23 JUN 2026
PM Inggris Starmer Mundur — Risiko Politik Global Bertambah, Dolar Kuat

Foto: Asia Times — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / PM Inggris Starmer Mundur — Risiko Politik Global Bertambah, Dolar Kuat
Makro

PM Inggris Starmer Mundur — Risiko Politik Global Bertambah, Dolar Kuat

Tim Redaksi Feedberry ·22 Juni 2026 pukul 12.43 · Sinyal menengah · Sumber: Asia Times ↗
5.3 Skor

Pengunduran diri PM Inggris menambah ketidakpastian politik G7, berpotensi memicu risk-off yang mendorong penguatan dolar dan tekanan pada rupiah serta IHSG.

Urgensi
6
Luas Dampak
5
Dampak Indonesia
5

Ringkasan Eksekutif

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pemimpin Partai Labour dan akan melepaskan kursi PM dalam waktu dekat. Keputusan ini diambil setelah tekanan internal yang semakin berat pasca kekalahan telak partainya dalam pemilihan sela (byelection) di daerah pemilihan Makerfield yang dimenangkan oleh Andy Burnham. Starmer menjadi perdana menteri keenam dalam satu dekade yang harus meninggalkan jabatannya, menandai tingkat instabilitas politik yang sangat tinggi di Britania Raya sejak referendum Brexit 2016. Faktor pemicu langsung adalah runtuhnya dukungan dari kabinet dan kaukus partai setelah kekalahan dalam byelection yang dianggap sebagai referendum terhadap kepemimpinannya. Meskipun Starmer berusaha menghindari skenario 'avalanche of resignations' seperti yang dialami Boris Johnson dan Liz Truss, tekanan akhirnya tak tertahankan.

Data survei menunjukkan bahwa Starmer sudah memasuki Downing Street dengan approval rating yang sangat rendah — net satisfaction minus 21 menurut Ipsos, rekor terburuk bagi PM yang baru terpilih. Angka ini membaik tipis menjadi plus 3 pasca pemilu, namun tidak pernah mencapai level euforia seperti yang dinikmati Tony Blair atau David Cameron. Dampak global dari pengunduran diri ini perlu dicermati, terutama dalam konteks pergerakan pasar keuangan. Ketidakpastian politik di Inggris, salah satu pusat keuangan terbesar dunia, dapat memicu aksi risk-off di pasar global. Investor cenderung beralih ke aset aman seperti dolar AS dan emas, yang berpotensi memperkuat indeks dolar broad yang saat ini berada di level 119,51 (berdasarkan data FRED).

Penguatan dolar AS biasanya menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah yang sudah berada di level 17.814 per dolar AS — salah satu titik tertinggi dalam satu tahun terakhir. Jika tekanan risk-off berlanjut, IHSG yang saat ini di 6.117 juga rentan terhadap arus keluar modal asing, mengingat asing masih memegang porsi signifikan di saham-saham blue-chip Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Meskipun Inggris bukan mitra dagang utama Indonesia secara volume, ketidakstabilan politik di negara G7 selalu berdampak pada sentimen global. Pengunduran diri Starmer menambah daftar panjang krisis politik Inggris yang dapat mempengaruhi kepercayaan investor terhadap pasar Eropa dan secara tidak langsung emerging market seperti Indonesia, terutama melalui jalur penguatan dolar AS dan aksi risk-off di pasar saham.

Dampak ke Bisnis

  • Penguatan dolar AS akibat risk-off global dapat memperlemah rupiah lebih lanjut. Bagi importir dan emiten yang memiliki utang dalam denominasi dolar (seperti sektor energi, infrastruktur, dan manufaktur), biaya pembayaran utang dan impor bahan baku akan meningkat, menekan margin laba.
  • Jika tekanan jual asing berlanjut, IHSG berpotensi terkoreksi lebih dalam. Sektor yang memiliki porsi kepemilikan asing tinggi seperti perbankan (BBCA, BBRI, BMRI) dan konsumer akan paling terpengaruh. Arus keluar modal asing dapat mempercepat pelemahan rupiah dan menekan valuasi saham.
  • Ketidakpastian politik Inggris dapat menunda atau mengubah arah investasi langsung asing (FDI) dari Inggris ke Indonesia, terutama di sektor jasa keuangan, infrastruktur, dan energi terbarukan. Inggris merupakan salah satu investor Eropa terbesar di Indonesia — proyek-proyek yang sedang dalam pipeline bisa terhambat.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: proses suksesi kepemimpinan Partai Labour dan pengumuman PM baru Inggris — transisi yang cepat dan mulus akan meredam risiko, sementara kekacauan politik domestik dapat memperpanjang ketidakpastian.
  • Risiko yang perlu dicermati: pelemahan poundsterling dan kenaikan yield obligasi Inggris — jika pasar menilai PM baru kurang kredibel dalam fiskal, risiko contagion ke emerging market bisa meningkat melalui penguatan dolar AS.
  • Sinyal penting: pergerakan USD/IDR — jika tembus ke atas 18.000, tekanan terhadap rupiah akan semakin struktural dan berpotensi memicu intervensi BI yang lebih agresif.

Konteks Indonesia

Inggris adalah salah satu mitra dagang utama Indonesia di Eropa, dengan nilai perdagangan bilateral yang signifikan di sektor minyak sawit, tekstil, dan permesinan. Selain itu, banyak perusahaan Inggris yang berinvestasi di sektor keuangan, infrastruktur, dan energi di Indonesia. Ketidakstabilan politik di Inggris dapat mempengaruhi iklim investasi bilateral, terutama jika PM baru mengubah prioritas kebijakan luar negeri atau perdagangan. Namun, dampak langsung terhadap ekonomi Indonesia diperkirakan terbatas dalam jangka pendek, dengan efek utama melalui sentimen pasar global dan pergerakan nilai tukar.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.