24 JUN 2026
ING Pangkas Proyeksi Harga Emas 2026 — Dolar Kuat & Yield Naik Tekan

Foto: FXStreet — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / ING Pangkas Proyeksi Harga Emas 2026 — Dolar Kuat & Yield Naik Tekan
Pasar

ING Pangkas Proyeksi Harga Emas 2026 — Dolar Kuat & Yield Naik Tekan

Tim Redaksi Feedberry ·24 Juni 2026 pukul 11.41 · Sinyal tinggi · Sumber: FXStreet ↗
4.7 Skor

Penurunan proyeksi harga emas ING menekan sentimen komoditas, namun pelemahan rupiah bisa meredam dampak ke harga domestik.

Urgensi
3
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
5
Analisis Komoditas
Komoditas
Emas
Harga Terkini
USD4.300/oz (proyeksi ING Q3 2026), USD4.600/oz (proyeksi ING Q4 2026)
Proyeksi Harga
Lebih lambat dan
Faktor Supply
  • ·Pembelian bank sentral global tetap menjadi penopang permintaan struktural
  • ·Produksi tambang emas global relatif stabil (tidak disebut dalam artikel)
Faktor Demand
  • ·Permintaan ETF emas melemah dalam jangka pendek
  • ·Permintaan safe-haven akibat risiko geopolitik
  • ·Permintaan investasi ritel dan institusional

Ringkasan Eksekutif

ING melalui Commodities Strategist Ewa Manthey memangkas perkiraan harga emas untuk semester II 2026. Emas yang sebelumnya sempat menyentuh level rekor kini mengalami koreksi tajam, tertekan oleh kenaikan imbal hasil Treasury AS, penguatan dolar, dan melemahnya permintaan ETF. ING merevisi proyeksi rata-rata kuartal III 2026 menjadi USD4.300/oz dan kuartal IV menjadi USD4.600/oz, turun dari sebelumnya USD4.850/oz dan USD5.000/oz. Meski demikian, ING masih melihat pilar struktural seperti pembelian bank sentral dan risiko geopolitik tetap utuh, sehingga prospek jangka menengah tetap konstruktif, namun dengan laju kenaikan yang lebih lambat dan volatilitas lebih tinggi. Faktor utama di balik penurunan ini adalah repricing ekspektasi suku bunga AS. Yield Treasury yang lebih tinggi meningkatkan biaya opportunity memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Dolar yang lebih kuat juga membuat emas dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, menekan permintaan global.

Di sisi lain, permintaan ETF emas yang melemah ikut memperkuat tekanan jual. ING menegaskan bahwa lingkungan jangka pendek menjadi lebih menantang dari yang diperkirakan sebelumnya, sehingga koreksi ini memicu reset proyeksi, bukan perubahan pandangan struktural. Dengan kata lain, fundamental pendukung emas — terutama akumulasi cadangan oleh bank sentral negara-negara emerging market dan ketegangan geopolitik — masih menjadi jaring pengaman harga. Bagi Indonesia, dampak penurunan harga emas global perlu dicermati dari dua sisi. Pertama, emiten tambang emas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) akan menghadapi tekanan pada harga jual emas dalam USD. Pendapatan mereka dalam dolar berpotensi turun jika harga spot ikut melemah ke level proyeksi ING.

Kedua, investor individu dan korporasi yang memegang emas sebagai aset lindung nilai — termasuk melalui tabungan emas, logam mulia, dan reksa dana berbasis emas — mungkin melihat koreksi ini sebagai peluang akumulasi. Namun, pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang terjadi belakangan (USD/IDR di kisaran 17.935) berpotensi mengompensasi sebagian penurunan harga emas global. Dengan kata lain, harga emas dalam rupiah mungkin tidak turun setajam penurunan dalam dolar, memberikan bantalan bagi investor domestik.

Mengapa Ini Penting

Penurunan proyeksi harga emas oleh ING mengirim sinyal bahwa era kenaikan cepat emas mungkin mereda, setidaknya dalam jangka pendek. Bagi investor Indonesia, ini penting karena emas merupakan alternatif investasi utama dan instrumen lindung nilai inflasi. Dengan ekspektasi harga yang lebih rendah, investor perlu menyesuaikan ekspektasi imbal hasil, namun pelemahan rupiah bisa menjadi faktor penyeimbang. Di sisi lain, emiten tambang emas di BEI akan menghadapi sentimen negatif jangka pendek, yang bisa memicu aksi ambil untung setelah reli sebelumnya. Jika bank sentral global terus menambah cadangan emas, support harga jangka menengah tetap ada, sehingga koreksi ini mungkin hanya bersifat sementara.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten tambang emas seperti ANTM dan MDKA akan merasakan tekanan langsung dari proyeksi harga yang lebih rendah. Pendapatan dan laba mereka dalam USD berpotensi turun jika harga spot emas mendekati level proyeksi ING. Koreksi harga saham emiten ini dapat terjadi dalam jangka pendek, mempengaruhi portofolio investor yang memiliki eksposur ke sektor tambang.
  • Sektor ritel emas — termasuk penjual perhiasan, logam mulia, dan platform investasi emas digital — mungkin menghadapi penurunan permintaan karena ekspektasi harga yang lebih rendah. Konsumen cenderung menunda pembelian jika mereka mengantisipasi harga lebih murah di kemudian hari. Namun, pelemahan rupiah bisa menahan penurunan harga jual dalam rupiah, sehingga dampak ke margin penjual mungkin lebih kecil dari yang diperkirakan.
  • Korporasi yang memiliki cadangan emas sebagai aset di neraca — misalnya perusahaan multifinance atau lembaga keuangan syariah yang menyimpan emas sebagai agunan — perlu mewaspadai potensi penurunan nilai aset jika harga emas turun signifikan. Di sisi lain, emas tetap menjadi safe-haven di tengah ketidakpastian global, sehingga koreksi justru bisa memicu pembelian oleh investor institusional domestik.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: data inflasi AS (Core PCE) yang akan dirilis dalam 2-3 minggu ke depan. Jika lebih tinggi dari ekspektasi, imbal hasil Treasury naik dan emas tertekan; jika lebih rendah, dapat memicu kenaikan harga emas.
  • Risiko yang perlu dicermati: aksi jual lanjutan jika dolar AS terus menguat terhadap mata uang utama. Dolar yang kuat membuat emas lebih mahal bagi pembeli non-AS, menekan permintaan global. Untuk Indonesia, pelemahan rupiah bisa menjadi bantalan, tetapi jika dolar menguat sangat tajam, tekanan pada harga emas dalam rupiah tetap akan terasa.
  • Sinyal penting: volume pembelian emas oleh bank sentral global — data dari World Gold Council atau laporan resmi bank sentral China, India, dan Turki. Jika akumulasi tetap kuat, level support harga emas di sekitar USD4.200-4.300 akan terjaga. Untuk Indonesia, pantau juga harga emas Antam harian dan volume perdagangan emas di bursa berjangka.

Konteks Indonesia

Penurunan proyeksi harga emas global menekan sentimen di pasar komoditas Indonesia. Emiten tambang emas lokal — terutama ANTM dan MDKA — berpotensi mengalami koreksi harga saham karena ekspektasi pendapatan yang lebih rendah. Namun, pelemahan rupiah terhadap dolar AS (USD/IDR di kisaran 17.935) berpotensi mengompensasi sebagian penurunan harga emas dalam dolar, sehingga harga emas dalam rupiah mungkin tidak turun setajam di pasar global. Bagi investor ritel Indonesia, emas tetap menjadi instrumen lindung nilai yang relevan, terutama jika ketidakpastian global tetap tinggi. Cadangan devisa Indonesia juga dipengaruhi oleh harga emas, meskipun porsinya relatif kecil dalam total cadangan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.