18 JUL 2026
New Pacific Tingkatkan Nilai Proyek Perak Bolivia Jadi $2,65 M

Foto: MINING.com — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / New Pacific Tingkatkan Nilai Proyek Perak Bolivia Jadi $2,65 M
Pasar

New Pacific Tingkatkan Nilai Proyek Perak Bolivia Jadi $2,65 M

Tim Redaksi Feedberry ·17 Juli 2026 pukul 10.21 · Sinyal menengah · Sumber: MINING.com ↗
3 Skor

Dampak langsung terhadap Indonesia rendah, namun harga emas dan perak global relevan bagi emiten tambang dalam negeri.

Urgensi
2
Luas Dampak
4
Dampak Indonesia
3
Analisis Komoditas
Komoditas
Perak dan Emas
Faktor Supply
  • ·Penambahan zona emas bawah (lower gold zone) yang memperluas basis sumber daya
  • ·Peningkatan kapasitas pengolahan yang menaikkan throughput tahunan
Faktor Demand
  • ·Permintaan perak dari sektor industri (panel surya, elektronik) dan investasi
  • ·Permintaan emas sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global

Ringkasan Eksekutif

New Pacific Metals (TSX: NUAG; NYSE-A: NEWP) merilis studi preliminary economic assessment (PEA) terbaru untuk proyek Carangas silver-gold di Bolivia. Studi yang disusun Ausenco dan berlaku per 16 Juli 2026 ini menunjukkan peningkatan signifikan: NPV after-tax naik menjadi US$2,65 miliar, dengan produksi rata-rata hampir 18 juta ons setara perak per tahun selama 19 tahun. IRR after-tax mencapai 35,9% dan payback 2,4 tahun pada initial capex US$644,5 juta. Perbaikan utama dibanding studi 2024 adalah penambahan zona emas bawah (lower gold zone) dan peningkatan kapasitas pengolahan. Harga asumsi yang digunakan: perak US$45/oz, emas US$3.400/oz, seng US$1,20/lb, dan timbal US$0,90/lb.

Total produksi seumur tambang mencapai 195 juta ons perak, 1,1 juta ons emas, 1,45 miliar pon seng, dan 941 juta pon timbal — setara 339 juta ons setara perak. AISC diproyeksikan US$19,16 per ons setara perak. Perusahaan akan melanjutkan program pengeboran infill 30.000 meter, mengonversi lisensi eksplorasi menjadi kontrak tambang administrasi, dan memulai proses AMDAL. Analis BMO Capital Markets Kevin O'Halloran menyebut update ini meningkatkan estimasi NAV proyek sebesar 13%, dan mempertahankan rating Outperform dengan menyebut Carangas sebagai value driver utama. Ia mengatakan investor kini akan fokus pada proses perizinan dan konversi sumber daya inferred menjadi indicated.

Meski prospek ekonomi mengilap, jalur menuju produksi penuh tergantung pada kemampuan Bolivia mengatasi hambatan struktural seperti kelangkaan bahan bakar, kendala valuta asing, ketidakpastian regulasi, dan penundaan perizinan yang selama ini menghambat investasi tambang. Konsultan Juan Ignacio Guzmán menekankan perlunya perbaikan kepastian hukum, infrastruktur, dan kredibilitas institusi sebelum potensi mineral Bolivia dapat terealisasi. Bagi Indonesia, berita ini tidak berdampak langsung dalam jangka pendek, tetapi memperkuat sentimen positif pada komoditas logam mulia yang sedang berada dalam siklus penguatan. Harga emas global yang tinggi menjadi tailwind bagi emiten tambang emas Indonesia seperti ANTM dan MDKA. Perak, meskipun porsinya kecil dalam portofolio tambang nasional, tetap menjadi komoditas ikutan yang bernilai.

Investor perlu mencermati perkembangan perizinan proyek ini sebagai indikator risiko negara berkembang di sektor pertambangan, serta memantau harga emas dan perak yang menjadi faktor penentu valuasi proyek serupa di dalam negeri.

Mengapa Ini Penting

Update PEA Carangas menegaskan bahwa proyek perak-emas di Bolivia masih layak secara ekonomi dengan asumsi harga logam mulia yang tinggi. Bagi Indonesia, tren ini mendukung prospek emiten tambang emas yang menikmati harga jual tinggi. Namun, hambatan regulasi dan politik Bolivia juga mengingatkan investor akan pentingnya stabilitas hukum — Indonesia justru relatif unggul dalam hal ini. Perbandingan ini dapat memperkuat daya tarik investasi tambang di Indonesia di mata modal asing.

Dampak ke Bisnis

  • Harga emas dan perak global yang tinggi (emas diasumsikan $3.400/oz) menjadi katalis positif bagi emiten tambang emas Indonesia seperti ANTM (emas) dan MDKA (emas & perak), yang dapat membukukan margin lebih lebar jika harga realisasi sesuai.
  • Risiko negara Bolivia yang masih tinggi — kelangkaan BBM, kendala valas, perizinan rumit — membuat investor tambang global mungkin lebih melirik yurisdiksi yang lebih stabil seperti Indonesia, yang memiliki iklim investasi tambang yang lebih kondusif.
  • Proyek Carangas membutuhkan capex besar $644,5 juta; jika terealisasi, akan menambah pasokan perak global dalam jangka panjang (hingga 10 juta oz/tahun), berpotensi menekan harga perak di masa mendatang dan mengurangi keunggulan biaya produsen perak lainnya.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: progres konversi lisensi menjadi kontrak tambang di Bolivia — jika tertunda, sentimen terhadap proyek perak global bisa terkoreksi.
  • Risiko yang perlu dicermati: eskalasi krisis politik Bolivia (lihat artikel terkait krisis litium) yang dapat menghentikan seluruh kemajuan proyek, menimbulkan ketidakpastian pasokan logam mulia.
  • Sinyal penting: pergerakan harga emas dan perak global minggu ini — jika emas tembus $3.500/oz, valuasi proyek tambang emas di Indonesia akan semakin menarik; sebaliknya koreksi tajam bisa meredam optimisme.

Konteks Indonesia

Indonesia merupakan produsen emas dan perak yang signifikan di Asia Tenggara. Harga emas global yang tinggi — sebagaimana diasumsikan dalam studi ini — menjadi angin segar bagi emiten seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang mengoperasikan tambang emas Pongkor dan Cibaliung, serta PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang memiliki tambang emas Tujuh Bukit. Meskipun perak bukan komoditas utama, beberapa tambang emas Indonesia menghasilkan perak sebagai produk sampingan. Dengan harga perak $45/oz yang digunakan dalam PEA, potensi pendapatan dari produk sampingan perak juga meningkat. Di sisi lain, hambatan investasi di Bolivia — seperti kelangkaan valas dan ketidakpastian regulasi — justru menjadi pembeda positif bagi Indonesia yang dinilai memiliki kerangka hukum dan infrastruktur tambang yang lebih stabil. Hal ini dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi tambang global yang menarik di tengah meningkatnya permintaan logam mulia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.