25 JUN 2026
Minyak Turun ke US$69–72 Usai Selat Hormuz Dibuka

Foto: Tempo Bisnis — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Minyak Turun ke US$69–72 Usai Selat Hormuz Dibuka
Pasar

Minyak Turun ke US$69–72 Usai Selat Hormuz Dibuka

Tim Redaksi Feedberry ·25 Juni 2026 pukul 05.58 · Sinyal tinggi · Sumber: Tempo Bisnis ↗
8.7 Skor

Penurunan minyak signifikan menyentuh fiskal, inflasi, dan sektor riil Indonesia; dampak luas dari subsidi hingga biaya operasional.

Urgensi
8
Luas Dampak
9
Dampak Indonesia
9
Analisis Komoditas
Komoditas
Minyak Mentah
Harga Terkini
Crude Oil US$69/barel, Brent US$72/barel
Perubahan Harga
turun dari level di atas US$80
Proyeksi Harga
diprediksi turun ke US$65 per barel pekan depan dan berlanjut hingga Juli
Faktor Supply
  • ·normalisasi lalu lintas tanker di Selat Hormuz
  • ·oversupply: suplai naik menjadi 103,3 juta barel per hari dari 103,1 juta barel per hari
Faktor Demand
  • ·permintaan turun dari 100 juta barel per hari menjadi di bawah 100 juta barel per hari

Ringkasan Eksekutif

Harga minyak mentah dunia merosot tajam setelah Selat Hormuz kembali beroperasi normal, menghilangkan premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga di atas US$80 per barel. Per Kamis siang, 25 Juni 2026, crude oil tercatat di level US$69 per barel, sementara Brent berada di US$72 per barel. Analis PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penurunan ini dipicu oleh dua faktor utama: kelancaran lalu lintas tanker di Selat Hormuz dan kelebihan pasokan (oversupply) di pasar global. Suplai minyak mentah tercatat meningkat menjadi 103,3 juta barel per hari dari sebelumnya 103,1 juta barel per hari, sementara permintaan justru turun dari 100 juta barel per hari menjadi di bawah level tersebut.

Kombinasi ini menciptakan tekanan jual yang kuat, dan Ibrahim memproyeksikan harga bisa turun lebih lanjut ke US$65 per barel pekan depan, dengan tren berlanjut hingga Juli. Bagi Indonesia, penurunan harga minyak ini membawa kabar baik sekaligus peringatan. Di satu sisi, posisi impor minyak netto Indonesia akan mendapat keringanan biaya impor BBM dan beban subsidi energi yang selama ini membengkak. Harga minyak yang sudah berada di bawah asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel memberi ruang fiskal untuk menurunkan harga BBM nonsubsidi, sesuai rekomendasi analis. Jika direalisasikan, hal ini berpotensi menekan inflasi, meningkatkan daya beli masyarakat, dan meringankan biaya logistik serta transportasi yang menjadi tulang punggung sektor riil.

Di sisi lain, pelemahan rupiah yang masih berlangsung — dengan USD/IDR diperdagangkan di kisaran Rp17.925 berdasarkan data pasar terkini — dapat mengimbangi sebagian manfaat penurunan harga minyak. Biaya impor dalam rupiah belum turun secara proporsional karena kurs yang lemah. Selain itu, tekanan geopolitik di Timur Tengah belum sepenuhnya reda. Proses normalisasi Selat Hormuz masih bertahap, negosiasi damai AS-Iran masih berlangsung, dan ketegangan antara AS dan Israel justru meningkat. Risiko eskalasi tetap ada dan dapat memicu rebound harga minyak secara tiba-tiba.

Investor dan pelaku bisnis perlu mencermati tiga hal penting ke depan: (1) pergerakan harga minyak Brent dalam 1–2 pekan ke depan — jika konsisten di bawah US$70, tekanan inflasi dan subsidi akan berkurang signifikan; (2) respons pemerintah Indonesia terhadap saran penurunan harga BBM nonsubsidi — implementasi dapat menjadi katalis positif bagi konsumsi dan sektor transportasi; (3) perkembangan negosiasi AS-Iran dan stabilitas kawasan Timur Tengah — setiap kegagalan damai dapat mengembalikan premi risiko minyak. Secara keseluruhan, penurunan minyak ini memberikan angin segar bagi perekonomian Indonesia di tengah tekanan fiskal yang sudah terlihat dari defisit APBN awal tahun, namun belum cukup untuk mengubah arah fundamental secara drastis tanpa stabilitas kurs dan kebijakan domestik yang responsif.

Mengapa Ini Penting

Penurunan harga minyak hingga di bawah asumsi APBN US$70 per barel membuka ruang fiskal yang signifikan bagi Indonesia di saat defisit APBN sudah menembus Rp240 triliun dan keseimbangan primer negatif. Jika pemerintah mengambil langkah menurunkan harga BBM nonsubsidi, dampaknya akan langsung dirasakan oleh jutaan konsumen dan pelaku usaha — dari penurunan biaya logistik hingga peningkatan daya beli. Namun, efek ini bisa tergerus jika rupiah terus melemah, sehingga transmisi manfaat ke sektor riil menjadi tidak optimal.

Dampak ke Bisnis

  • Penurunan harga minyak meringankan beban subsidi energi dan impor BBM, yang secara langsung memperbaiki posisi fiskal APBN 2026. Pemerintah memiliki ruang untuk mengalokasikan ulang belanja ke sektor produktif atau menekan defisit tanpa harus memotong belanja modal.
  • Potensi penurunan harga BBM nonsubsidi akan menekan biaya transportasi dan logistik secara luas. Sektor yang paling diuntungkan antara lain: perusahaan logistik, maskapai penerbangan, pelayaran, serta industri manufaktur padat energi seperti keramik, semen, dan pupuk yang sebelumnya juga tertekan oleh kenaikan harga gas industri.
  • Emiten hulu migas (seperti MEDC, Saka Energi) akan menghadapi tekanan pada margin dan valuasi karena harga jual minyak yang lebih rendah. Namun, bagi emiten yang memiliki kontrak jangka panjang dengan harga tetap, dampaknya mungkin terbatas. Sebaliknya, emiten di sektor hilir dan transportasi (seperti ASII, GIAA) akan menikmati penurunan biaya operasional.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pergerakan harga Brent dalam pekan depan — jika tembus ke bawah US$68, ekspektasi penurunan harga BBM nonsubsidi akan semakin kuat dan menjadi katalis positif bagi konsumsi serta sektor transportasi.
  • Risiko yang perlu dicermati: stabilitas rupiah — meskipun minyak turun, pelemahan rupiah ke area Rp18.000 per dolar dapat mengimbangi manfaat penurunan harga minyak dan membuat pemerintah ragu menurunkan harga BBM.
  • Sinyal penting: pengumuman resmi dari Kementerian ESDM terkait penyesuaian harga BBM nonsubsidi — jika dilakukan dalam 1-2 minggu ke depan, ini akan menjadi indikator bahwa pemerintah responsif terhadap perubahan harga minyak dan siap mendorong daya beli masyarakat.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.