1 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / THORChain Menolak Blokir Dana Curian Bitget — DeFi Diuji
Forex & Crypto

THORChain Menolak Blokir Dana Curian Bitget — DeFi Diuji

Tim Redaksi Feedberry ·30 September 2026 pukul 13.30 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
5.3 Skor

Preseden hukum yang sedang dibentuk menyentuh seluruh lapisan DeFi dan bursa kripto global, tetapi jalur transmisinya ke ekonomi riil Indonesia bersifat tidak langsung dan bergantung pada respons OJK serta Bappebti.

Urgensi
6
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
4

Ringkasan Eksekutif

THORChain menolak — atau secara teknis tidak mampu — memblokir alamat yang terkait dengan peretasan Bitget senilai US$387,5 juta. Protokol likuiditas lintas rantai itu berdalih dirinya terdesentralisasi dan tanpa izin, sama seperti Bitcoin, Ethereum, dan BNB Chain. Pertanyaannya kini bergeser dari ranah teknis ke ranah hukum: bisakah para pengembang protokol dituntut atas tuduhan pencucian uang? Pengacara kripto Yuriy Brisov dari firma D&A Partners menilai jawabannya rumit dan sangat bergantung pada derajat desentralisasi yang bisa dibuktikan. Paradoksnya justru terletak di situ. Brisov menegaskan, begitu sebuah protokol memblokir alamat tertentu, ia sekaligus membuktikan node-nya tidak benar-benar desentralisasi.

Kemampuan itu memang berguna untuk mencegah aktivitas jahat, tetapi membuka pintu bagi klaim hukum lain: jika Anda punya kendali, mengapa kendali itu hanya dipakai untuk kasus penipuan yang jelas, dan bukan untuk uji tuntas, KYC, serta AML secara menyeluruh? Dalil 'kami desentralisasi' adalah satu-satunya tameng, dan itulah tameng terkuat yang dimiliki protokol DeFi. Presedennya sudah ada: investor menggugat Uniswap setelah membeli 38 token hasil rugpull dan penipuan, namun hakim menolak gugatan itu pada Maret. Kontras dengan langkah NEAR Intents memperlihatkan dilema yang sama dari sisi berlawanan. NEAR memblokir alamat terkait peretasan dari menukar dana senilai US$50 juta di platformnya, bahkan menolak bounty 5% yang ditawarkan Bitget untuk itu.

Konsekuensinya, NEAR Intents kini diserang kaum maksimalis desentralisasi karena dianggap tidak cukup permissionless. Artinya, tidak ada posisi yang bebas risiko: memblokir berarti mengakui punya kendali, tidak memblokir berarti membuka celah pertanggungjawaban hukum. Bagi pasar Indonesia, isu ini bukan perkara jauh. Indonesia termasuk pasar ritel kripto paling aktif di Asia, dan transisi pengawasan aset digital dari Bappebti ke OJK masih berjalan. Kasus THORChain memberi tekanan tambahan bagi regulator domestik untuk mempertegas standar kustodi dan cadangan aset bursa lokal, terutama karena pelacakan aset lintas rantai terbukti sulit dilakukan begitu dana melewati protokol tanpa izin.

Sentimen pasar saat ini relatif tenang — IHSG berada di 6,071 dan USD/IDR di 17.872 — sehingga dampaknya lebih bersifat sektoral pada aset digital ketimbang memicu gelombang risk-off menyeluruh.

Mengapa Ini Penting

Keputusan THORChain menolak memblokir dana curian menciptakan preseden yang lebih besar dari insiden Bitget itu sendiri: batas antara 'tidak mampu' dan 'tidak mau' menjadi kabur secara hukum. Jika pengadilan di yurisdiksi mana pun memutuskan bahwa protokol dengan kemampuan teknis memblokir tetap bertanggung jawab saat tidak melakukannya, seluruh arsitektur argumen desentralisasi di industri DeFi ikut tergerus. Sebaliknya, jika protokol yang memblokir justru digugat karena dianggap punya kendali, insentif untuk bersikap kooperatif dengan penegak hukum hilang.

Dampak ke Bisnis

  • Bursa kripto global menghadapi biaya kepatuhan yang naik tidak merata: platform yang mau memblokir alamat berisiko dicap tidak desentralisasi, sementara yang menolak berisiko menghadapi tuntutan pencucian uang. Ketidakpastian ini menekan model bisnis pertukaran lintas rantai yang menjadi tulang punggung likuiditas DeFi.
  • Yang luput dari perhatian: penyedia perangkat lunak keamanan pihak ketiga menjadi titik lemah bersama seluruh industri kustodian aset digital, sebagaimana terlihat pada insiden Bitget. Perusahaan keamanan siber yang melayani bursa dan protokol DeFi menghadapi eksposur reputasi dan potensi tuntutan kontraktual baru.
  • Efek jangka menengah terasa pada startup blockchain dan fintech Indonesia yang menyediakan jembatan likuiditas ke protokol internasional. Ketika standar uji tuntas naik pasca-insiden, biaya integrasi dan audit kepatuhan meningkat, sementara akses ke protokol yang dianggap berisiko bisa dipersempit oleh mitra perbankan dan penyedia pembayaran.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: ada atau tidaknya gugatan resmi terhadap pengembang protokol DeFi mana pun — jika muncul, ini menjadi penanda bahwa argumen 'sepenuhnya desentralisasi' mulai kehilangan daya lindung di forum hukum.
  • Risiko yang perlu dicermati: posisi NEAR Intents menyusul tekanan kaum maksimalis desentralisasi — jika NEAR membatalkan atau membatasi program pemblokirannya, insentif bagi platform lain untuk bersikap kooperatif terhadap permintaan bursa korban ikut menyusut.
  • Sinyal penting: respons OJK dan Bappebti soal penanganan aset hasil kejahatan yang melewati protokol lintas rantai — aturan turunan ini menjadi penentu apakah bursa lokal wajib melaporkan atau membekukan dana serupa, dan berdampak langsung pada prosedur kustodi exchange dalam negeri.

Konteks Indonesia

Dampak langsungnya ke pasar Indonesia bertahap, bukan seketika. Indonesia termasuk pasar ritel kripto paling aktif di Asia, sehingga insiden keamanan pada bursa global dan perdebatan hukum di seputar protokol lintas rantai cenderung memperkuat sentimen kehati-hatian investor ritel dan berpotensi menekan volume perdagangan di bursa lokal. Konteksnya relevan karena transisi pengawasan aset digital dari Bappebti ke OJK masih berjalan, dan kasus THORChain memperlihatkan betapa sulitnya melacak serta membekukan aset begitu melewati protokol tanpa izin. Ini memperkuat argumen bagi penguatan standar kustodi dan cadangan aset bursa lokal. Meski demikian, insiden semacam ini lebih bersifat sektoral pada aset digital — dengan IHSG di 6,071 dan USD/IDR di 17.872, tidak terlihat gelombang risk-off luas ke pasar ekuitas nasional.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.