2 JUL 2026
Merz Usul Plaza Accord 2.0 Tekan Yuan – Ancam Ekspor & Rupiah RI

Foto: Asia Times — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / Merz Usul Plaza Accord 2.0 Tekan Yuan – Ancam Ekspor & Rupiah RI
Makro

Merz Usul Plaza Accord 2.0 Tekan Yuan – Ancam Ekspor & Rupiah RI

Tim Redaksi Feedberry ·2 Juli 2026 pukul 10.45 · Sinyal tinggi · Sumber: Asia Times ↗
7.7 Skor

Wacana multilateral tekanan nilai tukar yuan berpotensi mengubah peta perdagangan global, berdampak langsung pada komoditas ekspor dan stabilitas rupiah Indonesia.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Kanselir Jerman Friedrich Merz melontarkan gagasan Plaza Accord 2.0 untuk memaksa China mengapresiasi yuan, dengan klaim undervaluasi mencapai 30% yang didukung ECB hingga 16%. Usulan ini muncul di tengah ketegangan dagang EU-China dan mendapat dukungan dari Presiden ECB Lagarde serta Komisi EU von der Leyen. Namun, skenario ini menghadapi hambatan berat. Pertama, China bukan anggota G7 — forum asli Plaza Accord 1985 — sehingga legitimasi tekanan multilateral lemah. Kedua, China telah mempelajari trauma Jepang pasca-Plaza Accord: apresiasi yen 46% dalam setahun justru memicu gelembung aset dan stagnasi 30 tahun. Beijing pasti menolak apresiasi drastis. Ketiga, usulan Merz berbenturan dengan agenda Trump yang justru mendorong Mar-a-Lago Accord — sebuah arsitektur perdagangan bilateral yang kontradiktif.

Artinya, koordinasi AS-Eropa untuk menekan yuan diperkirakan sulit terwujud dalam waktu dekat. Jika tekanan multilateral meningkat, China memiliki beberapa opsi balasan: pembatasan ekspor mineral kritis (seperti yang sudah dilakukan terhadap nikel dan lithium), percepatan oversupply untuk menekan harga komoditas global, atau hanya memberikan apresiasi simbolis bertahap. Opsi terakhir inilah yang paling mungkin, namun tidak akan memuaskan tuntutan Eropa. Bagi Indonesia, konsekuensi mengalir melalui dua jalur utama. Jalur pertama adalah nilai tukar. Saat ini rupiah berada di level lemah terhadap dolar AS, didorong oleh dolar kuat dan arus keluar modal. Jika yuan benar-benar diapresiasi dan dolar multilateral melemah, rupiah bisa mendapat ruang apresiasi — meringankan biaya impor, terutama energi dan bahan baku.

Namun jika tekanan gagal dan memicu perang dagang baru, risk-off global justru memperkuat dolar dan menekan rupiah lebih dalam. Jalur kedua adalah komoditas. China adalah pembeli utama nikel, batu bara, dan CPO Indonesia. Apresiasi yuan meningkatkan daya beli China terhadap komoditas, namun perlambatan ekonomi China akibat ekspor yang lebih mahal bisa menekan volume permintaan. Oversupply mineral China yang sudah berjalan berpotensi diperparah jika Beijing membanjiri pasar sebagai respons diplomatik.

Mengapa Ini Penting

Wacana Plaza Accord 2.0 bukan sekadar retorika diplomatik. Jika berhasil atau gagal sekalipun, dampaknya langsung menyentuh dua variabel krusial bagi Indonesia: nilai tukar rupiah yang sudah tertekan dan permintaan komoditas utama seperti nikel dan batu bara. Setiap pergeseran nilai yuan akan mengubah keseimbangan daya saing ekspor Indonesia di pasar global dan memengaruhi beban biaya impor, yang pada akhirnya berdampak pada margin perusahaan, inflasi domestik, dan stabilitas fiskal.

Dampak ke Bisnis

  • Eksportir nikel, batu bara, dan CPO Indonesia menghadapi ketidakpastian permintaan China. Apresiasi yuan meningkatkan daya beli China, namun potensi balasan oversupply dari Beijing justru menekan harga komoditas global. Perusahaan seperti PT Vale Indonesia, Adaro Energy, dan Astra Agro Lestari perlu mengantisipasi volatilitas volume dan harga kontrak.
  • Importir bahan baku dan energi — terutama sektor manufaktur yang bergantung pada komponen impor — akan terkena dampak ganda: jika rupiah melemah karena risk-off global, biaya impor naik; jika yuan kuat dan dolar melemah justru bisa meringankan. Ketidakpastian ini mempersulit perencanaan biaya dan treasury.
  • Sektor keuangan perbankan dengan eksposur kredit valas ke korporasi besar akan menghadapi risiko kredit jika nasabah terganggu oleh fluktuasi kurs. Bank dengan NPL valas tinggi perlu waspada terhadap potensi peningkatan gagal bayar debitur yang pendapatannya dalam rupiah namun utang dalam dolar.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons resmi China — pernyataan dari People's Bank of China atau Kemenlu China dalam 2 minggu ke depan akan menentukan arah eskalasi atau de-eskalasi.
  • Risiko yang perlu dicermati: pergerakan USD/CNY — jika yuan menguat di bawah 6,70, China mulai melunak; jika bertahan di atas 6,90, resistensi keras dan risiko perang dagang meningkat.
  • Sinyal penting: koordinasi AS-Eropa — pernyataan bersama Trump dan Merz atau pertemuan G7 mengenai yuan bisa menjadi katalis lonjakan volatilitas pasar keuangan global.

Konteks Indonesia

Indonesia sebagai mitra dagang utama China akan merasakan dampak langsung dari setiap perubahan nilai yuan. Rupiah yang sudah tertekan oleh arus keluar modal dan defisit APBN berpotensi semakin rentan jika perang dagang baru memicu risk-off global. Di sisi komoditas, China menguasai pangsa signifikan ekspor nikel, batu bara, dan CPO Indonesia. Apresiasi yuan memang meningkatkan daya beli China, namun jika memicu perlambatan ekonomi China karena daya saing ekspornya turun, permintaan komoditas Indonesia justru bisa terpangkas. Stabilitas nilai tukar dan pendapatan ekspor menjadi dua variabel kritis yang perlu dijaga pemerintah dan pelaku bisnis.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.