21 JUL 2026
Persepsi Global China Ungguli AS, Namun Beijing Justru Tarik Diri dari Globalisasi — Implikasi bagi RI

Foto: Asia Times — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / Persepsi Global China Ungguli AS, Namun Beijing Justru Tarik Diri dari Globalisasi — Implikasi bagi RI
Makro

Persepsi Global China Ungguli AS, Namun Beijing Justru Tarik Diri dari Globalisasi — Implikasi bagi RI

Tim Redaksi Feedberry ·21 Juli 2026 pukul 01.39 · Sinyal menengah · Sumber: Asia Times ↗
7.3 Skor

Survei Pew menunjukkan pergeseran persepsi global yang dapat memengaruhi aliansi dan arus perdagangan; paradoks China menarik diri dari globalisasi berpotensi mengganggu rantai pasok dan investasi di Indonesia.

Urgensi
6
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Sebuah survei Pew Research Centre baru-baru ini mengungkapkan bahwa di sebagian besar dari 36 negara yang disurvei, warga kini memandang China lebih positif dibandingkan Amerika Serikat. Lebih banyak responden juga menyatakan keyakinan pada Xi Jinping daripada Donald Trump dalam urusan dunia. Temuan ini mengindikasikan bahwa posisi internasional Beijing semakin kuat sementara citra global Washington melemah. Namun, di balik pengaruh China yang tumbuh, terdapat paradoks yang mencolok: meskipun Beijing tampak lebih percaya diri di luar negeri, di dalam negeri ia justru semakin sibuk mengurangi ketergantungan pada jejaring global yang memungkinkan kebangkitannya. Artikel Asia Times ini menjelaskan bahwa jawabannya bukan sekadar pada tarif, semikonduktor, atau geopolitik, melainkan pada cara Beijing menafsirkan kebangkitannya sendiri, khususnya hubungan antara globalisasi, ketergantungan, dan kekuasaan nasional.

Perbedaan fundamental terletak pada visi globalisasi. Barat mengintegrasikan China ke ekonomi global dengan harapan akan mendorong liberalisasi politik dan keselarasan dengan tatanan liberal. Sebaliknya, Beijing memandang keterbukaan ekonomi semata-mata sebagai alat untuk menghasilkan kekayaan dan kemampuan teknologi demi kebangkitan nasional. Globalisasi bukanlah tujuan akhir, melainkan tahap dalam proyek nasional jangka panjang. Bagi Indonesia, paradoks ini memiliki implikasi yang dalam. China adalah mitra dagang terbesar dan investor utama di sektor komoditas, infrastruktur, dan manufaktur. Jika China benar-benar mengurangi ketergantungan pada globalisasi, arus investasi dan perdagangan ke Indonesia bisa terpengaruh.

Di sisi lain, kebijakan "China +1" yang mendorong diversifikasi rantai pasok keluar China dapat membuka peluang bagi Indonesia sebagai tujuan relokasi pabrik. Namun, jika proteksionisme China meningkat, akses ekspor komoditas Indonesia seperti batu bara, nikel, dan CPO ke pasar China bisa menghadapi hambatan baru. Rivalitas AS-China yang kian tajam juga meningkatkan risiko geopolitik di kawasan, yang dapat memicu aksi jual aset berisiko dan menekan rupiah serta IHSG.

Mengapa Ini Penting

Perubahan strategi China dari globalisasi ofensif menjadi defensif menandai pergeseran struktural dalam ekonomi dunia. Bagi Indonesia yang ekonominya terkait erat dengan China melalui perdagangan dan investasi, memahami logika baru Beijing adalah kunci untuk mengantisipasi risiko dan peluang. Jika China menarik diri dari rantai pasok global, Indonesia harus siap menghadapi potensi penurunan ekspor komoditas dan investasi, sambil memanfaatkan celah diversifikasi yang tercipta.

Dampak ke Bisnis

  • Penurunan permintaan China terhadap komoditas Indonesia (batu bara, nikel, CPO) dapat menekan harga ekspor dan laba emiten tambang dan perkebunan. Perusahaan seperti ADRO, PTBA, ITMG, AALI, dan ANTM perlu memantau kebijakan impor China ke depan.
  • Investasi langsung China di Indonesia, terutama di sektor infrastruktur (KA cepat, smelter) dan manufaktur, bisa melambat jika Beijing memprioritaskan kemandirian domestik. Proyek-proyek yang bergantung pada pendanaan dan teknologi China perlu dikaji ulang kepastiannya.
  • Rivalitas AS-China yang meningkat meningkatkan risiko geopolitik di Asia Pasifik. Hal ini dapat memicu capital outflow dari emerging market, termasuk Indonesia, memperlemah rupiah, dan menaikkan yield SBN, sehingga membebani emiten dengan utang dolar dan sektor properti yang sensitif suku bunga.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pidato atau dokumen kebijakan resmi China (seperti Rencana Lima Tahun ke-15) yang menegaskan arah keterbukaan atau proteksionisme ekonomi.
  • Risiko yang perlu dicermati: eskalasi perang teknologi AS-China, termasuk larangan ekspor semikonduktor dan perangkat lunak, yang dapat memperlambat pertumbuhan industri manufaktur China dan mengurangi permintaan bahan baku Indonesia.
  • Sinyal penting: data ekspor Indonesia ke China bulanan dari BPS — jika pertumbuhan melambat di bawah tren, itu indikasi awal melemahnya permintaan struktural dari China.

Konteks Indonesia

China adalah mitra dagang terbesar Indonesia, dengan nilai perdagangan bilateral mencapai puluhan miliar dolar per tahun. Indonesia juga menjadi salah satu tujuan utama investasi China di sektor sumber daya alam, terutama nikel dan batu bara. Survei Pew yang menunjukkan peningkatan persepsi positif terhadap China dapat memperkuat posisi Beijing dalam negosiasi bilateral, namun paradoks yang diungkap artikel — China justru mengurangi ketergantungan pada globalisasi — mengindikasikan bahwa investasi dan perdagangan China ke Indonesia mungkin tidak akan tumbuh secepat sebelumnya. Di sisi lain, jika China benar-benar menarik diri dari rantai pasok global, Indonesia berpotensi menjadi tujuan relokasi pabrik dari China (China +1), terutama di sektor elektronik dan tekstil. Namun, ketidakpastian geopolitik akibat rivalitas AS-China dapat menghambat arus modal masuk. Perusahaan Indonesia yang bergantung pada pasar China untuk ekspor komoditas harus bersiap menghadapi volatilitas permintaan, sementara yang bergantung pada impor barang modal China harus mengantisipasi potensi gangguan pasokan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.