21 JUN 2026
Harga Daging Global Diprediksi Tinggi Sepanjang 2026 — FAO Catat Kenaikan 6,3% YoY

Foto: Detik Finance — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Harga Daging Global Diprediksi Tinggi Sepanjang 2026 — FAO Catat Kenaikan 6,3% YoY
Pasar

Harga Daging Global Diprediksi Tinggi Sepanjang 2026 — FAO Catat Kenaikan 6,3% YoY

Tim Redaksi Feedberry ·21 Juni 2026 pukul 14.00 · Sinyal tinggi · Sumber: Detik Finance ↗
7.7 Skor

Kenaikan harga daging global sudah mulai terlihat dan diproyeksikan bertahan — sebagai importir daging sapi dan pengguna pakan impor, Indonesia terpapar langsung lewat inflasi pangan dan daya beli rumah tangga.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8
Analisis Komoditas
Komoditas
Daging Sapi
Harga Terkini
130,5 poin (Indeks Harga Daging FAO, Mei 2026)
Perubahan Harga
+4,5% YTD dan +6,3% YoY
Faktor Supply
  • ·Pasokan sapi pot

Ringkasan Eksekutif

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memproyeksikan harga daging global akan tetap tinggi sepanjang 2026. Indeks Harga Daging FAO mencapai 130,5 poin pada Mei 2026, naik 4,5% sejak awal tahun dan 6,3% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Produksi daging dunia hanya tumbuh 1,0% YoY menjadi 391 juta ton — pertumbuhan paling lesu dalam beberapa tahun terakhir — sementara permintaan impor dari Amerika Serikat dan China tetap kuat. FAO menyoroti tiga faktor utama pendorong kenaikan: (1) pasokan sapi potong Brasil yang menipis, (2) penyusutan kawanan ternak di Oseania yang membatasi ekspor domba, dan (3) gangguan logistik akibat konflik bersenjata, khususnya di Timur Tengah yang memaksa kapal pengangkut daging unggas memutar via Laut Merah dengan biaya tinggi.

Daging sapi menjadi yang paling tajam dengan kenaikan 5,8% pada Januari–Mei 2026, disusul daging babi 5,2%, daging domba 3,6%, dan daging unggas yang naik tipis 1,4% berkat pasokan global yang masih melimpah. Namun FAO memperingatkan bahwa wabah penyakit hewan yang belum mereda serta ketegangan geopolitik terus mengancam rantai pasok, sehingga biaya produksi peternak global diperkirakan akan terus meningkat. Bagi Indonesia, kenaikan harga daging global berdampak langsung pada inflasi pangan dalam negeri. Indonesia masih mengimpor sekitar 30% kebutuhan daging sapi dan sebagian besar gandum untuk pakan ternak. Kenaikan harga daging sapi impor akan mendorong harga daging lokal naik, sementara biaya pakan yang lebih tinggi menekan margin peternak ayam dan sapi lokal.

Di sisi lain, pemerintah memiliki ruang fiskal yang terbatas — defisit APBN mencapai Rp240,1 triliun per Maret 2026 (0,93% PDB) — sehingga opsi subsidi pangan atau penurunan tarif impor akan menambah beban anggaran. Bank Indonesia juga telah menaikkan suku bunga ke 5,75% untuk menjaga stabilitas rupiah, yang berarti biaya impor bahan pangan dan pakan semakin mahal. Kombinasi ini menempatkan Indonesia dalam posisi rentan terhadap lonjakan harga pangan global — terutama jika pasokan daging sapi dari Brasil dan Australia terus terganggu. Yang tidak terlihat dari headline ini adalah dampak berbentuk rantai: kenaikan harga daging sapi global bisa memicu peralihan konsumsi ke daging ayam, sehingga harga ayam juga ikut naik karena permintaan meningkat. Ini menciptakan tekanan ganda pada inflasi pangan rumah tangga.

Selain itu, sektor HORECA (hotel, restoran, kafe) yang menggunakan daging sebagai bahan baku utama akan menghadapi kenaikan biaya operasional, yang pada akhirnya bisa mendorong kenaikan harga menu dan menekan volume penjualan. Investor di emiten peternakan dan pakan ternak perlu mencermati apakah kenaikan harga jual daging dapat mengimbangi kenaikan biaya pakan. Dalam 4 minggu ke depan, sinyal utama

Mengapa Ini Penting

Kenaikan harga daging global bukan sekadar berita komoditas — ini adalah sinyal awal tekanan inflasi pangan yang akan langsung menyentuh pengeluaran rumah tangga Indonesia. Dengan defisit APBN yang sudah lebar dan suku bunga tinggi, pemerintah tidak memiliki banyak bantalan untuk menahan kenaikan harga pangan. Jika tren ini berlanjut, Indonesia bisa mengalami imported inflation yang mempercepat kenaikan inflasi inti dan mempersempit ruang BI untuk melonggarkan moneter.

Dampak ke Bisnis

  • Importir daging sapi dan distributor daging olahan akan menghadapi kenaikan biaya bahan baku signifikan (kenaikan 5,8% dalam 5 bulan), memaksa penyesuaian harga jual yang dapat menekan volume penjualan di tengah daya beli yang melemah. Margin bersih perusahaan seperti Japfa Comfeed dan Charoen Pokphand Indonesia (TPIA/Central Proteina Prima? — sebenarnya Japfa dan Charoen adalah unggas) lebih terpapar lewat biaya pakan, tetapi impor daging sapi langsung seperti dari perusahaan daging sapi lokal juga terpengaruh.
  • Peternak ayam lokal terkena dampak ganda: biaya pakan (terutama jagung impor dan bungkil kedelai) ikut naik karena korelasi harga komoditas global, sementara harga jual ayam mungkin tidak bisa naik secepat itu karena siklus produksi unggas yang cepat. Jika peternak tidak bisa membebankan biaya, margin akan tertekan dan bisa memicu pengurangan populasi ayam — seperti yang sudah terlihat di siklus sebelumnya.
  • Sektor HORECA dan restoran berbasis daging akan menghadapi tekanan biaya. Restoran cepat saji (seperti Fast Food Indonesia) dan hotel berbintang bisa menaikkan harga menu, tetapi untuk restoran skala kecil menengah, kenaikan harga dapat menurunkan jumlah pelanggan. Dalam jangka 3-6 bulan, tekanan ini bisa memicu perlambatan sektor kuliner yang sebelumnya menjadi penopang konsumsi domestik.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: harga daging sapi dan ayam di pasar tradisional Indonesia (data mingguan Bapanas) — jika dalam 2 minggu harga daging sapi naik >5% dari level saat ini, itu menandakan transmisi global ke lokal sudah terjadi.
  • Risiko yang perlu dicermati: keputusan pemerintah mengenai kuota impor daging sapi dan tarif bea masuk — jika pemerintah memangkas kuota impor untuk menghemat devisa, harga domestik bisa naik lebih tajam, sebaliknya jika menambah kuota, APBN semakin terbebani subsidi.
  • Sinyal penting: laporan FAO selanjutnya (Juli 2026) yang bisa memberikan update tentang pasokan Brasil dan Australia — jika produksi Brasil tidak pulih, harga daging sapi global bisa naik lebih lanjut. Juga, data inflasi CPI Indonesia bulan Juni (rilis awal Juli) akan menjadi indikator pertama seberapa besar dampak kenaikan harga pangan global sudah dirasakan konsumen Indonesia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.