19 JUN 2026
Miners Tak Minati SMR, Energi Terbarukan Jadi Pilihan Utama

Foto: MINING.com — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Miners Tak Minati SMR, Energi Terbarukan Jadi Pilihan Utama
Pasar

Miners Tak Minati SMR, Energi Terbarukan Jadi Pilihan Utama

Tim Redaksi Feedberry ·18 Juni 2026 pukul 17.30 · Sinyal menengah · Sumber: MINING.com ↗
6.7 Skor

Berita tentang preferensi energi jangka panjang sektor tambang: urgensi sedang karena tidak berdampak langsung dalam hitungan hari; dampak luas ke energi, pertambangan, dan investasi; serta signifikan bagi Indonesia yang merupakan produsen tambang utama.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Survei global dari BMI menemukan bahwa reaktor modular kecil (SMR) menempati peringkat terbawah dalam daftar prioritas perusahaan tambang untuk transisi energi rendah karbon — tingkat pertimbangan di bawah 10%. Sebaliknya, lebih dari 70% perusahaan tambang tengah mempertimbangkan atau sudah berinvestasi pada energi terbarukan konvensional seperti tenaga surya, angin, dan panas bumi; hampir 65% pada sistem penyimpanan energi baterai; dan hampir separuhnya pada gas bersih dan bahan bakar sintetis. Temuan ini kontras dengan hiruk-pikuk seputar kebangkitan nuklir yang didorong oleh kebutuhan listrik AI yang besar. Secara teoretis, SMR cocok untuk tambang terpencil yang membutuhkan listrik andal, bebas emisi, dan terus-menerus — tidak seperti tenaga surya yang terputus-putus.

Namun dalam praktiknya, tantangan regulasi, perizinan yang panjang, keamanan lokasi, rantai pasokan bahan bakar, pengelolaan limbah, dan tanggung jawab jangka panjang membuat SMR tidak menarik bagi operator tambang. Selain itu, sebagian besar SMR yang paling matang berkapasitas 300 MW, terlalu besar untuk kebanyakan tambang, kecuali kompleks tembaga raksasa seperti di Chile yang membutuhkan daya ratusan megawatt. Mikroreaktor berkapasitas 1-20 MW lebih sesuai skala tetapi masih dalam tahap awal komersialisasi. Tekanan dari pelanggan hilir — produsen mobil, baterai, dan teknologi — yang menuntut penurunan emisi dalam waktu dekat membuat penantian SMR sulit dibenarkan. Bagi Indonesia, temuan ini mengonfirmasi bahwa masa depan pasokan listrik tambang nasional kemungkinan besar akan bertumpu pada energi terbarukan, bukan nuklir.

Perusahaan-perusahaan seperti Freeport Indonesia (tembaga), PTBA dan ADRO (batu bara), serta Antam dan Merdeka Copper Gold (nikel/emas) menghadapi tekanan serupa untuk menurunkan emisi rantai pasok. Investasi pada pembangkit listrik tenaga surya terapung, sistem baterai, dan pembangkit geotermal di area tambang terpencil akan menjadi strategi dominan. Tekanan rupiah yang tercermin pada USD/IDR di level 17.821 dapat meningkatkan biaya investasi energi terbarukan yang bergantung pada komponen impor, tetapi subsidi fiskal atau insentif dari pemerintah dapat mengurangi hambatan ini.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menegaskan bahwa transisi energi di sektor pertambangan global — termasuk Indonesia — tidak akan mengandalkan nuklir dalam waktu dekat. Implikasinya: (1) perusahaan tambang Indonesia akan mengalokasikan belanja modal ke energi terbarukan dan baterai, menciptakan peluang bagi pemasok lokal dan global; (2) tekanan untuk menurunkan emisi semakin nyata, mengingat pelanggan hilir (pabrikan EV, baterai) terus mendorong rantai pasok yang lebih hijau; (3) pemerintah perlu menyiapkan kebijakan yang mendorong adopsi EBT di area tambang, seperti kemudahan perizinan captive solar atau skema Power Purchase Agreement untuk tambang terpencil.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten tambang Indonesia (Freeport Indonesia, PTBA, ADRO, ANTM, MDKA) akan cenderung memilih PLTS, PLTB, dan baterai untuk menggantikan diesel dan PLTU batubara di area operasi, karena terbukti lebih cepat terealisasi dan lebih mudah didanai dibanding reaktor nuklir.
  • Pemasok peralatan energi terbarukan (panel surya, inverter, BESS) akan menghadapi segmen pasar baru yang besar dari sektor pertambangan, yang membutuhkan solusi off-grid atau captive hybrid. Perusahaan seperti SUN Energy, Medco Power, atau anak usaha BUMN ketenagalistrikan dapat menjadi kontraktor utama.
  • Dalam jangka 3-6 bulan, adopsi EBT yang lambat di tambang Indonesia dapat menjadi kelemahan kompetitif saat pelanggan global meminta sertifikasi emisi rendah. Emiten yang tidak segera bertransisi berisiko kehilangan kontrak jangka panjang dengan pembeli dari Eropa atau Amerika yang menerapkan standar lingkungan ketat.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi investasi energi terbarukan oleh emiten tambang besar di Indonesia pada semester II 2026 — khususnya proyek PLTS captive atau pembangkit hybrid di tambang batu bara dan nikel di Kalimantan dan Sulawesi.
  • Risiko yang perlu dicermati: pelemahan harga komoditas (batu bara, nikel, CPO) dapat memangkas arus kas perusahaan tambang, sehingga investasi dekarbonisasi ditunda atau dipotong.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi dari Kementerian ESDM atau PT PLN (Persero) mengenai skema tarif khusus untuk pembangkit listrik captive EBT di area tambang — jika ada keringanan, adopsi akan semakin cepat.

Konteks Indonesia

Indonesia adalah salah satu produsen tambang terbesar dunia — batu bara (eksportir terbesar), nikel (produsen terbesar), tembaga, emas, dan timah. Perusahaan tambang Indonesia menghadapi tekanan yang sama dari pelanggan global untuk menurunkan emisi. Artikel ini mengonfirmasi bahwa solusi rendah karbon yang akan digunakan adalah energi terbarukan, bukan nuklir. Dampak langsungnya: investasi yang tadinya mungkin mengarah ke PLTN atau SMR di Indonesia lebih realistis diarahkan ke PLTS, PLTB, dan hidro. Bagi Indonesia, hal ini sejalan dengan target NZE 2060 dan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) yang mendorong pengembangan EBT. Namun, ketergantungan pada komponen impor untuk panel surya dan baterai membuat biaya investasi dipengaruhi oleh pelemahan rupiah (USD/IDR 17.821). Di sisi lain, potensi hilirisasi nikel untuk baterai justru mendapat dorongan karena permintaan baterai untuk penyimpanan energi tambang akan meningkat.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.