28 MEI 2026
Pertumbuhan Upah Singapura Melambat ke 4,9% pada 2025, Upah Riil Naik 4% Berkat Inflasi Rendah

Foto: CNA Business — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / Pertumbuhan Upah Singapura Melambat ke 4,9% pada 2025, Upah Riil Naik 4% Berkat Inflasi Rendah
Makro

Pertumbuhan Upah Singapura Melambat ke 4,9% pada 2025, Upah Riil Naik 4% Berkat Inflasi Rendah

Tim Redaksi Feedberry ·28 Mei 2026 pukul 03.00 · Sinyal tinggi · Sumber: CNA Business ↗
5 Skor

Data upah Singapura 2025 relevan sebagai indikator konsumsi dan permintaan regional, namun dampak langsung ke Indonesia bersifat tidak langsung dan terbatas. Urgensi rendah karena bukan data kejutan besar; breadth sedang karena menyentuh sektor tenaga kerja, ekspor, dan remitansi; dampak ke Indonesia cukup signifikan lewat jalur perdagangan dan tenaga kerja.

Urgensi
4
Luas Dampak
5
Dampak Indonesia
6
Analisis Indikator Makro
Indikator
Pertumbuhan Upah Nominal Pekerja Residen Penuh Waktu (Singapura)
Nilai Terkini
4,9% (2025)
Nilai Sebelumnya
5,6% (2024)
Perubahan
turun 0,7 poin persentase
Tren
turun
Sektor Terdampak
Ekspor Indonesia ke SingapuraRemitansi TKIPariwisata inbound dari SingapuraPerusahaan multinasional di Singapura

Ringkasan Eksekutif

Kementerian Tenaga Kerja Singapura (MOM) merilis data upah full-time resident employees pada 28 Mei 2026, menunjukkan pertumbuhan upah nominal melambat menjadi 4,9% pada 2025 dari 5,6% pada 2024. Namun, setelah disesuaikan dengan inflasi yang turun drastis, upah riil justru tumbuh lebih cepat: 4% pada 2025 dibandingkan 3,2% pada 2024. Inflasi inti Singapura rata-rata hanya 0,7% pada 2025, turun dari 2,8% pada 2024, sehingga daya beli pekerja meningkat signifikan. Meski demikian, proporsi perusahaan yang menaikkan gaji turun dari 78,3% menjadi 72,4%, menandakan kehati-hatian pengusaha di tengah prospek ketidakpastian global. MOM memproyeksikan pertumbuhan upah riil tetap positif pada 2026, namun lajunya akan moderat karena tekanan inflasi diperkirakan naik dan faktor geopolitik masih membayangi.

Data ini penting karena Singapura adalah pusat ekonomi regional dan mitra dagang utama Indonesia, sehingga perubahan daya beli pekerja Singapura berdampak langsung pada permintaan impor barang konsumsi, jasa pariwisata, dan tenaga kerja Indonesia. Sektor yang paling terpengaruh adalah ekspor non-migas Indonesia ke Singapura, remitansi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Singapura, serta industri pariwisata yang bergantung pada wisatawan Singapura. Pertumbuhan upah riil yang solid di 2025 menjadi angin segar bagi permintaan, namun prospek moderat di 2026 mengindikasikan bahwa pengusaha Singapura masih bersikap hati-hati. Bagi pelaku bisnis Indonesia yang menjual ke Singapura, ini berarti perlu mengamati tren konsumsi dan kebijakan upah ke depan.

Yang tidak terlihat dari headline adalah bahwa kenaikan upah riil ini terjadi bersamaan dengan peningkatan profitabilitas perusahaan—83,1% perusahaan untung pada 2025, naik dari 80,8%—yang menunjukkan bahwa perusahaan sebenarnya mampu menaikkan gaji lebih tinggi, namun memilih untuk menahan diri. Ini bisa menjadi sinyal bahwa mereka mengantisipasi perlambatan ekonomi global atau kenaikan biaya lain di masa depan. Dampak bagi Indonesia: jika tren kehati-hatian berlanjut, ekspor Indonesia ke Singapura mungkin tumbuh lebih lambat, terutama barang-barang konsumsi non-primer.

Di sisi lain, TKI yang bekerja di Singapura menikmati kenaikan upah riil, sehingga remitansi ke Indonesia bisa meningkat, menjadi penyangga konsumsi rumah tangga di daerah asal TKI. Namun, karena inflasi di Singapura diproyeksikan naik pada 2026, kenaikan upah riil mungkin tergerus, yang perlu diwaspadai oleh keluarga penerima remitansi. Secara keseluruhan, data ini memperkuat gambaran bahwa ekonomi Singapura masih dalam fase ekspansi moderat, dengan pasar tenaga kerja yang ketat namun tidak overheat. Bagi investor Indonesia, data ini juga relevan sebagai indikator kesehatan ekonomi regional—Singapura sering menjadi leading indicator bagi ekonomi Asia Tenggara. Jika upah riil terus tumbuh positif, konsumsi domestik Singapura terjaga, yang baik bagi mitra dagangnya termasuk Indonesia.

Namun, jika ketidakpastian geopolitik memburuk atau inflasi kembali naik tajam, perusahaan Singapura bisa semakin menahan kenaikan upah, menekan daya beli dan impor.

Mengapa Ini Penting

Berita ini penting karena Singapura adalah mitra dagang terbesar ketiga Indonesia dan sumber investasi asing langsung yang signifikan. Pertumbuhan upah riil yang melambat di 2026, meski tetap positif, dapat menekan permintaan impor dari Indonesia serta memengaruhi pendapatan TKI. Di sisi lain, kenaikan upah riil 2025 yang solid menunjukkan bahwa konsumsi Singapura masih kuat, memberikan kelegaan bagi eksportir Indonesia. Yang berubah secara struktural adalah sikap kehati-hatian pengusaha yang tercermin dari proporsi perusahaan menaikkan gaji yang turun—ini bisa menjadi pola baru jika tekanan global berlanjut.

Dampak ke Bisnis

  • Eksportir Indonesia ke Singapura, khususnya produk konsumsi (makanan, minuman, pakaian, elektronik), akan terpengaruh oleh perubahan daya beli pekerja Singapura. Pertumbuhan upah riil 4% pada 2025 mendukung permintaan, namun prospek moderat di 2026 membatasi potensi lonjakan ekspor.
  • TKI di Singapura (sekitar 250.000 orang) menikmati kenaikan upah riil 2025, yang berpotensi meningkatkan remitansi ke Indonesia. Namun, jika inflasi Singapura naik pada 2026 seperti diproyeksikan, manfaat ini bisa berkurang. Bisnis jasa keuangan dan agen penyalur TKI perlu memantau tren ini.
  • Sektor pariwisata Indonesia yang bergantung pada wisatawan Singapura (salah satu sumber turis mancanegara terbesar) akan diuntungkan oleh daya beli yang lebih baik, meski perlu dicatat bahwa biaya perjalanan juga dipengaruhi nilai tukar. Rupiah yang lemah (USD/IDR 17.785) membuat Indonesia makin terjangkau bagi turis Singapura.
  • Perusahaan multinasional Indonesia yang beroperasi di Singapura atau memiliki tenaga kerja asing harus menyesuaikan strategi kompensasi. Data MOM menunjukkan tren kehati-hatian dalam kenaikan gaji, yang bisa menjadi benchmark bagi ekspatriat Indonesia di Singapura.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: data inflasi inti Singapura semester I 2026—jika naik di atas 1%, pertumbuhan upah riil bisa tergerus dan menekan konsumsi, berdampak pada permintaan ekspor Indonesia.
  • Risiko yang perlu dicermati: ketidakpastian geopolitik global yang disebut MOM—eskalasi perang dagang atau ketegangan kawasan dapat membuat perusahaan Singapura semakin berhati-hati dalam menaikkan gaji, memperlemah permintaan impor.
  • Sinyal penting: rilis data PDB Singapura kuartal II 2026 (Juli mendatang) serta survei bisnis MOM berikutnya—jika proporsi perusahaan yang menaikkan gaji turun lagi di bawah 70%, itu indikasi perlambatan konsumsi yang serius.

Konteks Indonesia

Singapura adalah mitra dagang utama Indonesia. Data upah ini memberi gambaran daya beli konsumen Singapura, yang memengaruhi permintaan ekspor Indonesia seperti udang, kopi, furnitur, dan tekstil. Selain itu, TKI di Singapura mengirimkan remitansi sekitar USD 2 miliar per tahun; kenaikan upah riil 2025 berarti peningkatan pendapatan bagi keluarga di Indonesia, sedangkan prospek moderat 2026 mengisyaratkan kewaspadaan. Bagi investor yang terpapar saham sektor konsumen seperti HMSP, ICBP, atau UNVR, data ini relevan karena konsumsi Singapura dapat menjadi salah satu proxy permintaan regional.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.