10 JUL 2026
IUCN: Tambang Laut Dalam Ancam 60% Spesies Ventilasi

Foto: MINING.com — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / IUCN: Tambang Laut Dalam Ancam 60% Spesies Ventilasi
Pasar

IUCN: Tambang Laut Dalam Ancam 60% Spesies Ventilasi

Tim Redaksi Feedberry ·9 Juli 2026 pukul 12.04 · Sinyal menengah · Sumber: MINING.com ↗
6.7 Skor

Ancaman terhadap spesies langka memperkuat tekanan moratorium tambang laut dalam, yang berpotensi mengubah dinamika pasokan mineral kritis global dan memengaruhi harga komoditas ekspor utama Indonesia.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

IUCN melaporkan bahwa 125 dari 201 spesies moluska yang hidup eksklusif di ventilasi hidrotermal laut dalam kini terancam punah akibat rencana pertambangan dasar laut. Temuan ini dirilis menjelang pertemuan International Seabed Authority (ISA) pada 13-31 Juli di Jamaika, di mana negara anggota akan merundingkan aturan komersial penambangan dasar laut. Spesies-spesies ini, yang banyak baru ditemukan dalam satu dekade terakhir, hidup di lingkungan ekstrem bersuhu hingga 450°C dan memiliki potensi besar bagi pengembangan obat-obatan, material, dan teknologi — termasuk biomineralisasi dan nanopartikel untuk sel surya. Namun, aktivitas penambangan untuk mineral kritis seperti tembaga, kobalt, dan seng diperkirakan akan menutupi ekosistem dengan sedimen dan menghancurkan habitat yang unik. Dr.

Chong Chen, anggota IUCN Mollusc Specialist Group, menekankan bahwa kepunahan spesies ini berarti kehilangan solusi biologis untuk tantangan masa depan. Sementara IUCN terus mendukung moratorium, beberapa pemerintah, termasuk Amerika Serikat di bawah Trump, justru mempercepat perizinan bagi perusahaan yang ingin menambang di perairan internasional. Hal ini menciptakan ketegangan antara kepentingan konservasi dan kebutuhan akan mineral kritis untuk transisi energi dan teknologi. Dampak dari hasil pertemuan ISA nantinya akan bersifat global. Jika moratorium diterapkan, pasokan mineral dari laut dalam terhambat, mendorong harga komoditas seperti tembaga dan kobalt naik karena permintaan tetap tinggi sementara pasokan baru terbatas. Sebaliknya, jika industri terus berkembang, pasokan global bertambah dan harga bisa tertekan.

Bagi Indonesia, yang merupakan produsen tembaga besar melalui tambang Grasberg Freeport dan produsen nikel terbesar dunia, perubahan harga ini akan langsung mempengaruhi pendapatan ekspor dan profitabilitas emiten tambang dalam negeri. Selain itu, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi sumber daya mineral di laut dalam yang belum tergarap — keputusan ISA akan turut memengaruhi akses dan regulasi eksplorasi di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Ancaman terhadap spesies ventilasi hidrotermal memperkuat desakan global untuk menghentikan tambang laut dalam. Jika moratorium berhasil, pasokan mineral kritis — seperti tembaga — dari sumber baru akan tertunda, memperkuat posisi tambang konvensional di darat. Indonesia, sebagai salah satu produsen tembaga dan nikel terbesar dunia, berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga komoditas akibat terbatasnya pasokan alternatif. Namun, jika industri justru diizinkan beroperasi tanpa kendali ketat, Indonesia berisiko kehilangan pangsa pasar karena pasokan global bertambah. Lebih penting lagi, posisi Indonesia dalam ISA akan menentukan sejauh mana negara ini bisa mengelola sumber daya laut dalamnya sendiri — konteks geopolitik yang luput dari perhatian banyak pelaku bisnis.

Dampak ke Bisnis

  • Kenaikan harga tembaga dan kobalt jika moratorium disetujui akan langsung meningkatkan pendapatan dan margin emiten tambang Indonesia seperti Freeport Indonesia (anak usaha FCX) dan produsen nikel seperti Antam serta smelter nikel yang terintegrasi. Risiko sebaliknya: jika aturan longgar, harga bisa turun dan menekan valuasi sektor tambang di BEI.
  • Ketidakpastian regulasi global dapat menunda rencana eksplorasi mineral laut dalam oleh perusahaan Indonesia — misalnya di kawasan Samudera Hindia atau perairan timur Indonesia — karena investor menunggu kejelasan kerangka hukum dari ISA. Hal ini berpotensi memperlambat diversifikasi sumber daya negara.
  • Dalam rantai pasok hilirisasi, kenaikan harga input (tembaga, nikel) dapat meningkatkan biaya produksi industri manufaktur hilir seperti kabel, baterai, dan komponen elektronik di Indonesia, meskipun dalam jangka pendek efek harga lebih terasa di sisi eksportir.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: hasil pertemuan ISA 13-31 Juli — khususnya keputusan mengenai moratorium atau aturan teknis penambangan komersial; sikap Indonesia dalam memberikan suara akan menjadi sinyal arah kebijakan domestik.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika AS terus mendorong perizinan di luar kerangka ISA, bisa terjadi fragmentasi hukum yang mempersulit pengelolaan sumber daya laut dalam dan menciptakan ketidakpastian bagi investor tambang global.
  • Sinyal penting: pergerakan harga tembaga di London Metal Exchange (LME) dalam 2-4 minggu ke depan — kenaikan di atas level psikologis tertentu tanpa sentimen makro negatif bisa mengindikasikan pasar sudah mulai memperhitungkan risiko pasokan laut dalam.

Konteks Indonesia

Indonesia relevan dalam dua hal: pertama, sebagai produsen tembaga dan nikel terkemuka, perubahan pasokan global dari laut dalam akan memengaruhi harga ekspor dan profitabilitas emiten tambang. Kedua, sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi sumber daya mineral di dasar laut dalam ZEE-nya. Keputusan ISA akan menentukan kerangka hukum yang harus diikuti Indonesia jika ingin mengeksplorasi sumber daya tersebut. Selain itu, Indonesia memiliki kepentingan dalam menyeimbangkan peluang ekonomi dengan komitmen konservasi keanekaragaman hayati laut — karena banyak spesies endemik juga ditemukan di perairan Indonesia, meskipun artikel ini tidak menyebutnya secara spesifik.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.