22 AGS 2026
Perpres Ojol Akan Atur Tarif Antar Makanan — Maxim Khawatir Order Turun

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / Perpres Ojol Akan Atur Tarif Antar Makanan — Maxim Khawatir Order Turun
Kebijakan

Perpres Ojol Akan Atur Tarif Antar Makanan — Maxim Khawatir Order Turun

Tim Redaksi Feedberry ·21 Agustus 2026 pukul 13.26 · Sinyal menengah · Sumber: Katadata ↗
7 Skor

Regulasi tarif ojol menyentuh ekosistem yang menghubungkan jutaan pengemudi, UMKM, dan konsumen; keputusan tarif bisa mengubah keseimbangan ekonomi platform secara nasional.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
Peraturan Presiden tentang Ekosistem Transportasi Digital (Perpres Ojol)
Penerbit
Pemerintah Indonesia (Presiden)
Perubahan Kunci
  • ·Mengatur tarif layanan pengantaran makanan dan barang berbasis aplikasi
  • ·Menyiapkan penentuan tarif minimum dan maksimum untuk layanan ojol
Pihak Terdampak
Maxim Indonesia dan platform ride-hailing lainKurir dan pengemudi ojolUMKM yang menggunakan layanan antar makanan dan barangKonsumen pengguna layanan ojol

Ringkasan Eksekutif

Pemerintah tengah menyiapkan Peraturan Presiden tentang Ekosistem Transportasi Digital atau Perpres Ojol yang akan mengatur tarif layanan pengantaran makanan dan barang berbasis aplikasi. Maxim Indonesia, salah satu platform ride-hailing yang lebih kecil dari kompetitor utamanya, mengingatkan bahwa penetapan tarif minimum yang terlalu tinggi berpotensi menurunkan jumlah pesanan secara signifikan. Development Director Maxim Indonesia, Dirhamsyah, menegaskan bahwa pengaturan tarif perlu dikaji secara mendalam dengan melibatkan berbagai pihak, karena jika salah hitung, dampaknya akan beruntun ke pelaku usaha kecil dan pendapatan kurir atau pengemudi. Perusahaan menilai kenaikan ongkos kirim akan membuat masyarakat mengurangi frekuensi penggunaan layanan antar makanan dan barang.

Ketika permintaan turun, jumlah pesanan yang diterima pengemudi ikut berkurang, sehingga pendapatan mereka justru bisa tergerus — bertentangan dengan tujuan awal regulasi yang ingin melindungi kurir. Maxim juga menyebut sejumlah faktor yang harus masuk dalam pertimbangan penentuan tarif: daya beli konsumen, biaya yang dikeluarkan kurir untuk menyediakan layanan, daya tarik pendapatan bagi mitra, tingkat persaingan antarplatform, serta tingkat permintaan terhadap jasa pengantaran. Jika salah satu faktor diabaikan, ekosistem bisa terganggu secara keseluruhan. Yang tidak terlihat dari headline ini adalah dimensi persaingan usaha di sektor ojol. Maxim, sebagai pemain dengan pangsa pasar lebih kecil, kemungkinan terdampak lebih berat dibanding platform besar yang memiliki subsidi dan skala lebih luas.

Regulasi yang menaikkan tarif minimum secara seragam bisa menjadi bumerang bagi pemain kecil: mereka tidak memiliki bantalan modal untuk menyerap kenaikan biaya logistik jika permintaan menyusut.

Di sisi lain, tarif yang dipatok terlalu rendah juga berbahaya karena menciptakan harga artifisial yang membuat layanan pengantaran tidak lagi menguntungkan secara industri. Ini berarti pemerintah berjalan di tali tipis antara melindungi konsumen dan menjaga keberlangsungan usaha platform serta mitra pengemudi. Dalam 1–4 minggu ke depan,

Mengapa Ini Penting

Regulasi tarif ojol ini bukan sekadar soal ongkos kirim — ini adalah preseden kebijakan untuk seluruh ekonomi platform di Indonesia. Cara pemerintah menyusun tarif akan menentukan keseimbangan antara perlindungan konsumen, kesejahteraan kurir, dan keberlanjutan bisnis platform. Jika minimum tariff ditetapkan tanpa data permintaan yang kuat, risiko terbesarnya adalah penurunan volume order yang justru memiskinkan kurir dan UMKM yang mengandalkan delivery.

Dampak ke Bisnis

  • Platform kecil seperti Maxim menghadapi risiko ganda: tarif minimum tinggi berpotensi menggeser konsumen ke operator dengan subsidi lebih besar, atau membuat order turun drastis karena harga naik. Kecilnya skala usaha membuat mereka tidak punya ruang untuk menyerap kenaikan biaya atau mempertahankan insentif kurir.
  • UMKM kuliner dan ritel yang bergantung pada layanan antar makanan — terutama yang tidak memiliki kanal penjualan offline kuat — akan merasakan dampak langsung berupa penurunan permintaan jika ongkos kirim naik. Ini berpotensi memangkas margin mereka yang sudah tipis, atau memaksa mereka menyerap biaya kirim agar harga tetap kompetitif.
  • Kurir dan pengemudi yang selama ini mendapat bonus dari volume order justru berisiko kehilangan pendapatan jika order menurun. Efek ini mungkin baru terasa 3-6 bulan setelah tarif baru berlaku, ketika pola konsumsi masyarakat sudah menyesuaikan diri dengan ongkos yang lebih mahal.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: perkembangan finalisasi naskah Perpres Ojol — apakah tarif minimum ditetapkan di level yang moderat atau tinggi; ini akan menjadi sinyal awal dampaknya terhadap volume order.
  • Risiko yang perlu dicermati: respons platform besar (Gojek, Grab, ShopeeFood) terhadap tarif baru — jika mereka menaikkan komisi atau mengurangi subsidi, efeknya ke kurir dan UMKM bisa lebih dalam dari perkiraan.
  • Sinyal penting: uji coba atau simulasi tarif oleh Kementerian Perhubungan bersama platform — data perubahan permintaan konsumen akan menjadi indikator kunci untuk mengukur seberapa besar penurunan order yang terjadi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.