16 JUL 2026
Produksi Tembaga BHP Turun 5%, Panduan 2027 Loyo Akibat Penurunan Kadar Escondida

Foto: MINING.com — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Produksi Tembaga BHP Turun 5%, Panduan 2027 Loyo Akibat Penurunan Kadar Escondida
Pasar

Produksi Tembaga BHP Turun 5%, Panduan 2027 Loyo Akibat Penurunan Kadar Escondida

Tim Redaksi Feedberry ·15 Juli 2026 pukul 23.55 · Sinyal tinggi · Sumber: MINING.com ↗
7.7 Skor

Penurunan produksi tambang tembaga terbesar dunia dan panduan lebih rendah mengindikasikan pasokan global mengetat, berpotensi mendorong harga tembaga naik. Indonesia sebagai produsen utama akan mendapat windfall melalui ekspor dan laba emiten tambang.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

BHP Group melaporkan produksi tembaga kuartal keempat tahun fiskal 2026 turun 5% secara tahunan menjadi 491,9 kilo ton (kt), sementara produksi setahun penuh mencapai 1,95 juta ton (Mt) — turun 3% dari 2,02 Mt tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan oleh koreksi kadar bijih di tambang Escondida (Chile), yang feed grade-nya turun dari 1,02% menjadi 0,90%, serta penurunan produksi di Pampa Norte yang anjlok 21% akibat operasi yang masuk ke zona bijih lebih dalam dan lebih kompleks. Sebagai kompensasi, Copper South Australia mencatat kenaikan 2% ke 320,7 kt dengan Olympic Dome mencapai rekor produksi dalam 20 tahun. Meski volume turun, harga jual tembaga yang lebih tinggi memberikan bantalan.

Harga realisasi rata-rata BHP untuk setahun penuh adalah US$5,74 per pon, naik 35% dibanding tahun lalu, dan pada kuartal keempat mencapai US$6,53 per pon — melonjak 47% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa lonjakan harga tembaga global, didorong oleh permintaan elektrifikasi dan ketatnya pasokan, telah menutupi penurunan volume. BHP memproyeksikan produksi tembaga grup untuk tahun fiskal 2027 hanya sebesar 1.650-1.800 kt, jauh di bawah capaian tahun ini, terutama akibat penurunan kadar bijih yang terus berlanjut di Escondida. Panduan ini mengindikasikan bahwa tekanan pasokan tembaga global tidak akan mereda dalam jangka pendek. Untuk mengantisipasi penurunan kadar, BHP terus mengembangkan proyek baru.

Rencana investasi yang diungkap dalam laporan ini meliputi pembangunan konsentrator baru di Escondida senilai sekitar US$5 miliar guna mempertahankan kapasitas pengolahan 460.000 ton per hari, serta studi kelayakan untuk menghidupkan kembali tambang Cerro Colorado yang telah dihentikan (mothballed) dengan investasi potensial US$1,5 miliar menggunakan teknologi pelindian klorida. Selain itu, BHP juga menargetkan keputusan akhir terkait proyek tembaga di Argentina pada akhir tahun ini. Sinyal dari BHP ini menunjukkan bahwa meskipun harga tembaga tinggi, produksi fisik sulit ditingkatkan karena penurunan kadar di tambang-tambang tua, sementara proyek baru masih membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berproduksi.

Implikasi untuk Indonesia: sebagai salah satu produsen tembaga utama dunia melalui tambang Grasberg (dikelola Freeport Indonesia) dan Batu Hijau (Amman Mineral), Indonesia akan diuntungkan oleh potensi kenaikan harga tembaga lebih lanjut. Harga tembaga yang kuat akan meningkatkan pendapatan ekspor, memperkuat neraca perdagangan, dan mendukung laba emiten tambang di BEI. Namun, di sisi lain, penurunan kadar bijih juga bisa menjadi masalah bagi tambang-tambang di Indonesia yang sudah berusia tua.

Mengapa Ini Penting

Penurunan pasokan dari salah satu produsen tembaga terbesar dunia menandakan bahwa pasar tembaga global akan tetap ketat dalam 1-2 tahun ke depan, menopang harga di level tinggi. Bagi Indonesia, ini berarti pendapatan ekspor tembaga (yang menyumbang sekitar 3-5% total ekspor) akan meningkat, memperbaiki defisit transaksi berjalan dan memberikan ruang bagi rupiah. Di sisi lain, emiten tambang tembaga seperti PT Freeport Indonesia dan Amman Mineral akan membukukan laba lebih besar, yang dapat diterjemahkan ke dividen lebih tinggi atau reinvestasi. Namun, tantangan penurunan kadar bijih juga mengintai Grasberg, sehingga kemampuan mempertahankan produksi menjadi kunci.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten tambang tembaga di Indonesia akan diuntungkan langsung: semakin tinggi harga tembaga, laba bersih dan arus kas freeport (PTFI) serta Amman Mineral (AMMN) akan terdongkrak. Harga jual rata-rata BHP yang naik 35-47% menjadi indikasi bahwa margin keuntungan produsen tembaga sedang berada di level terbaik.
  • Peningkatan pendapatan ekspor tembaga akan memperbaiki neraca perdagangan Indonesia, yang pada gilirannya mendukung stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal. Rupiah yang lebih kuat dapat meredakan biaya impor bagi sektor manufaktur dan energi.
  • Sektor hilirisasi tembaga Indonesia, seperti smelter baru yang dibangun Freeport di Gresik dan proyek smelter Amman, akan mendapatkan pasokan bahan baku dengan harga tinggi. Namun, harga tembaga yang terlalu tinggi juga bisa mendorong substitusi ke logam lain (aluminium) dalam jangka panjang, mengurangi permintaan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pergerakan harga tembaga LME dalam 2 minggu ke depan — jika bertahan di atas US$5,80/lb (level realisasi rata-rata BHP FY26), maka sentimen positif bagi emiten tambang Indonesia akan berlanjut.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika penurunan kadar bijih di Escondida juga terjadi di Grasberg (yang tidak disebut artikel), maka produksi tembaga Indonesia bisa terpengaruh. Investor perlu memantau laporan triwulanan Freeport Indonesia yang akan datang.
  • Sinyal penting: keputusan BHP terkait proyek Argentina (akhir tahun) dan restart Cerro Colorado — jika keduanya terealisasi, pasokan tembaga global bisa bertambah mulai 2-3 tahun ke depan, yang berpotensi menekan harga. Namun, dalam jangka pendek, panduan produksi BHP yang rendah justru menopang harga.

Konteks Indonesia

Berita ini sangat relevan bagi Indonesia karena Indonesia adalah produsen tembaga utama dunia melalui tambang Grasberg (Freeport Indonesia) dan Amman Mineral. Penurunan produksi BHP, terutama di Escondida yang merupakan tambang tembaga terbesar global, mengindikasikan pasokan tembaga dunia semakin ketat. Harga tembaga yang tinggi (dengan realisasi BHP naik 35-47% dalam setahun) akan langsung meningkatkan pendapatan ekspor Indonesia, memperbaiki neraca perdagangan, dan memperkuat rupiah. Selain itu, emiten tambang tembaga di BEI seperti PTFI dan AMMN akan menikmati margin yang lebih lebar. Namun, tantangan penurunan kadar bijih yang dihadapi BHP juga bisa menjadi peringatan bagi tambang-tambang di Indonesia yang sudah berusia tua untuk berinvestasi dalam teknologi peningkatan recovery atau eksplorasi cadangan baru.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.