11 JUN 2026
Panas Bumi Indonesia Bergeser ke Lapangan Mahal dan Berisiko — Investor Wajib Cermat

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / Panas Bumi Indonesia Bergeser ke Lapangan Mahal dan Berisiko — Investor Wajib Cermat
Makro

Panas Bumi Indonesia Bergeser ke Lapangan Mahal dan Berisiko — Investor Wajib Cermat

Tim Redaksi Feedberry ·11 Juni 2026 pukul 00.05 · Sumber: Katadata ↗
7.7 Skor

Pergeseran ke lapangan temperatur rendah-menengah meningkatkan risiko investasi dan biaya proyek, di tengah tekanan fiskal dan moneter yang sudah tinggi — berdampak langsung pada realisasi target EBT dan iklim investasi sektor energi.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Industri panas bumi Indonesia menghadapi titik balik. Selama dua dekade terakhir, pengembangan bertumpu pada lapangan bertemperatur tinggi — seperti Kamojang, Darajat, dan Sarulla — yang terbukti ekonomis dan menghasilkan kapasitas terpasang 2,7 GW, menjadikan Indonesia produsen listrik panas bumi terbesar kedua global. Namun, lebih dari 50% dari total potensi 23,7 GW nasional kini masuk kategori temperatur rendah-menengah (di bawah 225°C). Artinya, fase ekspansi ke depan tidak bisa lagi mengulang formula lama. Pemerintah melalui Kementerian ESDM telah melakukan market sounding pada 2025 untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dan Wilayah Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (WPSPE) yang didominasi lapangan non-vulkanik bersuhu rendah hingga menengah, tersebar di Sumatera dan Sulawesi. Dari sisi teknis dan keekonomian, lapangan generasi baru ini jauh lebih menantang.

Output listrik per sumur lebih kecil, sehingga pengembang harus mengebor lebih banyak sumur untuk mencapai kapasitas yang sama. Biaya pemboran satu sumur panas bumi diperkirakan US$7–9 juta (sekitar Rp126–162 miliar dengan kurs Rp18.000 per dolar AS). Akumulasi belanja modal ini melonjak drastis. Selain itu, konsumsi daya internal (parasitic load) pada lapangan entalpi rendah lebih tinggi, semakin menekan efisiensi operasional. Hambatan ini terjadi tepat ketika kondisi fiskal Indonesia sedang ketat — defisit APBN hingga Maret 2026 mencapai Rp240,1 triliun (0,93% PDB) dan keseimbangan primer negatif Rp95,8 triliun, artinya utang baru digunakan untuk membayar bunga utang lama. Pemerintah baru saja menaikkan harga BBM jenis tertentu sebesar 32%, menambah tekanan biaya hidup dan berpotensi memperlebar defisit subsidi energi.

Bagi investor, proyek panas bumi generasi baru memerlukan kepastian insentif fiskal, harga jual listrik (feed-in tariff) yang kompetitif, serta kepastian regulasi. Tanpa itu, risiko ketidaklayakan ekonomi semakin tinggi, apalagi di tengah suku bunga tinggi global. Di sisi makro, Bank Indonesia sedang mempertahankan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi untuk menarik investor asing — sinyal bahwa likuiditas global ketat dan biaya pendanaan proyek padat modal seperti panas bumi akan terus tertekan. Harga minyak Brent yang masih di sekitar US$95 per barel menambah biaya impor energi dan memperburuk defisit transaksi berjalan, sehingga rupiah tetap rentan di sekitar Rp17.966 per dolar AS.

Mengapa Ini Penting

Panas bumi adalah tulang punggung energi hijau Indonesia dan target bauran energi nasional bergantung padanya. Namun, jika ekspansi ke lapangan tier-2 terhambat oleh biaya tinggi dan ketidakpastian kebijakan, target kapasitas terpasang bisa meleset dan Indonesia justru makin bergantung pada energi fosil yang lebih mahal dan tidak stabil. Ini juga menjadi sinyal bagi investor energi global: Indonesia mungkin masih memiliki potensi besar, tetapi risiko teknis dan fiskal yang meningkat membuat proyek panas bumi tidak lagi semudah investasi konvensional.

Dampak ke Bisnis

  • Pengembang panas bumi dan kontraktor pemboran harus bersiap dengan belanja modal yang lebih besar per MW dibandingkan proyek sebelumnya, sehingga struktur pendanaan dan proyeksi IRR menjadi lebih ketat. Emiten seperti Medco Power, Geo Dipa, atau anak usaha Pertamina Geothermal perlu mengkaji ulang rencana ekspansi.
  • Perbankan dan lembaga pembiayaan yang selama ini menjadi kreditur proyek panas bumi akan menghadapi risiko kredit yang lebih tinggi akibat biaya eksplorasi yang membengkak dan ketidakpastian produksi. Proyek di Sumatera dan Sulawesi menjadi ujian bagi model pembiayaan infrastruktur energi terbarukan.
  • Industri pendukung dalam negeri — seperti penyedia jasa pengeboran, manufaktur turbin skala kecil, dan konsultan geologi — berpotensi mendapatkan kontrak baru jika proyek tier-2 berjalan, tetapi juga harus berinvestasi dalam teknologi untuk menangani entalpi rendah.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: hasil market sounding Kementerian ESDM untuk WKP dan WPSPE — berapa banyak investor yang menyatakan minat dan berapa besar komitmen eksplorasi yang diajukan.
  • Risiko yang perlu dicermati: kenaikan biaya pemboran akibat inflasi harga komoditas dan pelemahan rupiah — jika biaya per sumur naik di atas US$10 juta, banyak proyek bisa menjadi tidak layak secara ekonomi.
  • Sinyal penting: kebijakan pemerintah terkait feed-in tariff panas bumi dan insentif fiskal baru — jika tidak ada perbaikan signifikan, arus investasi bisa terhambat dan target kapasitas 2027–2030 berpotensi direvisi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.