2 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Laba Bursa Kripto Korsel Anjlok 78%, Ritel Pindah ke Saham
Forex & Crypto

Laba Bursa Kripto Korsel Anjlok 78%, Ritel Pindah ke Saham

Tim Redaksi Feedberry ·2 Oktober 2026 pukul 05.53 · Sinyal tinggi · Sumber: Cointelegraph ↗
4.3 Skor

Penurunan laba dan volume bursa kripto Korea mencerminkan rotasi modal ritel dari aset digital ke ekuitas, sinyal selera risiko Asia yang relevan bagi pasar kripto Indonesia meski dampak langsungnya terbatas.

Urgensi
4
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
3

Ringkasan Eksekutif

Laba operasional bursa kripto Korea Selatan anjlok 78% pada semester I 2026, menurut data Korea Financial Intelligence Unit (KoFIU). Volume perdagangan harian rata-rata turun 44% dari enam bulan sebelumnya, kapitalisasi pasar menyusut 33%, dan simpanan denominasi won merosot 35%. Penjualan bursa ikut terkoreksi 41%. Menariknya, jumlah akun yang memenuhi syarat untuk bertransaksi justru naik tipis 0,4% — sinyal bahwa basis pengguna tidak menyusut, tetapi aktivitas transaksi yang mengering. Survei KoFIU mencakup 26 penyedia jasa aset virtual terdaftar, terdiri dari 17 operator bursa serta sembilan penyedia kustodi dan dompet, untuk periode 1 Januari hingga 30 Juni. Data ini muncul di tengah indikasi bahwa investor ritel Korea beralih dari kripto ke pasar saham.

Pada Mei, nilai aset kripto yang dipegang investor Korea turun 50,2% menjadi 60,6 triliun won (US$41,4 miliar) dalam rentang sekitar satu tahun, dan media Korea ChosunBiz mengaitkannya dengan perpindahan modal ke saham. Analisis Cointelegraph pada Juli mencatat volume perdagangan harian gabungan di Upbit, Bithumb, Coinone, Korbit, dan Gopax turun sekitar 89% year on year, sementara KOSPI — indeks acuan saham Korea — lebih dari dua kali lipat dalam 12 bulan hingga 22 Juli. Ini bukan sekadar koreksi kripto; ini rotasi modal yang sistematis dari aset digital ke ekuitas. Kombinasi penurunan volume, kapitalisasi, dan simpanan menciptakan tekanan ganda bagi operator bursa. Pendapatan berbasis biaya transaksi langsung tergerus ketika volume jatuh, sementara biaya operasional — kepatuhan, teknologi, kustodi — bersifat relatif tetap.

Inilah mengapa laba operasional turun jauh lebih dalam (78%) dibanding penjualan (41%): leverage operasional bekerja berlawanan arah saat volume menyusut. Yang tidak terlihat dari headline adalah bahwa model bisnis bursa kripto sangat sensitif terhadap siklus likuiditas. Ketika investor ritel menarik diri, tidak ada buffer pendapatan dari lini lain yang menutup celah, berbeda dari bursa saham yang punya pendapatan listing, data, dan derivatif. Untuk pasar Indonesia, dampaknya tidak langsung karena yurisdiksi berbeda, namun sinyalnya relevan: bursa aset digital domestik menghadapi dinamika serupa ketika selera risiko global melemah, terutama di tengah masa transisi pengawasan dari Bappebti ke OJK. Kecenderungan investor ritel beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman atau berkinerja lebih baik adalah pola yang bisa menekan volume transaksi bursa kripto lokal.

Mengapa Ini Penting

Penurunan 78% pada laba operasional bursa kripto Korea bukan sekadar cerita satu negara — ini menunjukkan bahwa bursa aset digital jauh lebih rentan terhadap siklus likuiditas dibanding bursa saham konvensional. Ketika volume ritel menyusut, seluruh model pendapatan berbasis biaya transaksi goyah, sementara biaya kepatuhan tetap. Bagi pasar Indonesia yang sedang memindahkan pengawasan aset digital dari Bappebti ke OJK, pelajaran Korea ini memberi peringatan awal: basis pengguna yang tumbuh belum tentu berarti volume yang sehat, dan regulator yang hanya mengejar jumlah akun berisiko salah membaca kesehatan industri.

Dampak ke Bisnis

  • Operator bursa aset digital di Indonesia menghadapi risiko serupa: ketergantungan pada biaya transaksi membuat pendapatan sangat volatil ketika volume ritel menyusut, sementara basis biaya kepatuhan relatif tetap. Tekanan margin bisa datang lebih cepat dari perkiraan pasar.
  • Perpindahan modal ritel dari kripto ke saham di Korea mencerminkan preferensi global yang bisa menular ke Indonesia — arus dana ritel yang sebelumnya masuk aset digital berpotensi beralih ke ekuitas, deposito, atau instrumen fixed income ketika ekspektasi imbal hasil aset berisiko berubah.
  • Yang sering terlewat: ekosistem pendukung kripto — penyedia kustodi, dompet, hingga startup blockchain lokal — ikut terdampak secara berantai. Ketika operator bursa menekan biaya, anggaran untuk mitra teknologi dan penyedia layanan pihak ketiga umumnya yang pertama dipangkas.
  • Sinyal ini juga relevan bagi kerangka pengawasan OJK: fokus pada kualitas likuiditas dan kesehatan bisnis operator, bukan hanya jumlah entitas terdaftar, akan menjadi tolok ukur ketahanan industri aset digital Indonesia.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: data volume transaksi bursa kripto Korea pada kuartal berikutnya — jika penurunan berlanjut, ini mengonfirmasi rotasi struktural ke ekuitas, bukan koreksi musiman.
  • Risiko yang perlu dicermati: pola serupa di bursa aset digital Indonesia — jika volume transaksi domestik ikut melemah, ekspektasi pertumbuhan industri aset digital perlu dikalibrasi ulang.
  • Sinyal penting: keberlanjutan arus modal ritel ke pasar saham Asia, termasuk IHSG — rotasi dari aset digital ke ekuitas dapat menjadi katalis likuiditas bagi pasar saham, tetapi juga menandakan pergeseran preferensi risiko yang lebih luas.

Konteks Indonesia

Dampak langsungnya tidak ada karena artikel membahas bursa kripto Korea Selatan di bawah pengawasan KoFIU. Namun, relevansi untuk Indonesia bersifat tidak langsung dan struktural. Pasar aset digital Indonesia memiliki basis ritel yang aktif dan sedang menjalani masa transisi pengawasan dari Bappebti ke OJK — periode ketika kerangka compliance dan perlindungan investor sedang dibentuk. Tren rotasi modal ritel dari kripto ke saham di Korea menunjukkan bahwa volume transaksi aset digital sangat sensitif terhadap siklus selera risiko global. Jika sentimen risk-off menyebar atau imbal hasil instrumen alternatif dinilai lebih menarik, volume perdagangan bursa kripto Indonesia berpotensi ikut tertekan. Pelajaran tambahan menyangkut kualitas pengawasan: regulator yang berfokus pada kesehatan bisnis dan likuiditas operator, bukan sekadar jumlah entitas terdaftar, akan lebih tahan menghadapi siklus. Data pasar Indonesia terbaru menunjukkan IHSG di level 6.040 dan USD/IDR di 17.932, angka yang perlu diverifikasi dari data harga terbaru.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.