17 JUL 2026
Krisis Asam Sulfat Ancam 15% Output Tembaga Global – IEA Waspada

Foto: MINING.com — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Krisis Asam Sulfat Ancam 15% Output Tembaga Global – IEA Waspada
Pasar

Krisis Asam Sulfat Ancam 15% Output Tembaga Global – IEA Waspada

Tim Redaksi Feedberry ·16 Juli 2026 pukul 22.08 · Sumber: MINING.com ↗
7.7 Skor

Krisis asam sulfat mengancam 15% produksi tembaga global di tengah pasar yang sudah defisit, berdampak langsung pada harga komoditas dan ekspor Indonesia sebagai produsen tembaga utama.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan Global Critical Minerals Outlook 2026 memperingatkan bahwa prospek pasokan tembaga jangka pendek dan menengah telah memburuk secara signifikan. Lebih dari seper tujuh (sekitar 15%) dari produksi tambang tembaga dunia kini terancam oleh kekacauan pasar asam sulfat akibat konflik Timur Tengah dan larangan ekspor China. Faktor utamanya adalah penutupan efektif Selat Hormuz pada Februari 2026, yang memutus jalur sekitar separuh perdagangan belerang laut global—bahan baku utama asam sulfat—dari negara-negara Teluk dan Iran. Ditambah lagi, China menerapkan larangan ekspor asam sulfat dari Mei hingga akhir tahun, menghilangkan hampir seperempat kebutuhan asam sulfat di luar China.

Dampaknya sangat dirasakan oleh Republik Demokratik Kongo (DRC), di mana hampir 45% produksi tembaga bergantung pada leaching asam sulfat, dan Chili yang sudah menghadapi tekanan pasokan asam sulfat. Kedua negara ini memiliki masing-masing sekitar 1,5 juta ton dan 1,2 juta ton hasil leaching per tahun. IEA mencatat bahwa untuk fasilitas SxEW rata-rata, asam sulfat menyumbang 13% biaya, namun di DRC angkanya mencapai 20% karena kandungan karbonat yang lebih tinggi pada bijih. Beberapa produsen melaporkan persediaan belerang atau asam sulfat hanya cukup untuk 30-60 hari, dengan peringatan bahwa pemotongan produksi semakin mungkin terjadi. IEA menegaskan bahwa jika tekanan ini berlanjut, pengurangan produksi global SxEW akan menambah tekanan pasokan yang sudah ketat.

Berita ini juga menyebutkan bahwa tambang Grasberg di Indonesia, yang dioperasikan Freeport Indonesia, mengalami longsor lumpur mematikan pada September 2025 yang menyebabkan produksi 2025 hanya sekitar setengah dari volume 2024. Hal ini menambah kerugian pasokan global sebesar 1,5 juta ton pada 2025 (lebih dari 6% pasokan tambang dunia), mendorong pasar olahan tembaga menjadi defisit. Bagi Indonesia, tekanan pasokan global ini menciptakan dinamika ganda. Di satu sisi, Indonesia adalah produsen tembaga utama melalui Freeport Indonesia dan Amman Mineral, sehingga ketatnya pasokan global dapat mendukung harga tembaga yang lebih tinggi, menguntungkan pendapatan ekspor dan laba perusahaan tambang.

Namun di sisi lain, jika krisis asam sulfat meluas dan mempengaruhi pasokan global secara lebih parah, harga tembaga bisa melonjak secara tidak stabil, menimbulkan volatilitas yang merugikan perencanaan fiskal dan investasi sektor hilir.

Mengapa Ini Penting

Tidak seperti gangguan pasokan tembaga biasa yang bersifat sementara, krisis asam sulfat ini menyentuh aspek struktural rantai pasok kimia yang esensial untuk 15% produksi tembaga global. Jika berkepanjangan, ini dapat mengubah peta persaingan produsen tembaga dunia, menguntungkan negara-negara yang memiliki akses aman terhadap asam sulfat atau jalur produksi non-leaching seperti Indonesia. Bagi Indonesia, selain mendorong potensi kenaikan harga tembaga, ini juga menjadi pengingat akan pentingnya diversifikasi input produksi dan ketahanan rantai pasok kimia untuk proyek hilirisasi mineral ke depan.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi emiten tambang tembaga Indonesia (Freeport Indonesia, Amman Mineral): ketatnya pasokan global dan kenaikan harga tembaga berpotensi meningkatkan pendapatan dan margin laba, terutama jika produksi Grasberg mulai pulih. Namun, risiko dari volatilitas harga tetap ada jika krisis acid memicu lonjakan spekulatif.
  • Bagi pemerintah Indonesia: pendapatan negara dari sektor pertambangan (pajak, royalti, dividen) mendapat dorongan dari harga tembaga yang lebih tinggi, memperkuat posisi fiskal di tengah tekanan defisit APBN. Namun, gejolak harga juga menyulitkan proyeksi penerimaan negara dan alokasi subsidi energi.
  • Bagi sektor hilirisasi tembaga Indonesia (smelter): pasokan konsentrat yang lebih ketat di pasar global dapat menaikkan harga bahan baku dan mempersempit margin pengolahan. Investasi smelter baru perlu mempertimbangkan risiko ketersediaan konsentrat dan potensi persaingan pasokan dengan negara lain.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: durasi larangan ekspor asam sulfat China – jika diperpanjang melebihi akhir tahun, tekanan pada pasokan SxEW akan berlanjut dan bisa memicu pemotongan produksi di DRC dan Chili.
  • Risiko yang perlu dicermati: pengumuman pemotongan produksi dari tambang tembaga besar di DRC (seperti Kamoa-Kakula atau Tenke) – jika terjadi, akan memperkuat kenaikan harga tembaga dan memperdalam defisit pasar global.
  • Sinyal penting: pergerakan harga tembaga di LME – jika menembus level yang mencerminkan pengetatan pasokan (misalnya di atas US$10.000 per ton, meskipun data harga spesifik tidak ada di artikel, pantau tren umum), akan menjadi konfirmasi bahwa krisis acid telah mempengaruhi ekspektasi pasar.

Konteks Indonesia

Indonesia merupakan salah satu produsen tembaga utama dunia melalui tambang Grasberg milik Freeport Indonesia (mengalami gangguan produksi akibat longsor lumpur pada September 2025, output 2025 hanya setengah dari 2024) dan tambang Batu Hijau milik Amman Mineral. Krisis asam sulfat yang mengancam 15% produksi tembaga global dapat memperketat pasokan dan mendorong harga tembaga lebih tinggi, menguntungkan ekspor Indonesia. Namun, Indonesia tidak memiliki paparan langsung terhadap produksi leaching (SxEW) dalam skala besar seperti DRC atau Chili, sehingga risiko terbatas pada efek harga. Di sisi lain, gangguan pada rantai pasok asam sulfat global dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia yang tengah mengembangkan industri smelter dan hilirisasi mineral untuk membangun ketahanan pasokan bahan kimia esensial.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.