19 JUN 2026
Perak Turun 0,99% ke US$65,06 — YTD Terkoreksi 8,47%, Gold/Silver Ratio 64

Foto: FXStreet — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Perak Turun 0,99% ke US$65,06 — YTD Terkoreksi 8,47%, Gold/Silver Ratio 64
Pasar

Perak Turun 0,99% ke US$65,06 — YTD Terkoreksi 8,47%, Gold/Silver Ratio 64

Tim Redaksi Feedberry ·19 Juni 2026 pukul 09.32 · Sinyal tinggi · Sumber: FXStreet ↗
3 Skor

Penurunan harga perak harian dan YTD signifikan, tetapi dampak langsung ke Indonesia terbatas karena peran perak dalam ekspor dan industri masih kecil dibanding emas atau nikel.

Urgensi
4
Luas Dampak
3
Dampak Indonesia
2
Analisis Komoditas
Komoditas
Perak (XAG/USD)
Harga Terkini
US$65,06 per troy ounce
Perubahan Harga
-0,99% harian, -8,47% year-to-date
Faktor Supply
  • ·Pasokan tambang dan tingkat daur ulang mempengaruhi ketersediaan perak di pasar global.
  • ·Perak jauh lebih melimpah daripada emas, sehingga tekanan dari sisi supply lebih besar.
Faktor Demand
  • ·Permintaan investasi sebagai safe haven dan lindung nilai inflasi, meskipun lebih rendah dari emas.
  • ·Permintaan industri, terutama sektor elektronik dan energi surya karena konduktivitas listrik tinggi perak.
  • ·Dinamika ekonomi AS, China, dan India berpengaruh terhadap konsumsi perak untuk perhiasan dan industri.

Ringkasan Eksekutif

Harga perak (XAG/USD) turun 0,99% ke US$65,06 per troy ounce pada penutupan perdagangan Jumat, melemah dari posisi US$65,71 sehari sebelumnya. Secara year-to-date, perak telah terkoreksi 8,47%, menunjukkan tren pelemahan yang cukup dalam sepanjang 2026. Rasio emas-perak bertahan di 64,01, nyaris tidak berubah dari 64,06 pada hari sebelumnya — artinya diperlukan lebih dari 64 ons perak untuk membeli satu ons emas, level yang tergolong tinggi secara historis dan mengindikasikan perak relatif lebih murah dibanding emas. Namun, belum ada sinyal pembalikan arah yang jelas dari data perdagangan. Penurunan perak tidak terlepas dari tekanan eksternal yang masih membayangi logam mulia secara umum.

Suku bunga acuan Amerika Serikat yang masih di level 3,63% membuat aset tanpa imbal hasil seperti perak kurang menarik dibanding instrumen berbunga. Ditambah lagi, indeks dolar broad (tertimbang-dagang) berada di 119,51 — area tinggi yang menekan harga komoditas yang dihargai dalam dolar. Permintaan industri, yang menjadi pilar utama konsumsi perak (terutama di sektor elektronik dan energi surya), belum mencatat lonjakan berarti. Data terkait dari artikel sebelumnya menunjukkan bahwa volume perdagangan perak juga belum menunjukkan lonjakan signifikan, sehingga koreksi harga ini lebih merupakan tekanan makro daripada aksi jual massal. Bagi Indonesia, dampak langsung penurunan harga perak relatif terbatas karena perak bukan komoditas ekspor utama seperti batu bara, CPO, atau nikel.

Namun, beberapa emiten tambang emas nasional seperti Antam (ANTM) dan Merdeka Copper Gold (MDKA) juga memproduksi perak sebagai produk sampingan. Penurunan harga perak berpotensi menekan pendapatan dari segmen logam mulia mereka, meskipun kontribusi perak terhadap total pendapatan biasanya kecil. Dari sisi neraca perdagangan, perak hanya menyumbang fraksi kecil dari total ekspor, sehingga dampak ke surplus perdagangan Indonesia hampir tidak terasa. Namun, jika tren pelemahan perak berlanjut, sentimen negatif di pasar komoditas global bisa menjalar ke emiten pertambangan lainnya melalui efek psikologis investor.

Mengapa Ini Penting

Penurunan harga perak sebesar 8,47% YTD memperkuat narasi bahwa logam mulia sedang tertekan oleh kebijakan moneter ketat AS. Meski dampak langsung ke Indonesia kecil, koreksi ini menjadi indikator risiko bagi emiten tambang yang memiliki produk sampingan perak, sekaligus mengurangi daya tarik diversifikasi ke aset safe haven di tengah ketidakpastian global.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten tambang emas Indonesia seperti Antam dan Merdeka Copper Gold yang memproduksi perak sebagai produk sampingan akan mencatat pendapatan lebih rendah dari segmen logam mulia, meskipun kontribusinya kecil terhadap total revenue.
  • Sektor industri yang menggunakan perak sebagai bahan baku, seperti produsen panel surya dan komponen elektronik, bisa menikmati biaya input yang lebih murah jika harga perak terus turun, meningkatkan margin keuntungan.
  • Penurunan harga perak juga dapat mengurangi minat investor ritel Indonesia terhadap produk investasi logam mulia seperti tabungan emas dan perak, karena ekspektasi return yang lebih rendah dalam jangka pendek.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: harga emas global sebagai leading indicator — jika emas turun di bawah US$4.000/oz, perak berisiko ikut terkoreksi lebih dalam ke area US$62-63.
  • Risiko yang perlu dicermati: rilis data inflasi AS (CPI) berikutnya; jika angka tetap sticky, ekspektasi penurunan suku bunga Fed mundur, menekan logam mulia lebih lanjut.
  • Sinyal penting: Gold/Silver Ratio di atas 65 — jika rasio terus naik tanpa diikuti kenaikan perak, bisa menjadi sinyal oversold yang memicu rebound teknikal.

Konteks Indonesia

Penurunan harga perak global berdampak terbatas pada Indonesia karena perak bukan komoditas ekspor utama. Namun, emiten tambang emas seperti Antam (ANTM) dan Merdeka Copper Gold (MDKA) memproduksi perak sebagai produk sampingan. Penurunan harga perak berpotensi sedikit menekan pendapatan mereka, meskipun kontribusinya terhadap total pendapatan kecil. Di sisi lain, industri manufaktur dalam negeri yang menggunakan perak sebagai bahan baku (misalnya produsen komponen elektronik) justru bisa diuntungkan oleh biaya input yang lebih rendah.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.