24 JUN 2026
Ketegangan Korea Utara-Selatan Meningkat — Potensi Risk-Off Global, IHSG & Rupiah Tertekan

Foto: Asia Times — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Ketegangan Korea Utara-Selatan Meningkat — Potensi Risk-Off Global, IHSG & Rupiah Tertekan
Pasar

Ketegangan Korea Utara-Selatan Meningkat — Potensi Risk-Off Global, IHSG & Rupiah Tertekan

Tim Redaksi Feedberry ·23 Juni 2026 pukul 16.15 · Sinyal menengah · Sumber: Asia Times ↗
7 Skor

Pernyataan keras Korut dan forum Jeju mempertegas ketegangan, meningkatkan probabilitas risk-off yang bisa menekan IHSG dan rupiah, serta mempengaruhi harga minyak secara global.

Urgensi
6
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Seminar Jeju Forum for Peace and Prosperity pada 24–26 Juni 2026 menjadi panggung bagi pertanyaan besar tentang masa depan perdamaian di Semenanjung Korea. Namun, konteks yang melatari forum ini justru makin mencekam. Pada 13 Juni 2026, Pyongyang mengeluarkan pernyataan paling keras dalam beberapa tahun terakhir yang secara eksplisit menyebut Korea Selatan sebagai “negara musuh yang tidak berubah”, dan menolak rekonsiliasi maupun reunifikasi. Ini bukan sekadar retorika politik biasa. Pernyataan tersebut menghapus kerangka kerja sama yang telah bertahan selama beberapa dekade, di mana kedua Korea secara resmi masih menjadikan reunifikasi sebagai tujuan akhir. Kini, Korut memandang Korsel semata-mata melalui lensa militer dan keamanan, bukan sebagai mitra diplomasi. Peningkatan ketegangan ini dipicu oleh menguatnya posisi tawar Korut.

Pyongyang kini lebih percaya diri berkat kerja sama militer yang semakin erat dengan Rusia, kemajuan signifikan dalam kemampuan nuklir dan rudal, relevansi diplomatik yang meningkat di tengah persaingan geopolitik global, serta keyakinan yang lebih besar pada kemampuannya menahan sanksi. Semua faktor ini membuat rezim Kim Jong-un merasa tidak perlu lagi bernegosiasi dengan Seoul.

Implikasi dari pernyataan ini melampaui Semenanjung Korea. Dalam konteks pasar global, setiap eskalasi ketegangan geopolitik cenderung memicu aksi risk-off, di mana investor asing menarik dana dari aset berisiko di emerging market. Indonesia, dengan IHSG yang saat ini berada di level 6.101 dan rupiah di Rp17.863 per dolar AS, berada dalam posisi rentan. Data dari FRED menunjukkan VIX masih di level 16,78 — tergolong normal namun dapat dengan cepat naik jika gejolak geopolitik meningkat. Selain itu, harga minyak Brent yang saat ini $76,67 per barel juga berpotensi terpengaruh. Meski ketegangan Korea tidak secara langsung mengancam pasokan minyak, sentimen risk-off dan kekhawatiran akan gangguan di jalur pelayaran Laut Cina Timur dan Selat Malaka dapat memicu kenaikan harga minyak.

Bagi Indonesia yang merupakan importir minyak netto, kenaikan harga minyak akan langsung membebani subsidi energi dan memperlebar defisit APBN yang sudah mencapai Rp240,1 triliun (0,93% PDB) hingga Maret 2026.

Mengapa Ini Penting

Ketegangan Semenanjung Korea kali ini berbeda karena Korut secara eksplisit menutup pintu diplomasi. Implikasinya langsung terasa di pasar Asia: risk-off global cenderung memicu capital outflow dari IHSG dan SBN, memperlemah rupiah. Bagi pengusaha yang bergantung pada impor atau pinjaman dolar AS, pelemahan rupiah akan langsung menaikkan biaya. Sementara bagi investor yang memegang SBN, potensi kenaikan yield akibat outflow asing bisa menekan harga obligasi. Jika harga minyak ikut naik, APBN yang sudah defisit akan semakin tertekan oleh beban subsidi energi.

Dampak ke Bisnis

  • Tekanan capital outflow asing dari IHSG dan SBN – investor asing cenderung menjual aset berisiko saat ketegangan meningkat, berpotensi memperdalam koreksi IHSG yang sudah di level 6.101 dan menaikkan imbal hasil SBN, sehingga biaya pendanaan pemerintah bertambah.
  • Pelemahan rupiah memperberat biaya impor – perusahaan manufaktur, ritel, dan pengguna bahan baku impor akan merasakan kenaikan biaya langsung. Emiten dengan utang dolar AS tanpa lindung nilai (hedging) akan semakin tertekan.
  • Kenaikan harga minyak akibat sentimen geopolitik – Indonesia sebagai importir minyak netto akan menghadapi tambahan beban subsidi energi. Jika harga Brent naik signifikan di atas $80, defisit APBN bisa melebar lebih cepat dari asumsi.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: hasil Jeju Forum dan pernyataan pejabat Korea Selatan serta AS dalam 1–2 pekan ke depan – apakah ada de-eskalasi atau justru giliran tanggapan militer.
  • Risiko yang perlu dicermati: indeks VIX – jika naik di atas 20, itu sinyal risk-off global yang dapat memicu capital outflow deras dari emerging market termasuk Indonesia.
  • Sinyal penting: level USD/IDR – jika rupiah tembus Rp18.000, intervensi BI mungkin akan diintensifkan. Perekonomian Indonesia sangat sensitif terhadap pergerakan kurs ini.

Konteks Indonesia

Indonesia, sebagai ekonomi terbuka dengan aliran modal asing yang signifikan, sangat rentan terhadap gelombang risk-off global. Ketegangan di Semenanjung Korea dapat memicu capital outflow dari Surat Berharga Negara dan IHSG. Selain itu, jika harga minyak naik akibat ketidakpastian geopolitik, beban subsidi energi Indonesia akan makin berat, memperlebar defisit fiskal yang sudah mencapai Rp240,1 triliun (0,93% PDB) hingga Maret 2026. Pelemahan rupiah juga langsung berdampak pada importir dan emiten dengan utang valas.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.