16 JUN 2026
Perak Naik 0,70% ke US$70,51 — YTD Tersisa -0,81%, Gold/Silver Ratio 61,56

Foto: FXStreet — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Perak Naik 0,70% ke US$70,51 — YTD Tersisa -0,81%, Gold/Silver Ratio 61,56
Pasar

Perak Naik 0,70% ke US$70,51 — YTD Tersisa -0,81%, Gold/Silver Ratio 61,56

Tim Redaksi Feedberry ·16 Juni 2026 pukul 09.30 · Sumber: FXStreet ↗
4 Skor

Kenaikan harian tergolong kecil, tetapi YTD yang negatif dan rasio emas-perak yang tinggi memberi sinyal bawah permukaan, meski dampak langsung ke Indonesia masih terbatas.

Urgensi
5
Luas Dampak
4
Dampak Indonesia
3

Ringkasan Eksekutif

Perak (XAG/USD) ditutup naik 0,70% ke US$70,51 per troy ounce pada Selasa, setelah dibuka di US$70,02 pada Senin. Pergerakan ini masih dalam tren menurun sejak awal tahun, dengan harga terkoreksi 0,81% secara year-to-date. Rasio emas-perak (Gold/Silver Ratio) bertahan di 61,56, tidak berubah signifikan dari 61,55 sehari sebelumnya. Angka ini menandai level yang relatif tinggi, mengindikasikan bahwa emas lebih mahal dibandingkan perak secara historis. Meski naik tipis, volume perdagangan belum menunjukkan lonjakan signifikan, sehingga perlu dikonfirmasi apakah ini rebound teknikal atau awal pembalikan arah.

Mengapa Ini Penting

Rasio emas-perak 61,56 sering dianggap oleh analis sebagai indikasi bahwa perak undervalued relatif terhadap emas. Jika investor mulai melakukan pair trade (beli perak, jual emas), hal ini dapat mendorong aliran masuk ke perak. Namun, kenaikan perak ini terjadi di tengah suku bunga AS yang masih tinggi (Fed Funds Rate 3,63%) dan yield US 10-tahun 4,48%, yang umumnya menjadi headwind bagi aset tanpa imbal hasil. Artinya, kenaikan saat ini lebih didorong oleh safe-haven demand daripada ekspektasi suku bunga rendah, dan jika sentimen risk-on kembali, perak bisa tertekan.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi emiten tambang emas Indonesia (ANTM, MDKA), harga perak yang lebih tinggi dapat menambah pendapatan dari produk sampingan (silver by-product), namun bobotnya kecil dibanding emas. Efeknya terhadap laba bersih diperkirakan marginal.
  • Di sektor industri, perak digunakan dalam panel surya dan elektronik. Kenaikan harga perak berpotensi menaikkan biaya produksi bagi perusahaan manufaktur yang mengandalkan komponen perak, meskipun dampaknya tertunda dan bergantung pada kontrak pasokan.
  • Sentimen global terhadap logam mulia dapat mempengaruhi aliran dana ke reksa dana atau ETF berbasis emas/perak di Indonesia, namun volumenya masih kecil dibandingkan instrumen lain.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: data inflasi dan tenaga kerja AS dalam dua pekan ke depan — jika data lebih lemah dari ekspektasi, spekulasi pemangkasan suku bunga dapat kembali mendorong harga perak naik.
  • Risiko yang perlu dicermati: penguatan dolar AS yang berkepanjangan — indeks dolar broad (trade-weighted) masih di 119,51, dan jika terus naik, perak sebagai aset berdenominasi dolar akan tertekan.
  • Sinyal penting: rasio emas-perak — jika menembus di atas 63, bisa menandakan perak semakin underperformed dan memicu aksi beli value hunting; sebaliknya jika turun di bawah 60, menandakan perak mulai outperforming emas.

Konteks Indonesia

Indonesia bukan produsen utama perak global, tetapi harga perak berkorelasi dengan harga emas dan sentimen risiko global. Kenaikan silver price dapat memengaruhi persepsi investor terhadap sektor tambang logam mulia dalam negeri, terutama emiten yang memiliki produksi sampingan perak. Namun, kontribusinya terhadap fundamental makro Indonesia masih sangat kecil.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.