Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Quantum Computing Mengancam Skalabilitas Bitcoin – Teknologi STARK Jadi Solusi
Perkembangan teknologi kriptografi pasca-kuantum relevan untuk masa depan Bitcoin, namun belum berdampak langsung dalam jangka pendek; skor breadth tinggi karena menyentuh teknologi, pasar kripto, dan sentimen global.
Ringkasan Eksekutif
Bitcoin menghadapi dilema kuantum: tanda tangan post-quantum (PQ) yang disetujui NIST berukuran 10 hingga 100 kali lebih besar dari tanda tangan ECDSA/Schnorr saat ini. Hal ini berpotensi memperlambat blockchain menjadi kurang dari satu transaksi per detik. Eli Ben-Sasson, penemu STARK proofs (zero-knowledge proofs tahan kuantum), mengusulkan agregasi tanda tangan menggunakan STARK untuk mengompresi ribuan tanda tangan besar menjadi satu bukti kecil. Alternatif lain adalah memperbesar ukuran blok, tetapi komunitas Bitcoin terpecah sejak perdebatan block size 2017 karena kekhawatiran sentralisasi. Blockstream Research sedang mengembangkan skema SHRINCS dan SHRIMPS yang lima kali lebih besar dari tanda tangan saat ini, namun masih memerlukan pengembangan lebih lanjut. Di saat yang sama, sentimen pasar kripto global sedang tertekan.
Bitcoin terperosok ke area $60.000-62.000 akibat eskalasi konflik Iran yang mendorong harga minyak Brent ke $74-$79, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang meningkat, dan aksi jual 3.588 Bitcoin oleh Strategy — perusahaan dengan treasury kripto terbesar. Korelasi Bitcoin dengan Nasdaq berubah drastis dari -0,87 menjadi +0,72, menandakan Bitcoin kini bergerak seperti saham teknologi berbeta tinggi. Bagi Indonesia, tekanan ini mengalir melalui tiga saluran: rupiah yang berada di Rp18.080 per dolar AS akan tertekan lebih lanjut oleh capital outflow; IHSG di 5.912 berpotensi terkoreksi, terutama saham teknologi dan perbankan yang banyak dimiliki asing; serta kenaikan harga minyak memperberat beban subsidi dan defisit APBN yang sudah mencapai Rp240 triliun.
Volume perdagangan exchange kripto lokal seperti Tokocrypto dan Indodax diperkirakan menurun seiring investor ritel wait-and-see.
Mengapa Ini Penting
Permasalahan kuantum dan solusi STARK/block size menentukan apakah Bitcoin dapat tetap digunakan secara luas oleh publik. Jika tidak ada solusi agregasi, biaya transaksi dan waktu konfirmasi bisa membengkak, mengikis utilitas Bitcoin sebagai alat tukar dan penyimpan nilai. Ini berdampak langsung pada kepercayaan investor kripto global, termasuk di Indonesia yang memiliki basis pengguna kripto ritel yang besar. Tekanan harga Bitcoin saat ini, ditambah ketidakpastian teknologi, dapat memperkuat sentimen risk-off dan mendorong alih dana ke aset safe haven atau instrumen tradisional.
Dampak ke Bisnis
- Exchange kripto lokal (Tokocrypto, Indodax, Pintu) akan mengalami penurunan volume perdagangan jika sentimen negatif berlanjut, menggerus pendapatan dari biaya transaksi.
- Emiten teknologi di IHSG yang berkorelasi dengan risk appetite global berpotensi terkoreksi lebih dalam seiring aksi jual asing akibat sentimen risk-off yang diperkuat oleh tekanan di pasar kripto.
- Perusahaan yang menyimpan treasury dalam Bitcoin, baik di Indonesia maupun global, menghadapi risiko penurunan nilai aset dan potensi tekanan likuiditas jika harga terus turun di bawah biaya perolehan rata-rata Strategy ($74.582).
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: level support $60.000 pada Bitcoin — jika jebol dengan volume tinggi, koreksi bisa memicu aksi jual lebih luas di seluruh aset berisiko global, termasuk saham teknologi BEI.
- Risiko yang perlu dicermati: respons Strategy terhadap penurunan harga — jika terus menjual Bitcoin untuk mendanai dividen, sentimen negatif akan bertambah parah.
- Sinyal penting: data inflasi AS minggu depan — jika lebih tinggi dari ekspektasi, probabilitas kenaikan suku bunga September naik, dolar menguat, dan rupiah semakin tertekan.
Konteks Indonesia
Indonesia merupakan pasar kripto ritel yang aktif dengan jutaan investor. Perkembangan teknologi skalabilitas Bitcoin (STARK, block size, SHRINCS) menentukan masa depan adopsi dan kepercayaan investor lokal. Tekanan harga saat ini sudah menurunkan volume perdagangan di exchange lokal. Selain itu, pelemahan rupiah ke Rp18.080 per dolar AS memperburuk nilai investasi kripto dalam denominasi rupiah. Regulator seperti Bappebti dan OJK perlu mengantisipasi dampak dari perkembangan teknologi kuantum terhadap keamanan aset digital dan kepatuhan exchange.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.