13 JUN 2026
IHSG Anjlok 2,86% ke 6.969,4, Sentimen Geopolitik dan Rupiah Jadi Biang Kerok
← Kembali
Beranda / Pasar / IHSG Anjlok 2,86% ke 6.969,4, Sentimen Geopolitik dan Rupiah Jadi Biang Kerok
Pasar

IHSG Anjlok 2,86% ke 6.969,4, Sentimen Geopolitik dan Rupiah Jadi Biang Kerok

Tim Redaksi Feedberry ·9 Mei 2026 pukul 09.00 · Sinyal menengah · Sumber: Kontan ↗
8 Skor

Koreksi harian IHSG mencapai 2,86% dengan tekanan dari empat faktor besar sekaligus: geopolitik global, pelemahan rupiah, rencana kenaikan royalti minerba, dan ketidakpastian kebijakan The Fed. Dampak sistemik ke hampir seluruh sektor.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
9
Analisis Data Pasar
Instrumen
IHSG
Harga Terkini
6.969,4
Perubahan %
-2,86%
Level Teknikal
Support 6.946–6.900, resistance 7.200
Katalis
  • ·Konflik geopolitik Iran-AS dan potensi krisis energi global
  • ·Penurunan harga minyak dunia sebagai faktor penopang sementara
  • ·Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
  • ·Rencana kenaikan royalti mineral dan batu bara oleh pemerintah
  • ·Ekspektasi meredanya konflik Iran-AS yang mendorong penguatan sepekan

Ringkasan Eksekutif

IHSG ditutup merosot 204,92 poin atau 2,86% ke level 6.969,4 pada Jumat (8/5/2026) di tengah tekanan dari konflik geopolitik Iran-AS, pelemahan rupiah, dan rencana pemerintah menaikkan royalti mineral dan batu bara. Meski secara mingguan IHSG masih membukukan penguatan tipis 0,18%, koreksi di akhir pekan mengindikasikan sentimen pasar yang rentan. Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menilai pergerakan IHSG sepekan terakhir ditopang oleh membaiknya ekspektasi terhadap meredanya konflik Iran-AS dan penurunan harga minyak dunia. Namun, investor masih wait and see karena kejelasan perkembangan global belum pasti. Faktor domestik seperti pelemahan rupiah dan rencana kenaikan royalti minerba menambah tekanan. Dari sisi teknikal, IHSG saat ini menguji area support kuat di kisaran 6.900–7.000.

Analis memproyeksikan IHSG pada perdagangan Senin (11/5/2026) akan bergerak fluktuatif dalam rentang 6.950–7.200 dengan kecenderungan konsolidatif. Sektor telekomunikasi mulai menunjukkan penguatan, sementara saham terafiliasi grup Prajogo Pangestu juga mulai bergerak mengikuti sentimen. Namun, strategi yang disarankan tetap selektif dan lebih cocok untuk trading jangka pendek selama arah IHSG masih konsolidatif. Herditya menambahkan IHSG berpeluang penguatan terbatas dengan support di 6.946. Konflik Iran-AS yang belum mencapai kesepakatan membuat khawatir potensi krisis energi global.

Di sisi lain, pasar juga mencermati data makroekonomi Indonesia yang menunjukkan perbaikan, namun pelemahan rupiah masih menjadi beban utama. Kenaikan royalti minerba dikhawatirkan mengurangi profitabilitas emiten tambang dapat menekan sektor tersebut. Sementara suku bunga The Fed yang masih tinggi di kisaran 3,63% membuat capital inflow ke emerging market termasuk Indonesia terbatas. Indeks dolar broad yang masih elevated (120,08) serta VIX di 22,22 menunjukkan risk-off masih dominan. Dalam konteks domestik, defisit APBN yang melebar hingga Rp240 triliun per Maret 2026 menambah tekanan fiskal dan berpotensi memicu ketidakpastian kebijakan. Kombinasi faktor global dan domestik membuat IHSG sangat rentan terhadap sentimen. Investor disarankan untuk memantau perkembangan perundingan Iran-AS, pergerakan rupiah, dan rilis data makro ekonomi Indonesia serta global.

Sinyal positif dari sektor telekomunikasi dan saham terafiliasi grup tertentu perlu diimbangi dengan kewaspadaan terhadap potensi koreksi lanjutan jika sentimen geopolitik kembali memburuk. Secara fundamental, valuasi IHSG yang sudah turun signifikan mungkin menarik bagi investor jangka panjang, namun timing entry perlu disesuaikan dengan kondisi pasar yang masih volatil.

Mengapa Ini Penting

Koreksi IHSG 2,86% dalam satu hari bukanlah pergerakan normal — ini menandakan sentimen risk-off yang dalam dipicu oleh konflik geopolitik dan faktor domestik yang simultan. Bagi investor dan pengusaha, volatilitas tinggi seperti ini meningkatkan risiko kerugian jangka pendek namun juga bisa membuka peluang akumulasi di harga diskon. Yang tidak terlihat dari headline adalah bahwa pelemahan rupiah dan rencana kenaikan royalti minerba menciptakan tekanan struktural pada sektor energi dan pertambangan — dua sektor yang selama ini menjadi penopang IHSG. Jika kedua sektor ini tertekan, koreksi bisa lebih dalam dari yang diperkirakan. Selain itu, data makro AS yang masih menunjukkan inflasi sticky (CPI 333,98) dan suku bunga tinggi (3,63%) membuat ekspektasi penurunan suku bunga the Fed tertunda, sehingga capital outflow dari emerging market berpotensi berlanjut.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten sektor energi dan pertambangan (batu bara, nikel, mineral) akan tertekan oleh rencana kenaikan royalti minerba. Kenaikan royalti memotong langsung margin laba bersih perusahaan. Emiten dengan biaya produksi tinggi atau cadangan rendah akan paling terdampak.
  • Saham-saham blue chip yang menjadi favorit investor asing (seperti BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ASII) rentan terhadap capital outflow akibat pelemahan rupiah dan risk-off global. Jika outflow berlanjut, IHSG bisa turun lebih dalam dari level support saat ini.
  • Sektor telekomunikasi yang disebut mulai menguat bisa menjadi safe haven bagi investor yang mencari stabilitas. Namun, penguatan ini mungkin terbatas karena sektor ini juga tidak sepenuhnya kebal terhadap tekanan suku bunga dan perlambatan konsumsi.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: perkembangan perundingan Iran-AS dan harga minyak Brent. Jika eskalasi konflik terjadi atau harga minyak melonjak di atas $90 per barel, IHSG berpotensi koreksi lebih dalam menembus support 6.900.
  • Risiko yang perlu dicermati: pelemahan rupiah lebih lanjut. Jika USD/IDR menembus level psikologis 18.000, tekanan jual asing di IHSG bisa meningkat signifikan karena investor asing akan mengurangi eksposur terhadap aset berdenominasi rupiah.
  • Sinyal penting: arah kebijakan terkait royalti minerba. Jika pemerintah resmi mengumumkan kenaikan di atas ekspektasi pasar, sektor tambang bisa tertekan lebih lanjut. Sebaliknya, jika kenaikan lebih moderat, bisa menjadi katalis positif jangka pendek.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.