26 JUL 2026
Bitcoin OG Selling Melambat, Dormant Activity Terendah Sejak 2022

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Bitcoin OG Selling Melambat, Dormant Activity Terendah Sejak 2022
Forex & Crypto

Bitcoin OG Selling Melambat, Dormant Activity Terendah Sejak 2022

Tim Redaksi Feedberry ·26 Juli 2026 pukul 13.04 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
6 Skor

Sinyal on-chain positif untuk suplai berkurang, tetapi konflik Iran dan yield tinggi masih membebani; dampak ke pasar kripto Indonesia bergantung pada respons harga dalam pekan depan.

Urgensi
5
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7
Analisis Data Pasar
Instrumen
Bitcoin (BTC)
Harga Terkini
64.799
Level Teknikal
support $64.000, resistance $67.000
Katalis
  • ·Aktivitas dormant turun ke level terendah 4 tahun (sinyal OG selling melambat)
  • ·Konflik AS-Iran dan kenaikan yield US Treasury (tekanan risk-off)
  • ·Probabilitas kenaikan suku bunga Fed Juli mendekati 40%

Ringkasan Eksekutif

Aktivitas Bitcoin dormant mencapai level terendah dalam hampir empat tahun — terakhir terlihat pada Q3 2022. Data dari Galaxy Research yang dibagikan oleh Alex Thorn menunjukkan bahwa metrik coin days destruction juga turun seiring melambatnya pergerakan koin yang lama tidak aktif. Thorn menafsirkan fenomena ini sebagai tanda bahwa pemegang jangka panjang (OG) telah mengurangi distribusi setelah mengambil profit besar selama 2024 dan 2025, pola yang mirip dengan siklus bull 2017. Artinya, tekanan jual dari kelompok investor yang paling berpengalaman mulai mereda. Penurunan aktivitas dormant ini terjadi di tengah lingkungan makro yang masih penuh ketidakpastian.

Eskalasi konflik AS-Iran mendorong minyak Brent menembus $100 per barel, imbal hasil US Treasury 10 tahun naik ke level tertinggi 18 bulan di 4,63%, dan probabilitas kenaikan suku bunga Fed pada Juli mendekati 40%. Kombinasi ini menekan aset berisiko global, termasuk Bitcoin yang sempat jatuh ke $64.799. Meski begitu, sinyal on-chain yang lebih konstruktif memberikan narasi tandingan: fundamental jaringan Bitcoin justru menunjukkan bahwa pasokan dari holder lama semakin terbatas. Bagi Indonesia, implikasinya bersifat dua arah. Di satu sisi, pasar kripto domestik yang didominasi investor ritel sangat sensitif terhadap pergerakan harga global.

Jika Bitcoin mampu bertahan di atas level psikologis $64.000 dan menguat, volume perdagangan di platform seperti Tokocrypto, Indodax, dan Pluang berpotensi meningkat, memperbaiki sentimen pasar yang sempat tertekan oleh outflow ETF global.

Di sisi lain, tekanan eksternal masih kuat: rupiah berada di Rp17.968 per dolar AS, level yang lemah dan menambah beban bagi investor yang membeli di harga tinggi dalam denominasi rupiah. Kenaikan harga minyak juga berpotensi memperlebar defisit APBN, yang sudah mencapai Rp240,1 triliun per Maret 2026, menambah kekhawatiran fiskal yang secara tidak langsung bisa mengurangi minat investor pada aset berisiko.

Mengapa Ini Penting

Berita ini penting karena menunjukkan bahwa tekanan jual dari pemegang jangka panjang — yang biasanya menjadi sumber utama koreksi pasar — mulai berkurang. Di tengah ketidakpastian makro global, sinyal on-chain ini bisa menjadi penyeimbang yang mendorong harga Bitcoin lebih stabil ke atas. Bagi Indonesia, perbaikan sentimen kripto global dapat meningkatkan volume perdagangan domestik dan memperkuat kepercayaan investor ritel yang sempat terpukul oleh volatilitas harga dan regulasi.

Dampak ke Bisnis

  • Bursa kripto lokal (Tokocrypto, Indodax, Pluang) berpotensi mencatat peningkatan volume transaksi jika Bitcoin berhasil rebound di atas $67.000, karena investor ritel cenderung mengikuti momentum harga global.
  • Emiten yang terkait dengan ekosistem blockchain dan data center di Indonesia, seperti yang disebut di artikel terkait (tanpa nama spesifik), bisa mendapat sentimen positif tidak langsung jika adopsi institusional Bitcoin terus menguat.
  • Dalam jangka panjang, berkurangnya tekanan jual dari OG bisa mengurangi volatilitas harga Bitcoin, membuat aset ini lebih menarik bagi investor institusi dan korporasi yang sebelumnya ragu masuk ke pasar kripto Indonesia.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pergerakan harga Bitcoin di sekitar level $64.000 (support psikologis) dan $67.000 (resistance teknikal) — jika ditembus, bisa memicu aksi beli signifikan dari ritel dan institusi.
  • Risiko yang perlu dicermati: data inflasi AS minggu depan yang bisa memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Fed — jika yield naik lagi, aset berisiko termasuk kripto akan tertekan, meniadakan sinyal positif dari dormant activity.
  • Sinyal penting: arus inflow/outflow ETF Bitcoin spot AS — jika inflow kembali positif setelah dua hari outflow, kepercayaan institusi pulih dan mendukung narasi bahwa tekanan jual OG sudah mereda.

Konteks Indonesia

Indonesia memiliki salah satu pasar kripto ritel terbesar di Asia Tenggara, dengan jutaan investor terdaftar di Bappebti. Pergerakan harga Bitcoin global langsung tercermin di platform lokal dan memengaruhi volume perdagangan serta sentimen investor. Kondisi rupiah yang lemah (Rp17.968/USD) menambah risiko bagi investor yang membeli di harga tinggi karena nilai investasi dalam rupiah bisa tergerus lebih dalam saat koreksi. Sebaliknya, jika Bitcoin menguat, efek konversi kurs bisa memberikan keuntungan ganda. Regulasi aset digital di Indonesia masih dalam tahap transisi dari Bappebti ke OJK, sehingga kepastian hukum menjadi faktor tambahan yang perlu dicermati investor.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.