Kadin: 33% Kelas Menengah di Desil 4-7 Tanpa Jaring Bansos
Sepertiga penduduk berada di lapisan yang kehilangan daya beli tanpa perlindungan fiskal, dan konsumsi nasional selama ini ditopang hanya oleh desil atas — ini persoalan permintaan domestik, bukan sekadar isu sosial.
- Indikator
- Porsi penduduk kelas menengah (desil 4-7)
- Nilai Terkini
- 33% dari penduduk
- Tren
- turun
- Sektor Terdampak
- Ritel dan barang konsumsiMultifinance dan kredit konsumenPerumahan dan KPROtotomotifPendidikan dan kesehatan swastaPariwisata domestik
Ringkasan Eksekutif
Kadin Indonesia menempatkan kelas menengah sebagai titik paling rentan dalam struktur ekonomi saat ini. Wakil Ketua Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kadin, Aviliani, menyebut penduduk desil empat hingga tujuh mencakup 33% populasi, dengan pendapatan yang terus menurun namun tanpa akses bantuan sosial apa pun. Pernyataan itu disampaikan dalam Katadata Outlook Ekonomi 2027 di Jakarta, Selasa (20/10). Ada mekanisme yang menjelaskan mengapa pertumbuhan ekonomi sekitar 5% masih terasa stabil di permukaan. Aviliani menyebut desil delapan hingga sepuluh menyumbang sekitar 53% belanja masyarakat, sehingga konsumsi nasional tetap terjaga meski lapisan tengah menahan pengeluaran. Kelompok bawah, desil satu hingga tiga, masih terlindungi BLT dan BPJS.
Yang berada di tengah adalah lapisan tanpa jaring: terlalu mampu untuk menerima bansos, terlalu tertekan untuk berbelanja seperti biasa.
Di sisi lain, penciptaan lapangan kerja yang disebutnya bertambah justru bergeser ke sektor informal — ia mencontohkan makin banyaknya pengemudi ojek daring sebagai indikasi orang beralih ke jalan ketika pekerjaan formal tidak tersedia. Dampaknya menjalar ke sektor yang tidak disebut dalam pernyataan itu. Kelas menengah adalah mesin belanja diskresioner: ritel modern, barang konsumsi bermerek, kendaraan roda dua, perumahan lewat KPR, pendidikan swasta, hingga asuransi kesehatan non-JKN. Ketika lapisan ini memangkas pengeluaran, produsen dan peritel merasakan penurunan volume lebih dulu sebelum harga menyesuaikan. Sisi kredit juga terpukul — penurunan pendapatan menekan kemampuan angsuran pada multifinance dan kartu kredit, sementara penggeseran tenaga kerja ke sektor informal mempersempit basis peminjam yang dapat diverifikasi.
Perlu dicatat pula bahwa kelompok ini merupakan penyumbang utama pajak penghasilan orang pribadi; pelemahan daya belinya bukan hanya soal konsumsi, tetapi juga soal penerimaan negara jangka menengah, pada saat belanja pemerintah sendiri sudah harus dibagi antara subsidi, bansos, dan pembayaran bunga utang. Latar biaya hidup tidak memberi bantalan. Rupiah berada di 17.943 per dolar AS, Brent di US$110,33, dan IHSG di 5.304. Harga energi yang tinggi masuk ke ongkos angkut, tarif listrik non-subsidi, dan harga pangan olahan — komponen yang menyerap porsi besar anggaran rumah tangga lapisan menengah. Aviliani menilai tekanan ini perlu diantisipasi karena berpotensi memicu keresahan sosial ketika daya beli terus melemah, dan ia menyebut kelompok menengah yang tertekan sebagai pihak yang paling mungkin turun ke jalan.
Mengapa Ini Penting
Kelas menengah desil 4-7 adalah penopang konsumsi sekaligus basis pajak orang pribadi dan pasar kredit konsumen. Jika sepertiga penduduk kehilangan daya beli tanpa jaring perlindungan, angka pertumbuhan sekitar 5% yang terlihat stabil sebenarnya ditopang oleh lapisan atas yang porsinya jauh lebih kecil — artinya ketahanan ekonomi domestik lebih rapuh dari yang tercermin di headline pertumbuhan. Yang berubah secara struktural bukan tingkat kemiskinan, melainkan komposisi permintaan: konsumsi bergeser makin terkonsentrasi pada desil atas, sehingga guncangan pada kelompok itu akan terasa jauh lebih besar ke ekonomi dibanding sebelumnya.
Dampak ke Bisnis
- Produsen dan peritel barang konsumsi diskresioner menghadapi penurunan volume tanpa bisa serta-merta menaikkan harga — kelas menengah yang menahan belanja biasanya lebih dulu beralih ke merek lebih murah atau menunda pembelian besar seperti kendaraan dan perabot rumah.
- Multifinance, kartu kredit, dan penyalur KPR menghadapi dua tekanan sekaligus: kemampuan angsuran melemah dan basis nasabah makin sulit diverifikasi karena pergeseran tenaga kerja ke sektor informal, yang pada akhirnya berimbas pada kualitas kredit konsumsi.
- Yang jarang terlihat: penerimaan pajak penghasilan orang pribadi berpotensi melemah pada saat kebutuhan belanja perlindungan sosial justru meningkat, mempersempit ruang fiskal untuk menambah cakupan bansos ke desil 4-7 — pilihan kebijakan yang secara politik mahal namun makin sering dibicarakan.
- Sektor jasa yang bergantung pada pengeluaran rumah tangga menengah — pendidikan swasta, kesehatan non-JKN, pariwisata domestik, dan hiburan — menanggung dampak lebih awal dibanding sektor barang, karena pos-pos ini paling mudah dipangkas saat anggaran keluarga menipis.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: rilis inflasi BPS bulan berikutnya, terutama inflasi pangan dan harga diatur pemerintah — jika komponen ini bergerak naik, tekanan pada desil 4-7 berlanjut karena pangan menyerap porsi terbesar anggaran rumah tangga lapisan ini.
- Risiko yang perlu dicermati: data ketenagakerjaan formal versus informal — jika proporsi pekerja informal terus membesar, basis peminjam yang bankable menyusut dan fungsi kelas menengah sebagai penopang konsumsi maupun kredit melemah.
- Sinyal penting: apakah pemerintah menurunkan wacana perluasan bansos ke desil 4-7 menjadi kebijakan konkret dalam dokumen anggaran — tanpa langkah ini, insentif fiskal tetap terkonsentrasi di desil 1-3 dan lapisan tengah menanggung penyesuaian sendiri.
- Yang perlu diawasi: arah kurs rupiah dari level 17.943 dan harga minyak di sekitar US$110 — pelemahan lanjutan atau kenaikan harga energi akan menaikkan biaya hidup dan mempercepat pergeseran belanja kelas menengah ke barang kebutuhan dasar.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.