17 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Makro / FTA EAEU Dikejar Rampung, Sawit-Kakao Bidik Pasar Rusia
Makro

FTA EAEU Dikejar Rampung, Sawit-Kakao Bidik Pasar Rusia

Tim Redaksi Feedberry ·17 Oktober 2026 pukul 15.43 WIB · Sinyal tinggi · Sumber: Katadata ↗
5.3 Skor

Nilai dagang RI-Rusia baru US$4,84 miliar dan ratifikasi FTA belum berlaku, tetapi cakupannya melebar ke sawit, kopi, kakao, tekstil, dan furnitur — sektor yang justru sedang tertekan dan butuh pasar alternatif.

Urgensi
4
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu Deputi Pertama Perdana Menteri Rusia Denis Manturov di Bogor pada 16 Oktober untuk membahas perluasan ekspor minyak kelapa sawit, kopi, kakao, dan produk pertanian lain ke Rusia serta kawasan Eurasia. Pertemuan itu menindaklanjuti pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Vladimir Putin di Vladivostok pada September 2026 dan Sidang Komisi Bersama ke-14 RI-Rusia di Kazan pada Mei. Nilai perdagangan kedua negara sepanjang 2025 tercatat US$4,84 miliar, naik 21,6% dari US$3,98 miliar pada 2024. Delegasi bisnis Rusia juga hadir di Trade Expo Indonesia 2026. Elemen yang paling menentukan bukan pertemuan bilateralnya, melainkan status perundingan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement. Proses ratifikasi perjanjian itu disebut telah mendekati tahap penyelesaian, dengan harapan seluruh prosedur tuntas sebelum akhir 2026.

Cakupannya melampaui komoditas mentah: sawit, kopi, kakao, tekstil, dan furnitur. Artinya, dampak nyata kesepakatan ini baru terasa pada tahun pertama perjanjian berlaku, bukan pada kuartal berjalan. Yang dihasilkan pertemuan Bogor sendiri masih berupa komitmen dan kontak antarpelaku usaha — bukan kontrak dagang yang sudah diteken. Bagi sektor riil, urutan dampaknya berlapis. Produsen sawit, kopi, dan kakao mendapat jalur ekspor baru ke pasar yang secara politik terbuka, pada saat pasar tradisional Eropa semakin menuntut kepatuhan bebas deforestasi. Kalau itu tidak terpenuhi, eksportir perlu pasar alternatif, dan Rusia berada di daftar itu. Perluasan ke tekstil dan furnitur memiliki bobot different: kedua sektor ini padat karya, sangat sensitif pada pelemahan pesanan ekspor, dan menjadi penyerap tenaga kerja besar.

Akses pasar baru di kawasan Eurasia memberi opsi diversifikasi tujuan, meski volumenya tidak akan langsung menggantikan pasar utama. Konteks pasar juga menentukan kecepatan respons pelaku usaha. Rupiah berada di Rp18.000 per dolar AS, yang secara transaksional menguntungkan eksportir karena setiap dolar penerimaan bernilai lebih besar dalam rupiah, sekaligus menaikkan biaya komponen yang masih diimpor. Di saat bersamaan, IHSG berada di 5.185 dengan koreksi 11,57% dan AALI di 7.825 melemah 9,54%, menandakan sentimen risk-off yang membuat berita dagang bersifat jangka panjang tidak langsung mengangkat valuasi. Brent di US$109,86 menambah beban biaya energi dan logistik pengapalan.

Mengapa Ini Penting

Perdagangan RI-Rusia memang kecil dibanding mitra utama Indonesia, tetapi arah kebijakannya jelas: membangun jalur ekspor yang tidak bergantung pada pasar Barat. Kombinasi FTA dengan blok Eurasia dan perluasan komoditas ke tekstil serta furnitur menunjukkan strategi diversifikasi tujuan, bukan sekadar jualan sawit. Bagi eksportir yang selama ini terkunci pada persyaratan bebas deforestasi di Eropa, keberadaan pasar alternatif mengubah posisi tawar mereka — meski baru efektif setelah ratifikasi tuntas.

Dampak ke Bisnis

  • Eksportir sawit, kopi, dan kakao memperoleh jalur pemasaran tambahan ke Rusia dan kawasan Eurasia, dengan nilai dagang bilateral yang sudah tumbuh 21,6% pada 2025 menjadi US$4,84 miliar — momentum yang lebih kuat dari pertumbuhan pasar tradisional.
  • Produsen tekstil dan furnitur — dua sektor padat karya yang tidak disebut sebagai pihak utama dalam pertemuan tetapi masuk cakupan FTA — berpotensi mendapat akses pasar baru saat pesanan dari pasar lama melambat; dampaknya terasa pada serapan tenaga kerja di sentra industri seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah.
  • Rantai pendukung ikut terdorong: logistik, pengemasan, dan pengendalian mutu di sentra perkebunan dan kawasan industri, terutama bila kontak bisnis di Trade Expo Indonesia berubah menjadi kontrak pengiriman riil.
  • Dampak yang baru terasa lebih jauh: kepastian ratifikasi menentukan apakah manfaat tarif benar-benar berlaku mulai 2027, sehingga perencanaan kapasitas ekspor pelaku usaha bergantung pada tenggat prosedur yang hingga kini masih berupa harapan, bukan kepastian.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: penyelesaian prosedur ratifikasi I-EAEU — jika tuntas sebelum akhir 2026 sesuai target, berlaku efektifnya perjanjian menjadi titik mulai insentif tarif bagi eksportir sawit, kopi, kakao, tekstil, dan furnitur.
  • Risiko yang perlu dicermati: kompleksitas pembayaran lintas batas dan kepatuhan transaksi dengan Rusia — bila jalur penyelesaian pembayaran tersendat, komitmen dagang bisa berhenti di tahap penandatanganan tanpa pengiriman riil.
  • Sinyal penting: realisasi kesepakatan bisnis dari delegasi Rusia di Trade Expo Indonesia 2026 — kontrak pembelian yang benar-benar diteken menjadi penanda apakah perluasan akses pasar ini berjalan atau hanya bersifat seremoni.
  • Yang perlu diawasi: arah kurs rupiah di sekitar Rp18.000 per dolar AS dan pergerakan harga CPO — kombinasi keduanya menentukan seberapa besar nilai insentif ekspor yang benar-benar diterima produsen setelah biaya input impor diperhitungkan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.