29 JUL 2026
Haywood Pangkas Perkiraan Emas 2026, Tetap Bullish pada Saham Tambang

Foto: MINING.com — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Haywood Pangkas Perkiraan Emas 2026, Tetap Bullish pada Saham Tambang
Pasar

Haywood Pangkas Perkiraan Emas 2026, Tetap Bullish pada Saham Tambang

Tim Redaksi Feedberry ·28 Juli 2026 pukul 21.24 · Sinyal menengah · Sumber: MINING.com ↗
6.7 Skor

Revisi turun perkiraan emas oleh broker berpengaruh dapat menekan sentimen sektor tambang global, termasuk Indonesia. Namun sikap konstruktif dan indikator valuasi menarik mengurangi urgensi. Dampak ke Indonesia moderat karena emiten emas lokal sensitif terhadap harga global dan sentimen risk-off.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
7
Analisis Komoditas
Komoditas
Emas
Harga Terkini
$4.345/oz (perkiraan rata-rata 2026 oleh Haywood Securities)
Perubahan Harga
revisi turun $561/oz atau sekitar -11,4% dari perkiraan sebelumnya ($4.906)
Proyeksi Harga
Haywood tetap konstruktif dan menyebut aksi jual baru-baru ini sebagai konsolidasi dalam pasar bull yang masih berlangsung, dengan target jangka panjang didukung faktor struktural.
Faktor Supply
  • ·Aktivitas M&A untuk mengganti cadangan yang menipis
  • ·Penundaan produksi akibat konsolidasi tambang
Faktor Demand
  • ·Akumulasi bank sentral global sebagai cadangan devisa
  • ·De-dollarization dan permintaan safe-haven akibat utang global tinggi
  • ·Permintaan investasi dari ETF dan investor ritel

Ringkasan Eksekutif

Haywood Securities memangkas perkiraan harga emas 2026 menjadi rata-rata $4.345 per ons, turun dari $4.906 yang diproyeksikan Maret lalu. Perkiraan 2027 diturunkan menjadi $4.000 dari $5.000. Perak juga dipotong: $67.11 per ons dari $73.40 untuk 2026, dan platinum serta palladium ikut direvisi ke bawah. Pemangkasan ini didorong oleh kinerja emas yang lemah di kuartal II 2026: harga emas jatuh 14% akibat kenaikan imbal hasil obligasi AS, dolar yang kuat, dan aksi ambil untung setelah reli panjang sejak akhir 2025 hingga awal 2026. Saham tambang emas bahkan lebih tertekan, dengan ETF VanEck Gold Miners (GDX) turun 18% sepanjang kuartal. Meskipun demikian, Haywood tetap bullish terhadap ekuitas emas menjelang musim laporan keuangan.

Tim analis pertambangan Haywood menyebut aksi jual baru-baru ini sebagai fase konsolidasi di dalam pasar bull emas yang masih berlangsung, dengan pendorong struktural seperti akumulasi bank sentral, de-dollarization, dan tingginya utang global tetap utuh. Valuasi juga disebut menarik: saham produsen emas senior diperdagangkan pada 7,83 kali arus kas 12 bulan ke depan — di bawah rata-rata 5 tahun sebesar 8,86 kali. Arus kas yang kuat terus mendukung merger dan akuisisi untuk mengganti cadangan yang menipis. Haywood menunjuk Equinox Gold (TSX, NYSE-A: EQX) sebagai pilihan utama di kategori produsen, dengan alasan merger yang tertunda dengan Orla Mining akan menciptakan produsen berfokus Amerika Utara berkapasitas 1,1 juta ons per tahun, dengan potensi naik ke 2 juta ons pada 2031.

Untuk pengembang, First Mining Gold (TSX: FF) dinaikkan target harganya dari $1,25 menjadi $1,75 setelah proyek Springpole memperoleh persetujuan lingkungan federal Kanada. Thesis Gold & Silver (TSXV: TAU) dan Troilus Mining (TSX: TLG) juga menjadi pilihan utama. Bagi Indonesia, berita ini relevan karena harga emas global memengaruhi pendapatan dan valuasi emiten tambang emas domestik seperti ANTM dan MDKA. Dengan USD/IDR berada di 18.055 (melemah), harga emas dalam rupiah masih bisa tinggi meski harga dolar turun. Namun, sentimen risk-off global (VIX di 18,67, imbal hasil US 10 tahun di 4,65%, dolar broad index di 120,71) dapat menekan aliran asing ke pasar Indonesia dan memperkuat tekanan pada IHSG yang saat ini di 6.078.

Di sisi lain, sikap konstruktif Haywood terhadap sektor tambang dan aktivitas M&A bisa menjadi katalis positif bagi persepsi investor terhadap emiten emas Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Revisi turun perkiraan emas dari salah satu broker utama menegaskan bahwa harga emas masih akan tertekan dalam jangka pendek oleh faktor makro AS — dolar kuat dan imbal hasil tinggi. Namun sikap bullish Haywood pada saham tambang menunjukkan bahwa fundamental sektor ini (arus kas, M&A, valuasi) tetap solid. Bagi Indonesia, ini berarti ekspor emas masih menguntungkan di harga $4.345/oz, tapi sentimen risk-off global bisa menekan IHSG dan rupiah lebih lanjut, terutama jika data AS ke depan tetap hawkish.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten tambang emas Indonesia seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) akan terpengaruh oleh sentimen harga emas global. Penurunan perkiraan harga dapat menekan valuasi jangka pendek, namun level $4.345/oz masih jauh di atas rata-rata historis sehingga margin laba tetap tebal. Apalagi dengan rupiah lemah, pendapatan dalam rupiah bisa lebih tinggi.
  • Sektor pertambangan emas di Indonesia juga berpotensi diuntungkan oleh tren M&A global yang disebut Haywood. Dengan cadangan menipis dan valuasi menarik, emiten lokal bisa menjadi target akuisisi atau melakukan konsolidasi untuk meningkatkan skala produksi.
  • Secara makro, tekanan pada harga emas dapat mengurangi arus masuk modal asing ke instrumen berbasis komoditas, termasuk saham tambang di BEI. Namun investor domestik yang mencari safe haven mungkin tetap melirik emas fisik dan reksa dana emas, mengingat ketidakpastian nilai tukar.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: rilis data inflasi AS (CPI dan PPI) serta hasil rapat FOMC — angka di atas ekspektasi bisa memperkuat dolar dan menekan emas lebih lanjut, berdampak ke rupiah dan IHSG.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika dolar broad index terus menguat di atas 121, tekanan terhadap rupiah bisa meningkat, memperlebar defisit APBN melalui biaya utang dan subsidi energi yang lebih tinggi.
  • Sinyal penting: respons harga emas spot terhadap level $4.300 dan $4.000 — jika tembus ke bawah $4.000, sentimen bearish dapat menguat dan memicu aksi jual lebih lanjut di saham tambang global dan Indonesia.

Konteks Indonesia

Harga emas global yang direvisi turun oleh Haywood ke $4.345/oz tetap berada di level yang sangat menguntungkan bagi eksportir emas Indonesia. Dengan kurs USD/IDR di 18.055, harga emas dalam rupiah mencapai sekitar Rp78,5 juta per ons — level tertinggi dalam sejarah. Hal ini menopang laba emiten tambang emas domestik. Namun sentimen risk-off global akibat imbal hasil tinggi dan dolar kuat juga mendorong arus keluar modal dari pasar saham Indonesia, yang bisa menekan IHSG. Sikap bullish Haywood pada sektor tambang memberikan kontra-sentimen positif, sehingga investor perlu mencermati keseimbangan antara tekanan makro dan peluang sektoral.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.