12 JUN 2026
MassPay Gandeng Coinbase untuk Ekspansi Pembayaran Lintas Batas Pakai USDC

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / MassPay Gandeng Coinbase untuk Ekspansi Pembayaran Lintas Batas Pakai USDC
Forex & Crypto

MassPay Gandeng Coinbase untuk Ekspansi Pembayaran Lintas Batas Pakai USDC

Tim Redaksi Feedberry ·11 Juni 2026 pukul 16.00 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
6.7 Skor

Adopsi stablecoin oleh penyedia pembayaran tradisional seperti MassPay dan Coinbase menandai pergeseran struktural di infrastruktur remitansi global — Indonesia, sebagai penerima remitansi besar, sangat terpapar pada tren ini, meskipun dampaknya bersifat gradual dan tidak segera.

Urgensi
5
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

MassPay, platform pembayaran global, mengumumkan kemitraan dengan Coinbase untuk menambahkan pembayaran lintas batas yang didukung stablecoin USDC.

Langkah ini memungkinkan bisnis yang membayar secara global memanfaatkan rel stablecoin untuk memangkas biaya dan mempercepat penyelesaian. Dalam kemitraan ini, Coinbase menyediakan infrastruktur dompet, kustodi, dan penyelesaian onchain, sementara MassPay mengelola pembayaran last-mile melalui transfer bank, dompet seluler, dan saluran aset digital. Tanggung jawab kepatuhan dibagi: Coinbase mengurus infrastruktur kustodi dan lisensi yang teregulasi, MassPay menangani verifikasi nasabah (KYC), penyaringan sanksi, dan dokumentasi pajak di seluruh jaringannya. MassPay sebelumnya sudah menawarkan kemampuan pembayaran stablecoin melalui penyedia lain, dan kemitraan ini memperluas kapasitas serta kredibilitas dengan menambahkan Coinbase. Kemitraan ini adalah bagian dari tren yang lebih luas di mana penyedia infrastruktur pembayaran dan keuangan arus utama mulai mengadopsi stablecoin.

Stripe, misalnya, mengakuisisi Bridge pada Februari 2025 — sebuah perusahaan rintisan yang fokus pada penskalaan stablecoin ke bisnis — dan menyatakan bahwa infrastruktur stablecoin akan memainkan peran kritis dalam mempercepat perdagangan lintas batas. Circle juga meluncurkan Circle Payments Network pada April 2025 untuk menghubungkan bank, perusahaan pembayaran, dan dompet digital bagi penyelesaian lintas batas secara real-time menggunakan USDC, EURC, dan stablecoin pembayaran teregulasi lainnya. Masuknya pemain besar seperti Stripe, Circle, dan kini Coinbase-MassPay menunjukkan bahwa stablecoin tidak lagi sekadar aset spekulatif, melainkan mulai berfungsi sebagai infrastruktur pembayaran global yang kredibel. Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung dan tidak langsung. Indonesia adalah salah satu penerima remitansi terbesar di dunia — jutaan pekerja migran mengirimkan uang ke dalam negeri setiap tahun.

Biaya pengiriman uang melalui saluran tradisional bisa mencapai 6-10% dari jumlah yang dikirim. Adopsi stablecoin seperti USDC berpotensi menekan biaya tersebut secara signifikan, terutama jika platform seperti MassPay memperluas jaringannya ke Indonesia.

Di sisi lain, pergeseran preferensi ke stablecoin berbasis dolar AS dapat memperkuat dollarisasi tidak resmi di Indonesia, yang menjadi perhatian Bank Indonesia. Selain itu, bursa kripto lokal — seperti Tokocrypto, Pintu, dan Reku — yang melayani investor ritel Indonesia akan merasakan dampak persaingan dan permintaan yang meningkat untuk stablecoin sebagai alat transaksi. Regulator Indonesia, OJK dan Bappebti, perlu merespons dengan kerangka yang seimbang antara inovasi dan stabilitas sistem keuangan.

Mengapa Ini Penting

Kemitraan ini bukan sekadar berita korporasi biasa, melainkan sinyal bahwa stablecoin mulai berfungsi sebagai infrastruktur pembayaran ritel global yang kredibel. Bagi Indonesia, negara dengan volume remitansi besar dan penetrasi kripto ritel yang tinggi, pergeseran ini berarti biaya pengiriman uang bisa turun drastis, tetapi juga membawa risiko dollarisasi digital yang dapat melemahkan efektivitas kebijakan moneter. Yang tidak terlihat: jika stablecoin dolar semakin dominan, tekanan terhadap rupiah bisa bertambah karena permintaan dolar untuk transaksi sehari-hari meningkat.

Dampak ke Bisnis

  • Platform remitansi dan fintech Indonesia yang bergerak di bidang pengiriman uang — seperti TransferWise, Doku, atau Finpay — akan menghadapi persaingan dari stablecoin yang lebih murah dan cepat. Mereka perlu beradaptasi dengan menawarkan opsi stablecoin atau kehilangan pangsa pasar.
  • Bursa kripto lokal (Tokocrypto, Pintu, Indodax) berpotensi mengalami lonjakan volume perdagangan stablecoin USDC/USDT jika adopsi pembayaran lintas batas meningkat. Namun, mereka juga harus bersaing dengan platform global seperti Coinbase yang memiliki likuiditas lebih besar.
  • Bank Indonesia dan OJK perlu segera menyusun regulasi untuk stablecoin sebagai alat pembayaran — bukan sekadar aset investasi. Jika terlambat, risiko dollarisasi digital dan capital flight bisa meningkat, terutama di tengah tekanan rupiah yang sudah berada di level lemah.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: apakah MassPay akan mengumumkan ekspansi ke pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia — jika iya, ini akan menjadi katalis adopsi stablecoin di sektor remitansi lokal.
  • Risiko yang perlu dicermati: respons BI terhadap peningkatan transaksi stablecoin dolar — jika BI memperketat aturan penggunaan stablecoin sebagai alat bayar, inovasi bisa terhambat, tetapi jika terlalu longgar, stabilitas rupiah terancam.
  • Sinyal penting: volume transaksi USDC di bursa kripto Indonesia selama 2-4 minggu ke depan — jika naik signifikan, ini menandakan pergeseran perilaku investor dan pengirim uang yang perlu diantisipasi regulator.

Konteks Indonesia

Indonesia, sebagai negara dengan jumlah pekerja migran besar dan penerima remitansi tertinggi di Asia Tenggara, sangat terpapar oleh inovasi pembayaran lintas batas. Penggunaan stablecoin USDC melalui platform seperti MassPay dapat menekan biaya kirim uang yang saat ini masih tinggi via saluran tradisional. Namun, adopsi stablecoin dolar juga meningkatkan risiko dollarisasi digital — di mana pelaku ekonomi beralih ke dolar untuk transaksi dan tabungan, melemahkan permintaan rupiah. Bank Indonesia tengah mengembangkan Rupiah Digital sebagai respons, tetapi kecepatan adopsi stablecoin global bisa mendahului kebijakan domestik.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.