28 MEI 2026
Israel Tolak Damai Trump-Iran, Risiko Minyak Tinggi Kembali Membebani APBN

Foto: Asia Times — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / Israel Tolak Damai Trump-Iran, Risiko Minyak Tinggi Kembali Membebani APBN
Makro

Israel Tolak Damai Trump-Iran, Risiko Minyak Tinggi Kembali Membebani APBN

Tim Redaksi Feedberry ·27 Mei 2026 pukul 18.30 · Sinyal menengah · Sumber: Asia Times ↗
8.7 Skor

Pernyataan Menteri Keamanan Israel secara eksplisit menggagalkan negosiasi Trump-Iran yang sudah mendekati kesepakatan teknis — jika gagal, harga minyak kembali melonjak dan menekan APBN Indonesia yang sudah defisit Rp240 triliun.

Urgensi
8
Luas Dampak
9
Dampak Indonesia
9

Ringkasan Eksekutif

Menteri Keamanan Israel Itamar Ben-Gvir secara terbuka menyatakan bahwa pemerintah Israel tidak akan mengizinkan Presiden AS Donald Trump membuat kesepakatan damai dengan Iran. Pernyataan ini disampaikan saat Israel melancarkan lebih dari 120 serangan udara ke Lebanon selatan dan Lembah Bekaa pada Selasa (26/5), melanggar gencatan senjata 45 hari yang baru berjalan. Akibat serangan itu, 31 orang tewas dan 40 luka-luka menurut kementerian kesehatan Lebanon. Ben-Gvir mengklaim seluruh kabinet Israel sepakat untuk menolak kesepakatan dengan Iran, sementara Trump sebelumnya menyebut negosiasi berjalan baik dan kedua pihak sudah mendekati kerangka teknis pembukaan kembali Selat Hormuz.

Menurut laporan Reuters mengutip TV pemerintah Iran, AS telah memberikan kerangka tidak resmi yang menawarkan pemulihan pelayaran komersial di Selat Hormuz ke level sebelum perang selama satu bulan, dengan imbalan penarikan pasukan AS dan pencabutan blokade laut. Namun, AS membantah klaim tersebut dan masih ada butir yang belum final seperti mekanisme free passage dan pencairan dana Iran yang dibekukan. Sikap Israel ini menjadi batu sandungan baru yang dapat menghancurkan momentum perdamaian yang sudah terbangun. Dampaknya terhadap pasar global langsung terasa. Sebelum pernyataan Ben-Gvir, optimisme kesepakatan sempat mendorong harga minyak mentah WTI turun 6,75% ke $89,55 per barel pada 25 Mei, sementara Brent tertekan di $94,79. Namun, dengan sinyal penolakan Israel, sentimen berbalik.

Harga minyak Brent saat ini sudah kembali naik ke $93,80 per barel dan berpotensi melanjutkan kenaikan jika negosiasi gagal total. Bagi Indonesia, dampaknya langsung dan sistemik. Defisit APBN per Maret 2026 telah mencapai Rp240,1 triliun dengan pendapatan Rp574,9 triliun tertinggal jauh dari belanja Rp815 triliun, dan keseimbangan primer negatif Rp95,8 triliun — artinya utang baru dipakai membayar bunga utang lama. Harga minyak tinggi memperlebar subsidi energi dan memperbesar defisit. Rupiah yang sudah melemah ke Rp17.785 per dolar AS membuat biaya impor minyak semakin mahal. Sektor penerbangan dan logistik sudah merasakan tekanan fuel surcharge yang terus meningkat. Yang tidak terlihat dari headline ini adalah bahwa Israel justru bisa memperkuat posisi tawar Iran dalam negosiasi.

Dengan menunjukkan agresi militer yang terus berlanjut, Israel secara tidak langsung memberikan amunisi bagi Iran untuk menuntut konsesi lebih besar dari AS, termasuk pencabutan sanksi yang lebih luas.

Di sisi lain, kegagalan kesepakatan akan menguntungkan Israel secara strategis karena mempertahankan isolasi Iran dan melemahkan pengaruh regionalnya. Indonesia harus bersiap menghadapi skenario harga minyak tinggi berkepanjangan.

Mengapa Ini Penting

Pernyataan Ben-Gvir bukan sekadar retorika; Israel telah membuktikan kemampuannya menggagalkan negosiasi dengan aksi militer nyata. Jika kesepakatan Trump-Iran gagal total, harga minyak akan melonjak jauh di atas level saat ini. Bagi Indonesia yang sudah dalam tekanan fiskal berat, kenaikan harga minyak berarti subsidi energi membengkak, defisit APBN melebar, rupiah semakin tertekan, dan ruang pelonggaran moneter BI semakin sempit. Ini bisa memicu siklus negatif: defisit besar → penerbitan utang lebih banyak → yield naik → outflow asing → rupiah makin lemah → biaya impor makin mahal → subsidi tambah besar. Siapa yang paling dirugikan? Importir energi, sektor transportasi, dan emiten dengan utang dolar. Sebaliknya, emiten energi seperti batu bara dan CPO bisa diuntungkan karena substitusi permintaan, tapi risikonya tetap lebih besar.

Dampak ke Bisnis

  • Kenaikan biaya impor minyak: Dengan rupiah di Rp17.785 dan minyak Brent di $93,80, biaya impor BBM dan bahan baku petrokimia akan naik signifikan. Perusahaan seperti Pertamina (subsidi membengkak), PTBA/ADRO (substitusi batu bara?), dan sektor manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor akan tertekan marginnya.
  • Tekanan pada sektor penerbangan dan logistik: Fuel surcharge sudah meningkat, jika harga minyak terus naik, maskapai seperti Garuda Indonesia (jika masih ada) dan operator logistik akan menghadapi kenaikan biaya operasional yang tidak bisa sepenuhnya dibebankan ke konsumen karena daya beli melemah.
  • Industri padat energi seperti semen, keramik, dan pupuk akan mengalami kenaikan biaya produksi yang signifikan. Sektor properti yang sudah lesu karena suku bunga tinggi akan semakin tertekan karena biaya material dan transportasi naik.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons Trump terhadap pernyataan Ben-Gvir dalam 1-2 hari ke depan. Jika Trump memberikan konsesi ke Israel (seperti peningkatan bantuan militer), maka kesepakatan dengan Iran semakin sulit dan harga minyak akan rally.
  • Risiko yang perlu dicermati: kenaikan harga minyak Brent menuju $100 per barel. Lonjakan ini akan memicu kenaikan ICP (Indonesian Crude Price) yang digunakan untuk menghitung subsidi energi, memperlebar defisit APBN di luar target.
  • Sinyal penting: rilis data subsidi energi bulanan dari Kemenkeu dalam 2 minggu ke depan. Jika belanja subsidi melonjak di atas asumsi APBN, pemerintah kemungkinan akan merevisi anggaran atau memotong belanja lain — ini bisa berdampak ke kontraktor pemerintah dan proyek infrastruktur.

Konteks Indonesia

Pernyataan Ben-Gvir yang menolak kesepakatan damai Trump-Iran meningkatkan risiko gagalnya negosiasi pembukaan Selat Hormuz. Hal ini berpotensi mempertahankan harga minyak di level tinggi (Brent $93,80 per barel). Bagi Indonesia sebagai importir minyak netto, harga minyak tinggi memperlebar defisit APBN yang sudah mencapai Rp240,1 triliun per Maret 2026, menekan subsidi energi, dan memperlemah rupiah melalui biaya impor yang lebih mahal. Sektor penerbangan dan logistik akan terus merasakan tekanan fuel surcharge. Data pasar terkini menunjukkan USD/IDR di 17.785 dan IHSG di 6.130 — tekanan tambahan dari geopolitik dapat memicu capital outflow lebih lanjut.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.