17 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Makro / Kemiskinan Tasikmalaya 9,34%, Pengangguran Stagnan
Makro

Kemiskinan Tasikmalaya 9,34%, Pengangguran Stagnan

Tim Redaksi Feedberry ·17 Oktober 2026 pukul 15.02 WIB · Sinyal rendah · Sumber: CNBC Indonesia ↗
3.7 Skor

Perbaikan indikator sosial-ekonomi daerah patut dicatat, tetapi pengangguran yang nyaris tidak bergerak menunjukkan perbaikan itu belum ditopang penciptaan lapangan kerja — relevansinya terbatas pada skala kota namun memberi gambaran pola nasional.

Urgensi
3
Luas Dampak
4
Dampak Indonesia
4

Ringkasan Eksekutif

Kemiskinan Kota Tasikmalaya turun ke 9,34% pada 2026 dari 10,84% setahun sebelumnya — penurunan sekitar 1,5 poin persentase yang menjadi angka paling menonjol dalam laporan pembangunan pada peringatan HUT ke-25 kota itu. Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus memimpin upacara di Balai Kota Tasikmalaya, Sabtu (17/10/2026), dengan tema "Langkah Santun Jiwa Tangguh". Selain kemiskinan, Wiyagus membeberkan pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,39%, naik dari 5,22% pada tahun sebelumnya; Indeks Pembangunan Manusia 76,59 poin dari 76,03 poin pada 2024; dan tingkat pengangguran terbuka 6,43% dari 6,49%. Pemerintah kota juga mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian sepuluh kali berturut-turut serta meraih TPID Award 2026 sebagai TPID kabupaten/kota berkinerja terbaik kawasan Jawa-Bali untuk kedua kalinya berturut-turut.

Yang luput dari headline adalah kombinasi dua angka terakhir pada daftar itu. Kemiskinan turun cukup dalam, tetapi pengangguran terbuka nyaris tidak bergerak — hanya sekitar 0,06 poin persentase dalam setahun. Artinya, perbaikan kesejahteraan di Tasikmalaya lebih banyak lahir dari sisi harga dan bantuan sosial ketimbang dari penciptaan lapangan kerja baru. Stabilitas harga pangan — yang antara lain tercermin dari pengakuan kinerja TPID — plus program seperti Makan Bergizi Gratis dan Cek Kesehatan Gratis, menaikkan daya beli riil rumah tangga tanpa harus menambah jumlah pekerja. Ini pola yang rapuh. Begitu harga pangan atau energi bergeser naik, garis kemiskinan ikut bergerak dan sebagian capaian itu bisa terhapus tanpa sempat terkonsolidasi menjadi kenaikan pendapatan permanen. Kerapuhan itu sedang diuji.

Rupiah berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS dan Brent di US$109,86 — keduanya menekan biaya impor bahan baku, pakan, dan energi yang menjadi input biaya hidup maupun produksi. Bagi sentra kerajinan dan industri pengolahan skala kecil-menengah yang dikenal menjadi basis ekonomi kota, kenaikan biaya input menerjemahkan diri ke margin yang menyempit dan kapasitas menyerap tenaga kerja yang terbatas. Bagi petani dan peternak pemasok bahan baku Makan Bergizi Gratis, program itu justru pasar baru — tetapi permintaan yang bergantung pada belanja pemerintah membuat arus pendapatannya sensitif terhadap penyerapan anggaran dan perubahan prioritas fiskal. Ketika lapangan kerja formal tidak bertambah, sektor informal yang menampung kelebihan tenaga kerja akan makin padat, dengan produktivitas dan perlindungan kerja yang rendah.

Di titik itu, penurunan angka kemiskinan berhenti menjadi cerita tentang pekerjaan dan mulai menjadi cerita tentang subsidi.

Mengapa Ini Penting

Ini contoh kecil dari persoalan yang jauh lebih besar: kemiskinan bisa turun tanpa ekonomi menyerap tenaga kerja baru, dan selama itu terjadi, perbaikan sosial bergantung pada dua hal yang tidak dikendalikan daerah — stabilitas harga pangan dan kelanjutan belanja pemerintah. Ketika rupiah dan harga minyak global bergerak seperti sekarang, kota dengan basis industri kecil dan kerajinan adalah pihak pertama yang kehilangan margin, dan yang terakhir mendapat pekerjaan formal.

Dampak ke Bisnis

  • Pelaku usaha di sektor kerajinan, tekstil, dan pengolahan skala kecil di Tasikmalaya menghadapi kenaikan biaya bahan baku dan energi di saat daya beli pasar lokal baru pulih — margin tertekan sebelum volume penjualan sempat naik.
  • Petani dan peternak pemasok bahan baku Makan Bergizi Gratis memperoleh pasar baru, tetapi ketergantungan pada satu pembeli institusional membuat pendapatan mereka rentan terhadap perubahan penyerapan anggaran dan aturan pengadaan.
  • Yang sering terlewat: dengan pengangguran yang stagnan, tekanan beralih ke sektor informal — di sana produktivitas rendah dan perlindungan kerja tipis, sehingga biaya sosialnya baru muncul beberapa kuartal kemudian dalam bentuk upah riil yang tidak naik dan kerentanan kembali jatuh miskin.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: rilis indikator kemiskinan dan ketenagakerjaan daerah berikutnya — jika kemiskinan turun lagi sementara pengangguran tetap, perbaikan itu bersumber dari bantuan dan harga, bukan dari lapangan kerja.
  • Risiko yang perlu dicermati: inflasi pangan kota — capaian TPID dibangun saat tekanan eksternal relatif terkendali, sementara kurs di kisaran Rp18.000 dan Brent di US$109,86 menekan biaya pangan dan energi.
  • Sinyal penting: realisasi penyerapan program gizi dan layanan kesehatan di daerah — perlambatan penyerapan akan langsung memangkas permintaan dari petani serta peternak lokal yang baru masuk rantai pasok.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.