5 NOV 2026
← Kembali
Beranda / Makro / Harga Ayam Sulit Turun Usai MBG, Ukuran Menyusut
Makro

Harga Ayam Sulit Turun Usai MBG, Ukuran Menyusut

Tim Redaksi Feedberry ·5 November 2026 pukul 09.59 WIB · Sinyal menengah · Sumber: Detik Finance ↗
6 Skor

Harga ayam yang sulit turun menyentuh inflasi pangan, daya beli rumah tangga, dan biaya program MBG, tetapi dampaknya belum sistemik ke pasar keuangan.

Urgensi
5
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7
Analisis Komoditas
Komoditas
Daging ayam
Harga Terkini
Rp38.000–Rp50.000 per ekor di Pasar Tebet Barat; Rp36.000 per ekor di Pasar Tebet Timur
Faktor Supply
  • ·Ukuran ayam yang dijual mengecil
  • ·Pasokan di Pasar Tebet Timur dinilai aman oleh pedagang
Faktor Demand
  • ·Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut pedagang memicu kenaikan harga
  • ·Libur sekolah membuat harga turun drastis menurut pedagang

Ringkasan Eksekutif

Pedagang ayam di Jakarta melaporkan harga daging ayam belum kembali ke level sebelum program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan, harga ayam potong dijual Rp38.000, Rp45.000, hingga Rp50.000 per ekor, tergantung ukuran. Di Pasar Tebet Timur, harga terpantau Rp36.000 per ekor dan dinilai masih normal dengan pasokan aman. Pedagang bernama Herli mengatakan harga sebenarnya sudah turun setelah sempat naik, tetapi penurunannya tidak kembali ke standar lama. Ia menduga MBG ikut memengaruhi pergerakan harga, dan mencontohkan harga sempat turun drastis saat libur sekolah. Ia juga menyebut ukuran ayam yang dijual semakin kecil, sehingga sebagian konsumen mengeluhkan harga tidak sebanding dengan ukuran.

Fakta ini penting karena menempatkan MBG bukan hanya sebagai program belanja pemerintah, tetapi juga sebagai sumber permintaan baru di rantai pasok protein hewani. Herli mempertanyakan mengapa harga ayam tetap tinggi di hari biasa, padahal kenaikan menjelang Lebaran dianggap wajar. Pola itu menunjukkan harga eceran tidak sekadar mengikuti musim keagamaan, melainkan merespons perubahan permintaan yang lebih persisten.

Dalam jangka pendek, pasokan ayam tidak serta-merta bertambah ketika permintaan institusional naik. Jika volume pembelian untuk MBG menyerap pasokan di hilir, pedagang pasar menerima barang dengan harga lebih tinggi atau ukuran lebih kecil. Di titik itu, beban program tidak hanya muncul di anggaran, tetapi juga di harga yang dibayar rumah tangga. Dampaknya paling langsung terasa pada rumah tangga berpendapatan rendah, warung makan, katering, dan produsen makanan olahan berbahan ayam. Konsumen membayar lebih mahal per ekor, atau menerima bobot yang lebih kecil untuk harga yang sama. Bagi usaha makanan, ini menekan margin karena harga jual di tingkat warung dan jajanan sulit dinaikkan sekaligus. Peternak dan pemasok sebenarnya menerima sinyal permintaan yang kuat, tetapi respons pasokan membutuhkan waktu.

Keterlambatan penyesuaian itulah yang membuat harga bertahan tinggi. Artikel juga mencatat harga daging sapi di Pasar Tebet Barat dan Tebet Timur berada di Rp160.000–Rp180.000 per kilogram, naik dari Rp150.000 per kilogram dan belum turun sejak Idul Adha. Kombinasi ayam yang sulit turun dan sapi yang belum terkoreksi menunjukkan tekanan pangan hewani tidak berdiri sendiri.

Mengapa Ini Penting

Yang berubah bukan hanya harga ayam, melainkan cara program bantuan pangan pemerintah masuk ke rantai pasok protein. Jika permintaan institusional naik sementara pasokan tidak responsif, harga eceran menjadi saluran kedua biaya program — di luar anggaran, ditanggung rumah tangga dan pelaku usaha makanan.

Dampak ke Bisnis

  • Pedagang ayam potong dan konsumen rumah tangga menanggung harga eceran yang belum kembali normal; di Pasar Tebet Barat harga masih Rp38.000–Rp50.000 per ekor, sementara Pasar Tebet Timur Rp36.000 per ekor.
  • Warung makan, katering, dan produsen makanan olahan berbahan ayam akan menghadapi biaya bahan baku yang lebih kaku; jika ukuran ayam mengecil, biaya per porsi bisa naik meski harga per ekor terlihat sama.
  • Peternak dan pemasok ayam menghadapi sinyal permintaan yang kuat dari program MBG, tetapi respons pasokan butuh waktu; keterlambatan penyesuaian membuat harga bertahan dan berisiko menekan daya beli kelompok rumah tangga berpendapatan rendah.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: harga ayam potong harian di Pasar Tebet Barat dan Pasar Tebet Timur dalam 1–4 pekan — apakah bertahan di Rp38.000–Rp50.000 per ekor atau bergerak mendekati Rp36.000 per ekor yang disebut pedagang sebagai level normal.
  • Risiko yang perlu dicermati: ukuran ayam yang terus mengecil — jika berlanjut, konsumen membayar harga lebih tinggi untuk bobot lebih rendah, dan keluhan kualitas bisa menekan permintaan.
  • Sinyal penting: harga daging sapi yang disebut Rp160.000–Rp180.000 per kilogram dan belum turun sejak Idul Adha — jika bertahan, tekanan pangan hewani tidak hanya terbatas pada ayam.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.