana pun, kini investor hanya mengalokasikan dana ke protokol yang memiliki hasil berkelanjutan, rekam jejak, dan kurasi yang baik. Insentif token tetap berperan untuk bootstrap awal, tetapi tidak lagi cukup untuk menopang protokol dalam jangka panjang. Mark Levin dari XYO menambahkan bahwa lanskap DeFi saat ini sangat berbeda dari era bear terakhir: ribuan protokol bersaing untuk pengguna dan likuiditas yang sama, menghilangkan keunggulan first-mover.
Dampak terbesar dari pergeseran ini terasa di kalangan proyek DeFi kecil yang tidak mampu membangun loyalitas pengguna jangka panjang. Proyek yang mengandalkan imbal hasil farming semata akan semakin sulit bertahan.
Di sisi lain, institusi keuangan yang masuk ke DeFi justru mendapat keuntungan dari ekosistem yang lebih matang dan fokus pada keberlanjutan. Kondisi ini memperkuat divergensi antara proyek-proyek dengan fundamental solid dan yang hanya mengandalkan gimmick. Bagi investor Indonesia yang aktif di bursa kripto domestik, perubahan ini memberikan sinyal bahwa strategi investasi berbasis tren jangka pendek perlu dihindari, sementara proyek dengan utilitas nyata dan adopsi riil layak dicermati lebih dalam. Ke depan, pemantauan kritis perlu difokuskan pada dua hal: pertama, reaksi volume perdagangan kripto global dan Indonesia terhadap pergeseran ini—apakah volume tetap terjaga atau justru turun karena investor meninggalkan aset kripto; kedua, respons regulator seperti SEC/CFTC AS dan Bappebti/OJK Indonesia dalam menyikapi lanskap DeFi yang berubah.
Jika regulasi semakin memperketat syarat bagi proyek DeFi, dampaknya bisa mempercepat konsolidasi global yang berimbas ke likuiditas dan kepercayaan investor Indonesia. Dalam 1–4 minggu ke depan, sinyal utama yang perlu diamati adalah arah arus modal institusional ke DeFi dan kemungkinan pengumuman penutupan proyek besar lainnya.
Mengapa Ini Penting
Meski berita ini bersifat global, dampaknya langsung terasa di pasar kripto Indonesia yang didominasi investor ritel. Pergeseran dari DeFi klasik ke aplikasi spesifik seperti Prediksi (Polymarket) atau perpetual DEX (Hyperliquid) mengubah peta persaingan exchange lokal dan pilihan aset yang diperdagangkan. Investor yang terbiasa dengan imbal hasil farming dari proyek DeFi legacy akan kehilangan sumber pendapatan pasif, sementara exchange seperti Indodax atau Tokocrypto harus menyesuaikan daftar listing agar tetap relevan dengan tren baru. Selain itu, meningkatnya selektivitas modal institusional asing dapat mempersempit akses pendanaan bagi startup blockchain Indonesia yang belum memiliki track record kuat.
Dampak ke Bisnis
- Exchange kripto lokal (Indodax, Tokocrypto, Pintu) perlu mencermati pergeseran likuiditas ke aplikasi DeFi non-TVL seperti Polymarket. Jika volume perdagangan token DeFi klasik menurun, pendapatan dari biaya transaksi bisa tertekan. Exchange harus siap mendukung aset dari ekosistem baru yang sedang naik.
- Investor ritel Indonesia yang selama ini mengandalkan yield farming di protokol DeFi lama akan kehilangan pendapatan rutin. Mereka perlu beralih ke strategi yang lebih fokus pada fundamental proyek dan sustainable yield, bukan sekadar insentif token jangka pendek.
- Startup blockchain Indonesia yang mengincar pendanaan dari venture capital global akan menghadapi standar yang lebih ketat. Investor institusi kini hanya tertarik pada protokol dengan rekam jejak, audited smart contract, dan target pasar yang jelas. Tanpa diferensiasi kuat, pendanaan menjadi lebih sulit.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: volume perdagangan kripto Indonesia (dari data Bappebti atau exchange lokal) dalam 2 minggu ke depan. Jika terjadi penurunan signifikan, itu bisa menandakan investor ritel mulai mengurangi eksposur karena perubahan lanskap DeFi.
- Risiko yang perlu dicermati: kemungkinan reaksi regulator Indonesia (Bappebti/OJK) terhadap maraknya aplikasi DeFi baru. Regulasi yang lebih ketat bisa membatasi akses investor ke protokol tertentu dan memicu capital outflow.
- Sinyal penting: pengumuman penutupan atau merger proyek DeFi besar di global. Jika proyek dengan TVL > $1 miliar tutup, dampaknya akan langsung terasa ke likuiditas global dan sentimen investor Indonesia.
Konteks Indonesia
Meski artikel ini berfokus pada DeFi global, dampaknya signifikan bagi ekosistem kripto Indonesia. Pasar kripto Indonesia didominasi investor ritel yang sangat responsif terhadap tren yield farming; pergeseran aktivitas dari DeFi klasik ke aplikasi niche seperti Polymarket atau Hyperliquid mengharuskan investor lokal menyesuaikan portofolio. Exchange lokal harus memantau likuiditas token-token DeFi lama yang mungkin kehilangan volume. Selain itu, masuknya institusi keuangan tradisional ke DeFi (seperti disebut Gauntlet) bisa memperkuat permintaan stablecoin dan layanan kustodi, yang berpotensi menjadi peluang bagi fintech Indonesia. Namun, peningkatan selektivitas modal global juga berarti startup blockchain Indonesia harus lebih kuat secara fundamental untuk menarik pendanaan. Regulasi dari Bappebti dan OJK yang masih berkembang juga akan memengaruhi sejauh mana investor lokal bisa mengakses tren DeFi terbaru.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.