17 JUN 2026
MBG Libur, Harga Telur-Ayam Anjlok — Peternak Rugi, Pemerintah Minta Offtaker Serap

Foto: CNN Indonesia Ekonomi — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / MBG Libur, Harga Telur-Ayam Anjlok — Peternak Rugi, Pemerintah Minta Offtaker Serap
Kebijakan

MBG Libur, Harga Telur-Ayam Anjlok — Peternak Rugi, Pemerintah Minta Offtaker Serap

Tim Redaksi Feedberry ·17 Juni 2026 pukul 11.58 · Sumber: CNN Indonesia Ekonomi ↗
8 Skor

Peternak unggas sedang merugi Rp5.000–7.000/kg; MBG libur memperparah kelebihan pasokan; tanpa intervensi cepat, produksi bisa berhenti dan mendorong lonjakan harga di masa depan.

Urgensi
8
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
9

Ringkasan Eksekutif

Harga telur dan daging ayam di tingkat peternak terus tertekan jauh di bawah harga acuan pemerintah akibat lemahnya serapan pasar selama program Makan Bergizi Gratis (MBG) berhenti sementara karena libur sekolah. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta perusahaan offtaker — pembeli produk peternakan skala besar — untuk menyerap produksi peternak dengan harga yang menguntungkan, minimal sesuai standar pemerintah. Harga telur dilaporkan turun hingga kisaran Rp20.000Rp21.000 per kilogram, sementara harga ayam broiter di tingkat peternak merosot ke Rp15.500Rp16.000 per kilogram, jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) Badan Pangan Nasional sebesar Rp25.000 per kilogram.

Akibatnya, peternak menanggung kerugian Rp5.000Rp7.000 per kilogram ayam hidup, atau Rp10.000Rp14.000 per ekor, karena biaya produksi yang tinggi — pakan ternak mencapai Rp8.800Rp9.400 per kilogram dan harga DOC (day old chick) di Rp5.000Rp6.000 per ekor. Pemerintah telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk meningkatkan konsumsi telur dalam menu MBG dari satu butir menjadi tiga butir per minggu. Namun, penyerapan melalui MBG tertahan selama libur sekolah. Amran juga menyebut langkah lain seperti penyediaan pakan jagung SPHP dari Bulog dan pengawasan Satgas Pangan terhadap praktik pembelian offtaker. Kepala BGN, Nanik S Deyang, merespons dengan meningkatkan konsumsi telur dalam program MBG, meskipun implementasi penuhnya baru akan terasa setelah libur sekolah berakhir.

Tanpa intervensi segera, peternak rakyat berpotensi mengurangi populasi atau berhenti berproduksi, yang dalam beberapa bulan ke depan dapat memicu lonjakan harga konsumen dan mengganggu ketahanan pangan nasional. Sinyal yang perlu dipantang dalam 1-4 minggu ke depan adalah realisasi penyerapan oleh perusahaan offtaker, efektivitas program MBG pasca-libur, serta arah kebijakan subsidi pakan dan harga acuan pemerintah.

Mengapa Ini Penting

Krisis harga ayam dan telur ini bukan sekadar masalah peternak — ini adalah ujian bagi ketahanan pangan dan efektivitas intervensi pemerintah. Jika peternak rakyat terus merugi dan berhenti berproduksi, pasokan protein hewani murah akan menyusut, mendorong inflasi pangan yang langsung menekan daya beli rumah tangga berpendapatan rendah. Di saat yang sama, program MBG yang membutuhkan pasokan protein stabil justru telah menjadi pemicu fluktuasi harga karena ketergantungannya yang besar pada satu saluran penyerapan. Kegagalan pemerintah menstabilkan harga di hulu bisa menggagalkan target swasembada protein dan memperburuk defisit fiskal akibat tambahan subsidi atau kompensasi.

Dampak ke Bisnis

  • Peternak rakyat dan UMKM peternakan: kerugian langsung Rp5.000–Rp7.000/kg ayam hidup; jika berlanjut, terjadi pengurangan populasi dan kebangkrutan massal peternak skala kecil yang tidak memiliki cadangan modal.
  • Perusahaan offtaker dan pengolah pangan: mendapat tekanan untuk menyerap dengan harga di atas pasar, yang dapat menekan margin mereka; namun, jika tidak menyerap, risiko pasokan terganggu di masa depan akan lebih besar — terutama bagi pengolah seperti pabrik sosis, nugget, dan bakso yang bergantung pada harga stabil.
  • Pemerintah (APBN dan program MBG): tekanan fiskal meningkat jika harus memberikan subsidi pakan langsung atau kompensasi kepada peternak; program MBG juga terancam kenaikan biaya bahan baku jika pasokan menyusut dan harga melonjak di kemudian hari.
  • Konsumen rumah tangga: meski saat ini diuntungkan harga murah, dalam 2-3 bulan ke depan risiko lonjakan harga sangat nyata jika produksi peternak turun drastis — dampak langsung ke indeks inflasi pangan dan daya beli kelompok rentan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi penyerapan oleh perusahaan offtaker dalam 1-2 minggu ke depan — apakah harga di tingkat peternak mulai naik mendekati HAP Rp25.000/kg, atau terus tertekan.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika libur sekolah berakhir dan MBG kembali berjalan, namun penyerapan telur dan ayam belum pulih, maka kelebihan pasokan bisa berlanjut dan memperparah kerugian peternak.
  • Sinyal penting: keputusan pemerintah mengenai subsidi pakan atau relaksasi harga acuan — jika ada insentif langsung, krisis dapat mereda; jika tidak, risiko kontraksi produksi dan lonjakan harga di semester II-2026 menguat.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.