11 JUN 2026
Korsel Minta Keringanan Tarif Baja UE — Ancaman Banjir Pasokan ke Asia

Foto: CNA Business — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Korsel Minta Keringanan Tarif Baja UE — Ancaman Banjir Pasokan ke Asia
Pasar

Korsel Minta Keringanan Tarif Baja UE — Ancaman Banjir Pasokan ke Asia

Tim Redaksi Feedberry ·10 Juni 2026 pukul 23.01 · Sumber: CNA Business ↗
7.3 Skor

UE akan menerapkan tarif 50% pada baja di atas kuota per 1 Juli; Korea sebagai eksportir terbesar kedua berpotensi alihkan pasokan ke Asia, termasuk Indonesia, yang sudah tertekan oleh pelemahan rupiah dan biaya logistik tinggi.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung secara langsung meminta Presiden Dewan Eropa Antonio Costa dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen agar produsen baja Korea mendapat perlakuan yang tidak lebih buruk dari pesaing, dalam pertemuan di Belgia pada Rabu lalu (10 Juni 2026). Permintaan ini muncul setelah Parlemen Eropa pada Mei 2026 menyetujui pengurangan kuota impor baja bebas tarif menjadi 18,3 juta ton per tahun — hampir setengah dari level 2024. Untuk volume di atas kuota tersebut, tarif impor akan naik dari 25% menjadi 50% mulai 1 Juli 2026. Korea Selatan adalah eksportir baja terbesar kedua ke UE, dengan volume 3,3 juta ton produk baja jadi pada 2024, menurut data Eurofer.

Jika tarif tinggi ini diterapkan, ekspor Korea ke Eropa akan terhambat, memaksa negara tersebut mencari pasar alternatif. Kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menjadi tujuan paling logis karena kedekatan geografis dan volume impor baja yang besar. Indonesia sendiri merupakan importir baja untuk berbagai sektor — konstruksi, manufaktur, otomotif, dan infrastruktur — dengan nilai impor yang signifikan.

Di sisi lain, produsen baja domestik seperti Krakatau Steel dan Gunung Raja Paksi akan menghadapi persaingan harga yang lebih ketat jika pasokan baja Korea mengalir deras. Situasi ini terjadi di tengah tekanan eksternal yang sudah melanda perekonomian Indonesia: rupiah yang melemah ke Rp17.966 per dolar AS, defisit APBN Rp240,1 triliun pada Maret 2026, serta biaya logistik impor yang membengkak akibat denda demurrage dan pembatasan gatepass di Tanjung Priok. Importir Indonesia sudah mengurangi shift kerja karena pelemahan rupiah dan batas toleransi psikologis di Rp19.000. Masuknya baja murah dari Korea bisa menekan harga beli bahan baku bagi industri pengguna, tetapi juga mengancam kelangsungan industri baja nasional. Dampak bersihnya tergantung pada kecepatan pemerintah merespon dengan instrumen safeguard atau bea masuk anti-dumping.

Mengapa Ini Penting

Kebijakan tarif UE tidak hanya mengubah peta perdagangan baja global, tetapi secara langsung akan membanjiri pasar Asia dengan pasokan Korea yang dialihkan. Indonesia sebagai importir baja netto berada di posisi yang ambigu: di satu sisi bisa menikmati harga input lebih rendah, di sisi lain industri baja lokal bisa kolaps jika tidak dilindungi. Ditambah tekanan rupiah dan fiskal yang sudah ada, efeknya bisa meluas ke inflasi harga properti, biaya konstruksi infrastruktur, dan daya saing manufaktur nasional.

Dampak ke Bisnis

  • Pengguna baja di Indonesia — konstruksi, properti, manufaktur, otomotif — berpotensi mendapatkan bahan baku lebih murah jika pasokan Korea melimpah. Namun, keuntungan ini bisa berkurang karena biaya logistik impor yang tinggi (demurrage, gatepass) dan pelemahan rupiah yang sudah mendekati batas toleransi importir (Rp19.000). Perusahaan yang membeli baja dalam kontrak dolar menghadapi risiko ganda: harga lebih rendah, tetapi kurs lebih mahal.
  • Produsen baja lokal seperti Krakatau Steel, Gunung Raja Paksi, dan pemain menengah lainnya akan tertekan oleh banjir pasokan baja Korea yang lebih murah. Jika pemerintah tidak segera mengaktifkan instrumen safeguard atau bea masuk anti-dumping, margin industri baja nasional bisa tergerus, berujung pada pengurangan kapasitas produksi dan PHK. Sektor baja merupakan padat modal dan padat karya, sehingga dampak sosialnya signifikan.
  • Proyek infrastruktur pemerintah yang mengandalkan baja lokal (seperti program makan siang gratis, pembangunan IKN, dan jalan tol) bisa menghadapi dua skenario: biaya lebih rendah jika memakai baja impor, tetapi bertentangan dengan target TKDN; atau tetap menggunakan baja lokal dengan harga lebih mahal, membebani APBN yang sudah defisit. Pilihan kebijakan ini akan menentukan arah industri baja nasional dalam 1–2 tahun ke depan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: keputusan final UE tentang pengecualian tarif untuk Korea — jika tidak ada pengecualian, alihkan pasokan baja Korea ke Asia akan semakin cepat dan masif.
  • Risiko yang perlu dicermati: respons Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan Indonesia — apakah akan menaikkan bea masuk baja impor untuk melindungi industri lokal, atau justru memanfaatkan momentum untuk menekan biaya proyek infrastruktur.
  • Sinyal penting: harga baja domestik per akhir Juni 2026 — jika turun lebih dari 10% secara spot, itu menandakan tekanan pasokan sudah masuk dan produsen lokal mulai merasakan dampaknya.

Konteks Indonesia

Indonesia adalah importir baja netto dengan volume impor yang signifikan, terutama dari China, Korea, dan Jepang. UE menutup akses untuk baja Korea, maka Korea akan mengalihkan ekspornya ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ini menguntungkan industri pengguna baja (konstruksi, manufaktur) tetapi merugikan produsen baja lokal. Ditambah rupiah yang sudah lemah (Rp17.966) dan defisit APBN, pemerintah harus berhati-hati dalam menentukan kebijakan perdagangan baja: apakah melindungi industri nasional atau memanfaatkan harga murah untuk mendorong pembangunan infrastruktur.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.