19 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Pasar / Goldman Proyeksi Brent Turun ke USD80 pada 2027
Pasar

Goldman Proyeksi Brent Turun ke USD80 pada 2027

Tim Redaksi Feedberry ·18 Oktober 2026 pukul 23.00 WIB · Sinyal tinggi · Sumber: IDXChannel ↗
7.3 Skor

Proyeksi ini bukan kejadian hari ini, tapi arahnya menentukan biaya energi, subsidi, dan neraca dagang Indonesia selama dua tahun anggaran ke depan — dengan premi risiko hampir USD25 per barel yang masih bisa berbalik arah.

Urgensi
6
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8
Analisis Komoditas
Komoditas
Minyak Mentah (Brent)
Harga Terkini
Brent berjangka USD109,86 per barel; Brent fisik pengiriman jangka pendek di atas USD130 per barel
Perubahan Harga
+3,72%
Proyeksi Harga
Brent diperkirakan USD90 per barel pada Desember 2026 (naik dari proyeksi sebelumnya USD85), sebelum rata-rata USD80 per barel pada 2027; harga saat ini memuat premi risiko hampir USD25 per barel yang dapat bertahan lebih lama bila konflik AS–Iran kembali meningkat.
Faktor Supply
  • ·Pemulihan ekspor minyak dari Timur Tengah ke kisaran rata-rata 2025 pada akhir September
  • ·Peningkatan produksi di luar kawasan Teluk Persia
  • ·Kemampuan eksportir beradaptasi dengan konflik dan memperluas kapasitas transportasi
  • ·Persediaan global yang mendekati rekor terendah menahan penurunan harga lebih cepat
Faktor Demand
  • ·Konsumsi minyak global kuartal III-2026 turun 3,3 juta barel per hari secara tahunan
  • ·Pelemahan permintaan terkonsentrasi di China, Timur Tengah, dan negara maju Asia
  • ·Permintaan kuartal IV-2027 diperkirakan masih 0,7 juta barel per hari di bawah skenario tanpa guncangan konflik, antara lain akibat percepatan adopsi teknologi substitusi

Ringkasan Eksekutif

Goldman Sachs memproyeksikan Brent rata-rata USD80 per barel pada 2027, turun dari posisi kini yang masih di atas USD100. Untuk Desember 2026, bank itu menaikkan proyeksi dari USD85 menjadi USD90 per barel — revisi naik yang mengisyaratkan harga tinggi bertahan lebih lama dari perkiraan awal. Kesenjangan di pasar fisik lebih lebar lagi: Brent fisik untuk pengiriman jangka pendek sudah melewati USD130 per barel, sementara kontrak berjangka berada di atas USD100 dan tercatat USD109,86. Goldman menghitung harga saat ini memuat premi risiko hampir USD25 per barel. Premi itu yang menjadi inti cerita. Goldman mencatat defisit pasokan global menyempit tajam: dari 7,2 juta barel per hari pada Maret menjadi 0,3 juta barel per hari pada September.

Ekspor dari Teluk Persia sudah pulih ke kisaran rata-rata 2025 pada akhir September, ditopang kemampuan eksportir beradaptasi dengan konflik dan memperluas kapasitas transportasi. Pasar diperkirakan beralih ke surplus pada kuartal IV-2026 dan bertahan surplus sepanjang 2027. Namun penyempitan defisit tidak sepenuhnya kabar baik. Konsumsi minyak global pada kuartal III-2026 turun 3,3 juta barel per hari secara tahunan, terkonsentrasi di China, Timur Tengah, dan negara maju Asia. Sebagian keseimbangan baru itu lahir dari permintaan yang rusak, bukan hanya pasokan yang lancar. Bagi Indonesia, jalurnya lewat harga dan kurs. Sebagai importir minyak netto, Brent di USD109,86 menaikkan nilai impor migas, menekan neraca perdagangan, dan memperbesar beban subsidi energi dalam APBN.

Rupiah di 17.943 memperkuat transmisi itu karena tagihan impor didominasi dolar, sementara IHSG di 5.185 mencerminkan sentimen risk-off yang belum pulih. Sektor hulu migas dan jasa penunjangnya masih menikmati windfall selama premi risiko bertahan, tetapi proyeksi USD80 pada 2027 adalah peringatan bahwa pendapatan itu tidak permanen. Yang luput dari headline: jika minyak benar-benar turun, kaitan biodiesel berpotensi menyeret CPO — dan pasar sudah memberi isyarat tidak biasa, dengan AALI sebagai proksi CPO justru turun 9,54% di tengah minyak mentah yang naik.

Mengapa Ini Penting

Pasar memperdagangkan kontrak berjangka, bukan minyak fisik — sehingga selisih antara keduanya adalah ukuran langsung seberapa rapuh harga saat ini. Selama premi risiko hampir USD25 per barel bertahan, biaya energi Indonesia tetap di level tinggi. Yang lebih jarang disadari: penurunan konsumsi global 3,3 juta barel per hari secara tahunan adalah sinyal pelemahan ekonomi dunia, dan itu berbahaya bagi ekspor batu bara, nikel, serta CPO Indonesia — komoditas yang selama ini menopang surplus dagang. Jadi skenario harga minyak murah pada 2027 tidak otomatis menguntungkan, karena datang bersama permintaan global yang lebih lemah.

Dampak ke Bisnis

  • Importir dan anggaran negara menanggung beban ganda: Brent di USD109,86 dengan rupiah di 17.943 membuat tagihan impor migas dan asumsi subsidi energi tetap berat sepanjang sisa 2026, sebelum manfaat harga lebih rendah pada 2027 terealisasi.
  • Emiten hulu migas dan jasa penunjang energi masih menikmati windfall selama premi risiko bertahan, tetapi proyeksi USD80 pada 2027 mengisyaratkan pendapatan dan margin mereka memuncak lebih cepat dari yang diantisipasi pasar — dan itu belum tercermin pada ekspektasi setahun penuh.
  • Sektor yang jarang disebut: produsen CPO dan eksportir biodiesel, karena harga minyak adalah patokan nilai ekonomi biodiesel. Bila minyak turun pada 2027, insentif pencampuran bisa menyusut, sementara divergensi AALI yang turun 9,54% di tengah minyak naik menunjukkan pasar sudah meragukan kaitan itu bekerja dalam kondisi sekarang. Sektor transportasi dan logistik juga menerima dampak tidak langsung melalui kebijakan harga BBM domestik.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: selisih Brent fisik (di atas USD130) versus kontrak berjangka (di atas USD100) — penyempitan yang cepat menandakan premi risiko mulai lepas, sehingga harga bisa turun lebih tajam dari proyeksi USD90 pada Desember 2026.
  • Risiko yang perlu dicermati: eskalasi kembali konflik AS–Iran — Goldman secara eksplisit menyebutnya sebagai faktor yang menahan harga tinggi lebih lama, yang berarti defisit APBN dan biaya impor energi Indonesia tetap tertekan.
  • Sinyal penting: revisi berkala proyeksi Goldman dan sikap eksportir Teluk Persia — pemulihan ekspor ke rata-rata 2025 dan peralihan ke surplus pada kuartal IV-2026 adalah asumsi inti tesis USD80; bila salah satunya meleset, jadwal penurunan harga bergeser.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.