1 JUL 2026
Mirae Asset Overweight Sektor Poultry — Pasokan Ketat dan MBG Jadi Katalis

Foto: IDXChannel — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Mirae Asset Overweight Sektor Poultry — Pasokan Ketat dan MBG Jadi Katalis
Pasar

Mirae Asset Overweight Sektor Poultry — Pasokan Ketat dan MBG Jadi Katalis

Tim Redaksi Feedberry ·1 Juli 2026 pukul 01.26 · Sinyal menengah · Sumber: IDXChannel ↗
7 Skor

Rekomendasi overweight dari sekuritas besar menandakan potensi pergerakan sektoral; dampak tersebar ke emiten poultry, peternak, dan perusahaan pakan; Indonesia sebagai produsen dan konsumen ayam terbesar di ASEAN membuat sektor ini sensitif terhadap perubahan kebijakan dan konsumsi domestik.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Mirae Asset Sekuritas Indonesia mempertahankan pandangan positif terhadap sektor poultry dalam negeri dengan status overweight. Analis senior Andreas Kristo Saragih menilai industri ayam tengah memasuki fase yang lebih menarik dibanding beberapa tahun terakhir. Kombinasi pengendalian pasokan melalui pengurangan kuota impor grand parent stock dan program pemusnahan ayam (culling) pada 2025 berhasil menekan risiko kelebihan pasokan yang selama bertahun-tahun menjadi momok bagi harga jual dan margin peternak. Di sisi permintaan, konsumsi ayam per kapita Indonesia yang masih tergolong rendah di kawasan ASEAN memberikan ruang pertumbuhan jangka panjang. Ditambah dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah, permintaan diperkirakan terus meningkat dan menciptakan keseimbangan pasar yang lebih sehat.

Mirae Asset juga menyoroti pergeseran profitabilitas dari segmen pakan ke segmen hilir seperti peternakan komersial, produk olahan, dan makanan siap konsumsi. Perbaikan harga jual ayam hidup (livebird) dan berkurangnya volatilitas pasokan diperkirakan akan menopang kinerja segmen farm hingga setidaknya 2028.

Implikasi langsung dari rekomendasi ini adalah ekspektasi kenaikan laba emiten poultry dan potensi apresiasi harga saham di subsektor tersebut. Namun, investor perlu mencermati bahwa keberlanjutan siklus positif ini sangat bergantung pada konsistensi pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasokan serta kelanjutan program MBG yang membutuhkan anggaran fiskal yang sehat. Dari sisi makro, tekanan pada rupiah dan suku bunga tinggi yang berkepanjangan dapat meningkatkan biaya operasional peternak, terutama untuk pakan impor seperti jagung dan bungkil kedelai. Meski artikel tidak menyebut angka spesifik, data historis menunjukkan bahwa harga pakan berkontribusi hingga 60-70% dari total biaya produksi poultry. Jika biaya input naik sementara harga jual terkendali, margin bisa tergerus. Oleh karena itu,

Mengapa Ini Penting

Rekomendasi overweight sektor poultry dari Mirae Asset bukan sekadar sentimen jangka pendek, melainkan mencerminkan perubahan struktural di industri ayam. Selama bertahun-tahun, peternak dan emiten poultry terjebak dalam siklus boom-bust akibat oversupply yang tidak terkendali. Kini, intervensi pemerintah melalui pembatasan GPS dan culling mulai menunjukkan hasil. Jika tren ini bertahan, margin emiten seperti CPIN, JPFA, dan MAIN berpotensi membaik secara berkelanjutan. Di sisi lain, program MBG menambah lapisan permintaan institusional yang lebih stabil dari konsumsi ritel. Ini bisa menjadi katalis yang memutus siklus volatilitas harga ayam. Yang tidak terlihat dari headline adalah dampak terhadap perusahaan pakan seperti CPIN dan JPFA yang juga memiliki lini hilir. Pergeseran profitabilitas ke segmen hilir justru menguntungkan emiten terintegrasi, sementara peternak mandiri mungkin tetap rentan terhadap fluktuasi harga input.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten poultry terintegrasi seperti Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) dan Japfa Comfeed (JPFA) akan menjadi penerima manfaat utama dari perbaikan harga livebird dan permintaan segmen hilir. Margin segmen farm dan produk olahan diproyeksikan meningkat, mendorong pertumbuhan laba bersih.
  • Peternak mandiri (plasma) juga diuntungkan oleh kenaikan harga ayam, tetapi tetap terekspos risiko kenaikan harga pakan dan biaya energi. Jika rupiah terus melemah, biaya impor jagung dan bungkil kedelai naik, menggerus margin mereka.
  • Perusahaan pakan ternak yang tidak memiliki lini hilir justru menghadapi tekanan dua sisi: di satu sisi permintaan pakan meningkat, di sisi lain biaya bahan baku impor membengkak akibat depresiasi rupiah. Sektor perbankan yang memberikan kredit modal kerja ke peternak juga perlu mewaspadai risiko NPL jika biaya operasional membengkak.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi penyaluran program MBG pada semester II 2026 — volume pembelian daging ayam oleh lembaga pemerintah akan menjadi indikator permintaan institusional.
  • Risiko yang perlu dicermati: harga jagung domestik yang masih tinggi dan kebijakan impor pakan — jika harga pakan tidak terkendali, margin emiten poultry bisa tertekan meski harga ayam naik.
  • Sinyal penting: laporan keuangan kuartal II 2026 emiten poultry — jika margin laba bersih menunjukkan perbaikan signifikan dibanding kuartal I, penguatan saham sektor ini akan terkonfirmasi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.