5 JUL 2026
RBC: Risiko Tarif CUSMA Berkurang, Ketidakpastian Tetap – Imbas Global ke Indonesia

Foto: FXStreet — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / RBC: Risiko Tarif CUSMA Berkurang, Ketidakpastian Tetap – Imbas Global ke Indonesia
Pasar

RBC: Risiko Tarif CUSMA Berkurang, Ketidakpastian Tetap – Imbas Global ke Indonesia

Tim Redaksi Feedberry ·3 Juli 2026 pukul 15.14 · Sinyal menengah · Sumber: FXStreet ↗
5 Skor

Berita ini tidak langsung mengancam Indonesia, tapi menambah lapisan risiko global di tengah tekanan yen dan potensi outflow yang sudah ada.

Urgensi
4
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
5

Ringkasan Eksekutif

Keputusan pemerintah AS untuk tidak memperpanjang Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (CUSMA) pada 1 Juli 2026 tidak serta merta mengakhiri perjanjian tersebut. Menurut ekonom Royal Bank of Canada (RBC) Claire Fan dan Nathan Janzen, CUSMA tetap berlaku hingga 2036 dengan jadwal negosiasi yang telah ditentukan. Mereka menilai risiko tarif telah berkurang dibandingkan skenario terminasi, dan terminasi penuh dinilai tidak mungkin terjadi jika logika ekonomi berlaku. Poin negosiasi utama diperkirakan akan berfokus pada aturan asal (Rules of Origin). Meski demikian, ketidakpastian perdagangan diperkirakan akan tetap tinggi terlepas dari hasil negosiasi. Penilaian RBC ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global. Sebelumnya, AS telah menerapkan tarif terhadap berbagai mitra dagang, termasuk China dan Uni Eropa.

Keputusan untuk tidak memperpanjang CUSMA, meskipun tidak mengakhiri perjanjian, mengirim sinyal bahwa Washington masih menggunakan ancaman tarif sebagai alat negosiasi. Bagi Kanada, risiko langsung adalah ketidakpastian bagi eksportir terutama di sektor otomotif, pertanian, dan manufaktur. Namun, implikasi tidak langsungnya juga terasa di pasar keuangan global. Ketidakpastian perdagangan cenderung mendorong risk-off sentiment, memperkuat dolar AS, dan mengurangi aliran modal ke emerging market. Data pasar per 1 Juli menunjukkan dolar AS tetap kuat dengan indeks dolar broad (trade-weighted) di 120,89, sementara imbal hasil Treasury AS 10 tahun di 4,48% masih menarik bagi investor global. Bagi Indonesia, dampak dari ketidakpastian CUSMA terletak pada dua saluran. Pertama, sentimen risiko global yang memburuk dapat mempercepat arus keluar modal asing dari pasar keuangan Indonesia.

Rupiah saat ini berada di level 17.955 per dolar AS, yang dalam rentang satu tahun menunjukkan tekanan tinggi. Jika risk-off semakin dalam, rupiah berisiko melemah lebih lanjut. Kedua, ketidakpastian perdagangan dapat mempengaruhi permintaan komoditas ekspor Indonesia, terutama jika perlambatan ekonomi Kanada atau AS berdampak pada rantai pasok global. Namun, perlu dicatat bahwa efek langsung ke Indonesia diperkirakan kecil karena volume perdagangan bilateral Indonesia-AS-Kanada tidak sebesar dengan China. Yang lebih relevan adalah bagaimana ketidakpastian ini berinteraksi dengan faktor lain, seperti pelemahan yen dan potensi carry trade unwind yang sudah mengancam pasar Asia.

Mengapa Ini Penting

Meskipun berita ini tentang Kanada, ini menambah ketidakpastian global di saat yang sama pasar Asia sedang rapuh akibat pelemahan yen dan potensi carry trade unwind. Indonesia menjadi lebih rentan terhadap guncangan eksternal karena rupiah sudah berada di level tertekan dan defisit APBN membatasi ruang fiskal. Ketidakpastian perdagangan AS-Kanada bisa menjadi pemicu tambahan bagi outflow modal asing dari SBN dan saham Indonesia.

Dampak ke Bisnis

  • Rupiah yang sudah di level 17.955 per dolar AS berpotensi melemah lebih lanjut jika risk-off global meningkat akibat ketidakpastian CUSMA. Importir akan merasakan kenaikan biaya bahan baku dan perlengkapan, sementara emiten dengan utang dolar akan terdampak negatif.
  • Arus keluar modal asing dari pasar SBN dan saham Indonesia bisa semakin deras jika investor global mengurangi eksposur ke emerging market. Hal ini akan menekan IHSG dan mendorong yield SUN lebih tinggi, meningkatkan biaya utang pemerintah dan korporasi.
  • Eksportir komoditas Indonesia (batu bara, CPO, nikel) mungkin menghadapi ketidakpastian permintaan jika perlambatan ekonomi Kanada dan AS berimbas ke rantai pasok global. Namun, dampak ini tidak langsung dan perlu waktu untuk terlihat.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: perkembangan negosiasi CUSMA antara AS dan Kanada – jika mencapai kesepakatan yang meredakan ketegangan, sentimen risiko global bisa membaik; jika gagal, ketidakpastian meningkat.
  • Risiko yang perlu dicermati: interaksi antara pelemahan yen dan ketidakpastian CUSMA – jika USD/JPY menembus 165, risiko carry trade unwind semakin nyata dan bisa memicu outflow besar dari Indonesia.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi dari Menteri Keuangan AS Scott Bessent atau pejabat Kanada mengenai arah kebijakan tarif – kata-kata yang hawkish bisa memperdalam risk-off.

Konteks Indonesia

Berita ini relevan bagi Indonesia karena ketidakpastian perdagangan global yang meningkat dapat mempengaruhi sentimen risiko investor terhadap emerging market. Indonesia, sebagai negara dengan defisit APBN dan rupiah yang tertekan, sangat rentan terhadap outflow modal asing. Selain itu, perlambatan ekonomi di Kanada dan AS dapat mengurangi permintaan komoditas ekspor Indonesia, meskipun efek langsungnya masih terbatas.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.