5 JUN 2026
Raksasa Bank AS Siapkan Jaringan Tokenized Deposit Hadang Stablecoin

Foto: CoinDesk — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Raksasa Bank AS Siapkan Jaringan Tokenized Deposit Hadang Stablecoin
Forex & Crypto

Raksasa Bank AS Siapkan Jaringan Tokenized Deposit Hadang Stablecoin

Tim Redaksi Feedberry ·5 Juni 2026 pukul 09.16 · Sumber: CoinDesk ↗
7.7 Skor

Langkah kolektif bank-bank terbesar AS ini menandai pergeseran struktural infrastruktur keuangan global yang akan berdampak pada arus modal, regulasi, dan daya saing sistem perbankan Indonesia dalam 1-2 tahun ke depan.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

JPMorgan, Bank of America, dan Citi berencana membangun jaringan tokenized deposit bersama yang dioperasikan oleh The Clearing House pada paruh pertama 2027. Inisiatif ini merupakan respons defensif terhadap ancaman stablecoin yang mulai menggerus basis deposito perbankan tradisional, terutama jika RUU Clarity Act memberikan izin stablecoin membayar imbal hasil kepada pemegangnya. Dengan jaringan ini, deposito bank akan diubah menjadi token blockchain yang dapat dipindahkan secara instan dan 24/7, namun tetap berada dalam sistem perbankan teregulasi — menjaga fungsi intermediasi kredit bank. Inisiatif ini disebut memberi kemampuan seperti kripto pada deposito, sehingga nasabah tidak perlu beralih ke stablecoin untuk mendapatkan kecepatan dan fleksibilitas transaksi.

Menurut CEO The Clearing House, David Watson, masa depan pembayaran onchain akan 'sangat berbeda' dari sekarang, dan bank besar mulai bergerak masif.

Langkah ini melengkapi proyeksi Citi yang memperkirakan pasar tokenized securities tumbuh menjadi 5,5 triliun dolar pada 2030, dan dukungan infrastruktur seperti DTCC yang mulai mengadopsi blockchain.

Di sisi lain, perdebatan antara Federal Reserve (mendukung stablecoin dolar sebagai perluasan kebijakan moneter) dan Bank of England (meragukan popularitas stablecoin dan lebih percaya pada tokenized deposits) menunjukkan belum ada konsensus global. Bagi Indonesia, berita ini membawa implikasi serius. Dengan USD/IDR yang berada di level 18.015 dan IHSG di 5.595, Indonesia berada dalam posisi rentan terhadap perubahan sentimen risk-on/off global. Jika jaringan tokenized deposit bank AS berhasil, investor institusi global mungkin akan menggeser alokasi dari emerging markets ke produk tokenized yang lebih likuid dan efisien.

Di sisi lain, investor ritel Indonesia yang aktif di pasar kripto — dengan volume perdagangan salah satu tertinggi di Asia Tenggara — dapat melihat tokenized deposits sebagai alternatif yang lebih aman dibanding stablecoin yang tidak dijamin lembaga keuangan. Regulator Indonesia, terutama OJK dan Bappebti, perlu segera menyusun kerangka hukum untuk tokenized securities dan deposits agar tidak kehilangan momentum dan melindungi investor domestik. Tanpa regulasi yang jelas, potensi capital outflow ke platform tokenized global yang menawarkan yield lebih tinggi akan meningkat, menambah tekanan pada rupiah dan sistem perbankan. Dalam 1-4 minggu ke depan,

Mengapa Ini Penting

Ini bukan sekadar eksperimen teknologi, melainkan perubahan fundamental model bisnis perbankan. Jika stablecoin berhasil menggeser fungsi deposito tradisional, bank bisa kehilangan sumber dana murah untuk kredit, dan sistem intermediasi keuangan bisa bergeser ke ekosistem kripto yang kurang teregulasi. Jaringan tokenized deposit ini adalah upaya bank mempertahankan peran sentral mereka di era digital. Bagi Indonesia, jika adopsi tokenized deposits oleh korporasi global meluas, tekanan kompetitif pada bank domestik akan meningkat, dan regulator harus cepat beradaptasi agar sistem keuangan Indonesia tidak tertinggal atau justru mengalami fragmentasi.

Dampak ke Bisnis

  • Bank-bank di Indonesia, terutama yang memiliki basis nasabah korporasi besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI, perlu mulai mempersiapkan strategi tokenized deposit untuk mempertahankan daya saing. Jika korporasi multinasional di Indonesia mulai menggunakan jaringan tokenized dari bank induknya di AS, bank lokal bisa kehilangan pangsa pasar layanan treasury dan cash management.
  • Perusahaan fintech dan exchange kripto lokal seperti GOTO, BUKA, atau bursa kripto yang terdaftar di Bappebti berpotensi menjadi jembatan adopsi tokenized deposits di Indonesia. Namun, mereka juga menghadapi risiko jika regulasi belum jelas dan investor lebih memilih platform global yang lebih likuid.
  • Pasar SBN dan IHSG bisa terpengaruh jika investor asing mulai mengalihkan alokasi ke produk tokenized global yang menawarkan yield kompetitif dan likuiditas 24/7. Tekanan jual asing di SBN dapat mendorong imbal hasil naik dan memperlemah rupiah lebih lanjut, yang sudah berada di level 18.015 per dolar AS.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: perkembangan RUU Clarity Act di Senat AS — jika lolos dengan izin stablecoin membayar imbal hasil, ancaman terhadap deposito bank semakin nyata dan adopsi tokenized deposit semakin mendesak.
  • Risiko yang perlu dicermati: respons OJK dan BI terhadap tokenized deposits — jika regulasi Indonesia masih wait and see sementara global bergerak cepat, investor domestik bisa beralih ke platform asing tanpa perlindungan, memperlebar capital outflow.
  • Sinyal penting: adopsi tokenized deposits oleh institusi keuangan global besar seperti BlackRock atau Vanguard — jika mereka masuk, sentimen positif akan mendorong arus masuk ke produk serupa di Indonesia, tetapi jika sebaliknya, tekanan risk-off bisa meningkat.

Konteks Indonesia

Indonesia memiliki salah satu pasar kripto ritel paling aktif di Asia Tenggara, dengan volume perdagangan yang tinggi dan basis pengguna yang besar. Namun, regulasi aset digital masih terfragmentasi antara Bappebti (komoditi) dan OJK (sektor keuangan) — belum ada kerangka khusus untuk tokenized securities atau deposits. Jika jaringan tokenized deposits global berhasil, investor Indonesia akan dihadapkan pada pilihan antara produk perbankan lokal yang kurang inovatif versus platform global yang menawarkan efisiensi dan imbal hasil lebih tinggi. Hal ini berpotensi memperbesar arus keluar modal, terutama di tengah tekanan rupiah yang sudah melemah ke Rp18.015 per dolar AS. Di sisi lain, bank-bank Indonesia yang memiliki infrastruktur digital kuat — seperti BRI dengan BRInya, Mandiri dengan Livin' — bisa menjadi pionir tokenized deposit jika regulator memberikan izin. Kondisi ekonomi makro Indonesia saat ini — dengan IHSG di 5.595 dan BI rate yang belum dipastikan arahnya — membuat timing regulasi menjadi krusial. Jika OJK dan BI merespons cepat dengan memberikan kepastian hukum untuk tokenized securities, Indonesia bisa menarik minat investor global yang mencari eksposur ke pasar emerging dengan infrastruktur digital modern. Sebaliknya, jika lambat, Indonesia berisiko kehilangan momentum dan mengalami fragmentasi pasar keuangan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.