24 JUN 2026
Lithium: Permintaan Baru dari AI & Nuklir Tambah 10% pada 2050

Foto: MINING.com — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Lithium: Permintaan Baru dari AI & Nuklir Tambah 10% pada 2050
Pasar

Lithium: Permintaan Baru dari AI & Nuklir Tambah 10% pada 2050

Tim Redaksi Feedberry ·24 Juni 2026 pukul 12.28 · Sumber: MINING.com ↗
6.3 Skor

Proyeksi diversifikasi permintaan lithium hingga 2050 relevan untuk strategi hilirisasi dan investasi baterai Indonesia, namun dampak jangka pendek terbatas karena EV masih dominan.

Urgensi
4
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Sebuah studi oleh GEM Mining Consulting memproyeksikan bahwa teknologi baru seperti kecerdasan buatan, robotika, penerbangan, dan reaktor nuklir akan menambah permintaan lithium sebesar 105.000 ton LCE per tahun pada 2035, meningkat menjadi 303.000 ton pada 2040, dan 720.000 ton pada 2050. Angka tersebut setara dengan 2,8%, 6,1%, dan 10,3% dari proyeksi permintaan dari aplikasi saat ini seperti kendaraan listrik, elektronik konsumen, dan penyimpanan energi skala jaringan. Meskipun demikian, EV akan tetap menjadi sumber dominan permintaan lithium setidaknya dalam 15 tahun ke depan. Studi ini juga menekankan pentingnya membedakan antara gross lithium use, additive demand, dan net primary demand, karena banyak lithium yang terikat dalam produk tidak serta-merta membutuhkan pasokan tambahan.

Daur ulang dan penggunaan kembali dapat mengurangi kebutuhan penambangan baru secara signifikan. Risiko substitusi dari baterai sodium-ion, flow battery, dan sistem iron-air menjadi peringatan bagi pertumbuhan jangka panjang di luar baterai. Bagi Indonesia, berita ini memiliki implikasi ganda. Di satu sisi, sebagai produsen nikel terbesar di dunia yang menjadi bahan baku baterai NMC, pergeseran menuju baterai LFP yang lebih murah akibat penurunan harga lithium dapat mengurangi permintaan nikel kelas baterai.

Di sisi lain, potensi produksi lithium dari brine geothermal melalui teknologi Direct Lithium Extraction (DLE) yang sudah divalidasi oleh TerraLithium dan BHE Renewables di AS membuka pintu bagi Indonesia untuk mempercepat hilirisasi lithium. Selain itu, pertumbuhan AI data center global mendorong kebutuhan listrik besar-besaran, yang bisa mendorong investasi infrastruktur energi di Indonesia jika pusat data berlokasi di sini. Dalam 1-4 minggu ke depan,

Mengapa Ini Penting

Berita ini menegaskan bahwa transisi energi global tetap bergantung pada lithium, namun komposisi permintaan bergeser ke luar EV. Bagi Indonesia, ini berarti pasar nikel kelas baterai tidak bisa mengandalkan EV saja; perlu diversifikasi ke penyimpanan energi dan teknologi lain. Di sisi lain, potensi lithium dari geothermal Indonesia mendapat validasi dari keberhasilan DLE di AS, membuka peluang akselerasi hilirisasi jika diikuti investasi dan kebijakan tepat.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten nikel di Indonesia seperti yang tergabung dalam sektor pertambangan berpotensi tertekan jika harga lithium turun drastis karena restart tambang CATL, membuat baterai LFP lebih murah dibanding NMC sehingga permintaan nikel kelas baterai menurun.
  • Proyek hilirisasi baterai di Indonesia, termasuk investasi smelter dan pabrik prekursor, menghadapi risiko ketidakpastian teknologi: jika industri global beralih ke LFP atau sodium-ion, nilai investasi berbasis nikel bisa tergerus.
  • Peluang baru terbuka bagi sektor energi dan pertambangan Indonesia untuk mengembangkan produksi lithium dari geothermal melalui DLE, namun membutuhkan kemitraan teknologi dan insentif fiskal yang kompetitif dibandingkan negara lain seperti AS dan Australia.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: perkembangan harga lithium di China setelah spekulasi restart tambang Jianxiawo milik CATL — jika harga turun di bawah 140.000 yuan per ton, tekanan pada nikel akan meningkat.
  • Risiko yang perlu dicermati: kemajuan komersialisasi DLE oleh TerraLithium dan BHE Renewables — jika produksi massal terealisasi, harga lithium global bisa turun struktural dan mengubah ekonomi proyek lithium Indonesia.
  • Sinyal penting: keputusan investasi final proyek Rhyolite Ridge pada H2 2026 — sebagai indikator kepercayaan industri terhadap pasokan lithium non-China dan relevansinya bagi strategi hilirisasi Indonesia.

Konteks Indonesia

Indonesia memiliki kepentingan ganda: sebagai produsen nikel terbesar untuk baterai NMC, pergeseran permintaan ke LFP akibat harga lithium rendah dapat mengurangi permintaan nikel. Sebaliknya, potensi lithium dari brine geothermal melalui DLE menjadi peluang baru, namun membutuhkan investasi dan regulasi yang cepat. Selain itu, peningkatan permintaan energi dari AI data center global dapat mendorong investasi infrastruktur listrik di Indonesia, terutama jika pusat data berlokasi di sini. Berita ini juga terkait dengan kebijakan G7 yang menjadikan nikel dan lithium sebagai logam percontohan stockpile, yang bisa meningkatkan permintaan jangka panjang namun juga memicu risiko geopolitik.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.