12 JUN 2026
Minyak Naik ke USD100 — Konflik AS-Iran Tutup Selat Hormuz, Ancaman Baru Ekonomi RI
← Kembali
Beranda / Pasar / Minyak Naik ke USD100 — Konflik AS-Iran Tutup Selat Hormuz, Ancaman Baru Ekonomi RI
Pasar

Minyak Naik ke USD100 — Konflik AS-Iran Tutup Selat Hormuz, Ancaman Baru Ekonomi RI

Tim Redaksi Feedberry ·8 Mei 2026 pukul 07.54 · Sinyal tinggi · Sumber: Kontan ↗
8.7 Skor

Konflik Selat Hormuz mengancam pasokan minyak global, harga Brent tembus USD100 — beban ganda bagi Indonesia sebagai importir minyak netto: biaya impor membengkak dan rupiah tertekan di atas Rp17.970.

Urgensi
8
Luas Dampak
9
Dampak Indonesia
9
Analisis Komoditas
Komoditas
Minyak Mentah
Harga Terkini
Brent USD100,73/barel; WTI USD95,26/barel
Perubahan Harga
+0,67% (Brent), +0,47% (WTI); sempat naik >3%
Faktor Supply
  • ·Konflik AS-Iran mengancam Selat Hormuz, jalur distribusi seperlima pasokan minyak dan LNG dunia
  • ·Analis IG Tony Sycamore menyebut pasokan minyak global masih ketat

Ringkasan Eksekutif

Harga minyak dunia kembali menguat tajam setelah konflik AS-Iran pecah lagi dan mengancam gencatan senjata yang rapuh. Harga minyak Brent tercatat naik 0,67% menjadi US$100,73 per barel, sementara WTI naik 0,47% ke US$95,26 per barel. Kedua acuan sempat melonjak lebih dari 3% di awal perdagangan karena kekhawatiran penutupan Selat Hormuz — jalur vital bagi distribusi seperlima pasokan minyak dan LNG dunia. Eskalasi ini menghentikan tren penurunan tiga hari sebelumnya yang sempat didorong harapan kesepakatan damai. Ketegangan dipicu saling tuduh antara AS dan Iran. Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal tanker minyak dan wilayah sipil di sekitar Selat Hormuz, sementara AS menyebut serangan balasan dilakukan setelah kapal Angkatan Lautnya ditembaki.

Analis Vandana Hari dari Vanda Insights menilai pasar berada di ambang ketidakpastian penuh — harga tidak lagi mencerminkan kondisi nyata konflik. Analis IG Tony Sycamore menambahkan bahwa pasokan minyak global masih ketat, sehingga gangguan sekecil apa pun dapat mendorong harga lebih tinggi. Sementara itu, CFTC dilaporkan menyelidiki transaksi minyak senilai US$7 miliar yang terjadi menjelang pengumuman penting — menambah lapisan volatilitas baru. Dampak ke Indonesia langsung dan signifikan. Sebagai importir minyak netto, kenaikan harga minyak global memperbesar biaya impor BBM dan LPG. Ini menekan defisit transaksi berjalan dan memperlebar defisit fiskal karena subsidi energi berpotensi membengkak.

Rupiah yang saat ini sudah berada di kisaran Rp17.975–17.985 per dolar AS — mendekati level terlemah dalam setahun — akan makin tertekan oleh kombinasi dolar kuat (DXY kembali ke 100,10) dan capital outflow dari aset berisiko. Bank Indonesia menghadapi dilema: menaikkan suku bunga untuk menahan rupiah dan inflasi impor, atau mempertahankan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan di tengah tekanan eksternal.

Mengapa Ini Penting

Konflik di Selat Hormuz bukan sekadar berita geopolitik — ini langsung mempengaruhi harga energi yang menjadi input utama perekonomian Indonesia. Kenaikan harga minyak memperlebar defisit transaksi berjalan, menekan rupiah, dan mempersempit ruang fiskal serta moneter. Dalam jangka pendek, sektor transportasi, manufaktur, dan konsumsi akan paling terpukul. Lebih dari itu, kondisi ini menguji ketahanan eksternal Indonesia di saat IHSG sudah terkoreksi dan investor asing mulai keluar. Siapa yang diuntungkan? Hanya emiten hulu migas yang terpapar langsung, namun porsinya kecil di IHSG. Selebihnya, seluruh sektor yang bergantung pada energi murah akan merasakan dampak negatif.

Dampak ke Bisnis

  • Kenaikan harga minyak global meningkatkan biaya impor BBM dan LPG, yang secara langsung memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan rupiah. Perusahaan dengan utang dalam dolar AS akan menghadapi beban pembayaran yang lebih berat, sementara importir bahan baku dan barang modal terpaksa menaikkan harga jual atau menekan margin.
  • Subsidi energi berpotensi membengkak, memperlebar defisit APBN yang sudah mencapai Rp240 triliun per Maret 2026. Pemerintah mungkin harus memangkas belanja lain atau mencari utang tambahan, yang bisa menaikkan imbal hasil SUN dan menekan harga obligasi yang dipegang investor institusi domestik.
  • Sektor transportasi (darat, laut, udara) dan industri padat energi (semen, pupuk, logam dasar) akan merasakan kenaikan biaya operasional secara langsung. Jika harga minyak bertahan di atas USD100, tekanan ini bisa mendorong penyesuaian tarif angkutan dan harga produk industri, memicu inflasi sisi penawaran yang sulit dikendalikan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: perkembangan militer dan diplomatik AS-Iran dalam 2-3 pekan ke depan — jika gencatan senjata runtuh dan Selat Hormuz ditutup total, Brent berpotensi naik menuju USD110+, mengirim tekanan parah ke rupiah.
  • Risiko yang perlu dicermati: respons Bank Indonesia — jika rupiah terus melemah mendekati Rp18.000, BI bisa dipaksa menaikkan suku bunga acuan yang akan menghambat pemulihan sektor properti, konsumsi, dan UMKM.
  • Sinyal penting: data inflasi AS (CPI/PPI) berikutnya dan pernyataan The Fed — jika inflasi AS tetap sticky akibat minyak tinggi, ekspektasi penurunan suku bunga akan mundur, memperpanjang periode dolar kuat dan outflow dari pasar Indonesia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.