2 NOV 2026
← Kembali
Beranda / Makro / Harga Pangan 1 Nov: Beras dan Gula Naik, Cabai Turun
Makro

Harga Pangan 1 Nov: Beras dan Gula Naik, Cabai Turun

Tim Redaksi Feedberry ·1 November 2026 pukul 20.00 WIB · Sinyal tinggi · Sumber: Detik Finance ↗
7 Skor

Kenaikan beras dan gula menyentuh inflasi pangan dan daya beli, sementara rupiah di 18.138 serta Brent US$113,43 memperbesar biaya input dan distribusi.

Urgensi
5
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Harga pangan strategis pada Minggu (1/11/2026) bergerak campuran. Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Bank Indonesia, beras kualitas bawah I naik 0,34% atau Rp50 menjadi Rp14.950 per kg, beras kualitas bawah II naik 0,34% atau Rp50 menjadi Rp14.800 per kg, dan beras kualitas super II naik 0,29% atau Rp50 menjadi Rp17.450 per kg. Harga beras kualitas medium I, medium II, dan super I tercatat tetap. Gula pasir premium naik 0,24% atau Rp50 menjadi Rp20.600 per kg, sedangkan gula pasir lokal naik 0,52% atau Rp100 menjadi Rp19.500 per kg. Daging sapi kualitas 2 naik 0,14% atau sekitar Rp200 menjadi Rp143.700 per kg, dan daging sapi kualitas 1 naik 0,1% atau Rp150 menjadi Rp152.700 per kg.

Di sisi lain, cabai mengalami koreksi. Cabai rawit merah turun 6,56% atau sekitar Rp6.750 menjadi Rp96.200 per kg; cabai merah besar turun 5,29% atau sekitar Rp4.000 menjadi Rp71.600 per kg; cabai rawit hijau turun 1,32% atau Rp1.050 menjadi Rp78.350 per kg; dan cabai rawit merah keriting turun 3,02% atau Rp2.600 menjadi Rp83.500 per kg. Daging ayam ras segar turun Rp950 per kg menjadi Rp39.000 per kg, sementara telur ayam ras segar turun 0,68% atau Rp200 menjadi Rp29.350 per kg. Pola ini penting karena kenaikan beras dan gula terjadi di beberapa kualitas sekaligus, meski nominalnya kecil. Sebaliknya, penurunan cabai terjadi dari level harga yang masih tinggi secara nominal. Dampaknya tidak berhenti pada daftar harga eceran.

Beras dan gula adalah belanja harian rumah tangga berpendapatan rendah, sehingga kenaikan Rp50 hingga Rp100 per kg tetap menambah tekanan daya beli ketika terjadi berulang. Bagi pelaku usaha makanan, penurunan cabai memberi kelonggaran margin jangka pendek, tetapi kenaikan daging sapi, gula, dan beras dapat menaikkan biaya bahan baku di warung makan, katering, dan industri makanan olahan. Konteks pasar menambah lapisan tekanan: rupiah berada di 18.138 per dolar AS, Brent US$113,43 atau naik 2,37%, dan IHSG di 5.057 atau turun 0,80%. Di tengah itu, AALI sebagai proksi CPO berada di 9.625 atau naik 1,58%, menunjukkan pasar memberi premi pada aset terkait komoditas pangan dan perkebunan.

Mengapa Ini Penting

Kenaikan beras dan gula menyentuh komponen belanja pokok rumah tangga, sehingga inflasi pangan berpotensi menahan daya beli kelompok berpendapatan rendah. Bagi pelaku usaha makanan dan ritel, kombinasi harga bahan baku yang naik dan biaya distribusi yang mahal akibat rupiah di 18.138 serta Brent US$113,43 membuat margin lebih rapuh daripada yang terlihat dari headline harga harian.

Dampak ke Bisnis

  • Warung makan, katering, dan UMKM makanan menghadapi biaya bahan baku yang tidak seragam: cabai turun tajam, tetapi beras, gula, dan daging sapi naik. Margin jangka pendek bisa tertolong oleh koreksi cabai, namun kenaikan beras dan gula dapat menggerus keuntungan jika harga jual tidak disesuaikan.
  • Industri makanan olahan dan minuman akan merasakan kenaikan gula dan beras sebagai input utama. Tekanan ini berlapis dengan biaya energi dan logistik yang mengikuti Brent US$113,43 serta rupiah di 18.138, sehingga harga eceran berpotensi tetap tinggi meski sebagian komoditas seperti cabai dan telur turun.
  • Peternak ayam dan produsen telur menghadapi harga jual yang turun, yaitu ayam ras segar ke Rp39.000 per kg dan telur ke Rp29.350 per kg. Dalam jangka 3–6 bulan, margin peternak bisa tertekan jika biaya pakan impor tetap mahal akibat kurs, sementara konsumen justru menerima sedikit kelonggaran pada protein hewani.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pergerakan harga beras kualitas medium I, medium II, dan super I di PIHPS — ketiganya saat ini tetap, dan kenaikan ke segmen tersebut akan memperluas tekanan inflasi pangan.
  • Risiko yang perlu dicermati: arah rupiah di 18.138 dan Brent di US$113,43 — jika keduanya bertahan atau menguat, biaya pupuk, pakan, bahan bakar, dan distribusi pangan akan tetap mahal dan menahan penurunan harga eceran.
  • Sinyal penting: rilis inflasi pangan bulanan BPS berikutnya — jika kenaikan beras dan gula terbaca di indeks harga konsumen, ruang pelonggaran moneter BI akan semakin sempit.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.