Foto: Asia Times — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Pemakaman Khamenei yang hanya dihadiri PM Irak dan Pakistan menandai poros simpati baru — berpotensi menggeset aliansi energi dan keamanan di kawasan yang krusial bagi impor minyak dan jalur perdagangan Indonesia.
Ringkasan Eksekutif
Pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada awal Juli 2026 menjadi panggung diplomasi yang mengungkap pergeseran aliansi di Asia Barat Daya. Hanya dua negara yang mengirim perdana menteri: Irak dan Pakistan, keduanya bertetangga dengan Iran. Keputusan ini, menurut analis Asia Times, menandai lahirnya 'poros simpati' — sebuah blok baru yang memecah dikotomi sederhana Timur Tengah versus Asia Selatan. India, rival utama Pakistan dan mitra dagang penting Iran di masa lalu, justru hanya mengirim delegasi tanpa PM Narendra Modi. Modi bahkan tidak mengutuk pembunuhan Khamenei dalam serangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu. Yang tidak terlihat dari headline adalah dimensi necropolitics yang dimainkan Iran: pemakaman empat hari itu sengaja dijadikan alat untuk mengukur kesetiaan dan membentuk poros baru.
Dominique Moisi dalam bukunya The Geopolitics of Emotion membantu menjelaskan mengapa kehadiran atau ketidakhadiran pejabat tinggi bukan sekadar protokoler, melainkan sinyal aliansi yang sangat dipertimbangkan — terutama di tengah masa jabatan kedua Trump yang cenderung memperkuat tekanan terhadap Iran. Poros ini juga memanfaatkan sentimen anti-India di Pakistan dan ketergantungan Irak pada Iran di bidang energi dan keamanan. Bagi Indonesia, poros Iran-Irak-Pakistan membawa tiga jalur risiko. Pertama, harga energi: Iran adalah produsen minyak utama OPEC, dan blok baru ini bisa memicu ketegangan lebih tinggi dengan AS dan sekutunya di kawasan Teluk. Indonesia sebagai importir minyak netto akan merasakan dampak langsung jika harga minyak dunia melonjak akibat gangguan pasokan atau sanksi baru.
Kedua, stabilitas jalur perdagangan: Samudra Hindia dan Selat Malaka menjadi lebih rawan jika ketegangan bereskalasi ke tindakan militer atau blokade maritim. Ketiga, sentimen investor: setiap konflik atau pergeseran blok geopolitik cenderung memicu flight to safety ke dolar AS dan aset aman, yang sudah terlihat dari level rupiah di atas Rp17.900 dan IHSG yang stagnan di kisaran 6.200. Dalam satu hingga empat minggu ke depan, sinyal
Mengapa Ini Penting
Poros simpati Iran-Irak-Pakstan bukan sekadar berita diplomatik — ini adalah peta ulang aliansi di kawasan yang menjadi sumber utama minyak dan jalur perdagangan Indonesia. Setiap eskalasi ketegangan antara blok ini dengan AS dan sekutunya berpotensi mendorong harga minyak global naik, memperlemah rupiah, dan memicu outflow asing dari pasar keuangan Indonesia. Bagi pengusaha, kenaikan biaya energi dan logistik bisa menggerus margin di saat APBN sudah defisit dan daya beli masyarakat melambat.
Dampak ke Bisnis
- Sektor energi dan bahan bakar: Indonesia yang masih bergantung pada impor BBM akan menanggung beban lebih besar jika harga minyak naik — subsidi dan kompensasi energi bisa membengkak, mempersempit ruang fiskal untuk belanja produktif lainnya.
- Sektor keuangan dan pasar modal: sentimen risk-off global akibat ketegangan geopolitik dapat mempercepat aksi jual asing di SBN dan saham, menekan IHSG dan memperlemah rupiah lebih lanjut — risiko ini sudah mulai terlihat dari level rupiah di atas Rp17.900.
- Sektor logistik dan perdagangan internasional: jika ketegangan meluas hingga mengganggu jalur pelayaran di Samudra Hindia atau Selat Hormuz, biaya asuransi dan pengiriman akan naik — berdampak langsung pada eksportir dan importir Indonesia.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: respons resmi Amerika Serikat terhadap poros Iran-Irak-Pakstan — apakah akan ada sanksi baru, pengumuman militer, atau tekanan diplomatik yang memperdalam ketegangan kawasan.
- Risiko yang perlu dicermati: pergerakan harga minyak Brent — jika menembus level $100 per barel secara berkelanjutan, beban subsidi energi Indonesia bisa melonjak dan memicu revisi APBN.
- Sinyal penting: data arus modal asing di pasar SBN dan IHSG minggu ini — jika terjadi outflow signifikan, itu menjadi indikasi bahwa pasar sudah mulai memperhitungkan risiko geopolitik ini ke dalam harga aset Indonesia.
Konteks Indonesia
Indonesia, sebagai importir minyak netto dan negara yang bergantung pada stabilitas kawasan Teluk serta jalur perdagangan Samudra Hindia, rentan terhadap setiap eskalasi konflik di Asia Barat Daya. Poros baru Iran-Irak-Pakistan dapat meningkatkan ketegangan dengan AS dan sekutunya, memicu kenaikan harga minyak global, memperkuat dolar AS, dan mendorong outflow modal dari pasar emerging termasuk Indonesia. Meski poros ini tidak secara langsung menargetkan Indonesia, efek rambatan melalui harga energi dan sentimen investor sangat relevan bagi stabilitas makroekonomi dan bisnis di Tanah Air.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.